Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Teman Tertawa Banyak,Teman Menangis Takkan Pernah Ada


__ADS_3

Sudah dua hari setelah Atika menolak niat baik Rafa dan Bibi Lana, tak membuat semangat Atika berkerja sebagai kuli di jalan.


Atika tidak tahu, selama dua hari ini ada seseorang yang selalu menguntitnya, di pagi hari dan malam hari.


Semenjak Atika menolak permintaan maaf Rafa, dan menolak kembali bekerja di Vila, membuat Rafa selalu diam-diam memperhatikan Atika di gubuknya, di balik pohon rindang tidak terlalu jauh dari gubuk Atika.


Rafa sadar akan kesalahannya, tidak ingin memaksa Atika, dan tidak semudah harapannya, Atika memaafkan perlakuannya.


Di usir tanpa bertanya apa alasan, berkata kasar bahkan di tuduh mencuri makanan, tentu Atika merasakan sakit hati.


Atika memang sering mendapatkan perkataan kasar, namun cara yang Rafa lakukan pada Atika malam itu membuat Atika sakit tak berdaya.


Bagi Atika, sebutir nasi sangat berharga dan berarti bagi Atika, namun Rafa yang tak berperasaan dengan mudahnya, melempar makanan itu tanpa rasa berdosa.


Kejadian itu begitu membekas bagi Atika.


Ayahnya yang lapar dan berharap Atika membawa makanan, terpaksa hanya makan sepotong roti, bahkan Atika menangis bila mengingat makanan yang berserak di tanah waktu itu, padahal itu hanya makanan sisa.


Sebelum pergi bekerja, Atika lebih dulu menyuapi ayahnya sarapan pagi, Atika membawa Ayahnya keluar dari gubuk, dengan kursi roda untuk menikmati matahari pagi.


Atika pun menyuapi ayahnya, meski hanya nasi dan mie instan, Atika tetap bersyukur masih bisa memberi ayahnya makan, walau apa adanya.


Kegiatan pagi itu tak luput dari sepasang mata yang setiap pagi mengawasi Atika.


Rafa yang melihat makanan yang di supakan Atika pada ayahnya, mengepalkan tanganya, geram pada dirinya sendiri, seandainya Rafa tidak bertindak bodoh malam itu, Atika tidak akan membencinya, dan bisa membantu Atika menyembuhkan ayah Atika, bahkan memakan makanan yang cukup bergizi dari Vilanya.


Rafa tak sanggup melihat lebih lama lagi keadaan Atika dan Ayahnya, yang membuat dada Rafa sesak, Rafa pun kembali ke Vila dengan perasaan campur aduk.


Atika pun meninggalkan Ayahnya pergi bekerja, selalu berusaha tepat waktu di tempat kerja, tak ingin mengecewakan Ali yang sudah menerima dan memberikan Atika pekerjaan.


Saat Atika berjalan, melewati beberapa rumah penduduk, ada beberapa gadis seumurannya menegur Atika, tawa mengejek, tatapan sinis, ucapan kasar, tak luput dari para gadis-gadis itu bila melihat Atika, entah apa yang membuat para gadis itu, membenci Atika, sementara Atika tidak pernah menganggu siapa pun, bahkan Atika tak punya teman, karena para gadis-gadis itu, merasa jijik melihat Atika yang selalu di pandang kumuh, apa lagi pakaian bekas yang di gunakan Atika, membuat para gadis itu, menertawakan setiap melihat Atika.


"Eh.!! ada gadis kumuh tuh.!


" Cih.! lihat wajah sok polosnya itu, di gunakan untuk mendapatkan baju bekas.!! ucap seorang gadis yang membenci Atika, selalu dapat perhatian dari penduduk sekitar.


Para gadis pun tertawa, melihat penampilan Atika yang memakai baju kebesaran.


"Hei.. gadis kumuh mau ke mana?? mau ngemis baju bekas lagi yah, atau mau ngutang di warung.??


Atika tak memperdulikan ejekan dan hinaan para gadis itu, tetap berjalan meski hatinya sakit mendengar hinaan dan ejekan itu, bagi Atika mereka lebih hina, yang sudah mengejeknya, padahal tak punya salah apa pun pada gadis-gadis itu.

__ADS_1


Langkah Atika terhenti, saat seorang gadis melemparkan sepotong roti tepat di kaki Atika.


Dukk


" Gadis kumuh pasti belum makan kan?? itu ambil.!! mumpung ada rezeki, ucap gadis itu tertawa mengejek Atika.


Atika melihat sepotong roti itu, sudah kotor terkena pasir, bahkan terlihat potongan roti yang sudah bekas gigitan, bagi Atika makanan secuil dan sekecil apa pun itu sangat berharga, Atika pun mengambil roti yang kotor itu, tak ingin melawan karena para gadis itu akan merarik rambut Atika bila tidak di turuti.


Dengan tangan gemetar dan mata yang berkaca-kaca Atika memasukkan ke mulutnya roti kotor itu, dan tawa para gadis pun pecah, karena Atika memakan roti itu, dan mereka begitu puas melihat Atika yang selalu bisa mereka tindas, dan selalu menurut.


Sambil berjalan Atika meneteskan air matanya, melihat tawa para gadis tadi, Atika hanya mendoakan dalam hatinya, agar tawa para gadis itu tidak berubah jadi tangis yang memilukan, seperti nasib Atika yang tak pernah menikmati tawa yang sebahagia para gadis itu.


Dalam perjalanannya Atika menguatkan hatinya, kejadian tadi tidak merubah semangatnya untuk bekerja.


Atika menyadari keadaannya yang tak mampu melawan dan membalas perbuatan para gadis itu, Atika hanya bisa pasrah dengan keadaannya.


Hanya satu kalimat terbersit dalam hati Atika, "teman tertawa memang banyak, tapi teman menangis tidak akan pernah ada" , ayo Atika jangan menyerah, kamu masih punya Tuhan yang melihatmu dari atas, kamu bisa melewati ini semua, ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Sementara di Vila, Rafa yang semakin tak sanggup melihat keadaan Atika, tak perduli Atika menerima atau pun marah, tekad Rafa sudah bulat, untuk membantu Atika.


Rafa pun memanggil Bibi Lana, untuk membicarakan tujuannya dan niatnya pada Atika dan ayahnya.


Bibi pun mengangguk, tanda mengerti ucapan Dewa, dan bergegas cepat menemui Rafa di ruang kerjanya.


Tok, tok, tok.


" Masuklah Bik, sahut Rafa dari dalam, setelah pintu di ketuk tiga kali oleh Bibi Lana.


"Tuan memanggil saya?? tanya Bibi saat membuka pintu.


"Duduklah Bik, aku ingin bicara dan bertanya satu hal pada Bibi, ucap Rafa terlihat serius.


" Ada yang bisa Bibi bantu tuan??


"Gubuk yang di tempati Atika itu, bukankah masih berdiri di tanah milikku?? ucap Rafa tak ingin mengulur waktu lagi.


Bibi pun terkejut mendengar ucapan tuan mudanya, dan berpikir Atika akan di usir dari gubuk itu, hingga tanpa bertanya maksud dari tuan mudanya itu, Bibi Lana langsung memohon pada Rafa agar tak mengusir Atika dari gubuk itu.


" Bibi mohon tuan, jangan mengusir Atika dari sana, Atika tidak punya tempat tinggal selain gubuk itu.


Rafa pun mengkerutkan keningnya bingung, dengan permohonan Bibi Lana, bukanya menjawab pertanyaan Rafa, Bibi Lana malah memohon tak jelas.

__ADS_1


"Maksud Bibi apa??


" Bukankah tuan berniat mengusir Atika dari gubuk itu??


"Bibi ini bicara apa.! saya menanyakan itu karena ingin membantu Atika, bukan mengusirnya.


" Maksud tuan??


"Begini Bik, mungkin cara ini akan menyakiti Atika, tapi tidak ada pilihan kecuali cara ini, ucap Rafa semakin membuat Bibi Lana bingung.


" Bibi kurang paham maksudnya tuan, ucap Bibi yang tak peka sama sekali.


"Karena tanah itu masih hak saya, saya akan memberi Atika pilihan, menerima bantuan saya, dan bekerja di vila ini, atau Atika angkat kaki dari gubuk itu.!


Deg


Bibi Lana pun langsung gemetar, mendengar penuturan tuan mudanya itu, jelas pilihan itu akan sangat berat bagi Atika pikir Bibi Lana, yang merasakan sesak di dadanya, membayangkan Atika di usir dari gubuk itu, hidup Atika akan semakin terlunta-lunta.


"Tuan, Bibi mohon jangan mengusir Atika, ucap Bibi yang sudah menangis masih tak peka dengan maksud Rafa.


" Bibi.! Rafa bukan mau mengusir Atika, saya bermaksud sedikit menekan Atika, atas hak saya pada tanah itu, dan memberi Atika pilihan, agar Atika tidak menolak bantuan dari saya lagi, ucap Rafa menjelaskan dan Bibi Lana pun paham tujuan ucapan tuan mudanya itu.


"Kalau Atika lebih memilih, pergi tuan?? tanya Bibi yang tak yakin Atika mau menuruti pilihan itu.


" Maka saya akan bertindak lebih jauh dari rencana ini, dan saya tak perduli bila Atika semakin membenci dan menganggap saya kejam, dan ini sudah keputusan saya.


Bibi Lana pun tak bisa bicara apa pun lagi, karena Bibi Lana tak punya hak melarang, dan sadar akan statusnya hanya sebagai Art di Vila itu.


"Kalau menurut Bibi, terserah tuan saja, semoga Atika tidak menolak dan memilih menerima maksud baik tuan, ucap Bibi Lana pasrah.


" Bibi jangan hawatir, saya tidak akan menyakiti Atika, dan saya akan menerima walau Atika akan membenci saya nantinya.


Bibi Lana pun keluar dari ruang kerja, pikirannya tidak tenang, kalimat, "angkat kaki" masih terngiang di telinga Bibi Lana.


Memikirkan nasib Atika yang begitu memiliki banyak beban, Bibi Lana tak bisa menahan tangis dan kesedihannya, hanya berdoa agar Atika tidak salah memilih keputusan.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.

__ADS_1


__ADS_2