Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Penyesalan Celi.


__ADS_3

Terkadang nasib baik atau buruk, seperti maling di tengah malam, kita tidak akan tahu telah kehilangan sesuatu yang berharga karena terlelap dalam kelenaan yang membuat kita untuk pasang mata dan terlinga, atau pun pasang hati.


Seperti nasib Celi saat ini, harapan yang ia dambakan selama ini, ternyata tidak seindah mimpi yang di hayalkannya.


Takdir yang memisahkan ia dari laki-laki yang pertama yang pernah mengisi hatinya, justru orang yang pertama itulah membuat Celi hancur dari masa depan dan segala impiannya.


Para pengawal Rafa yang membawa Celi, menyampaikan informasi pada Dewa, yang tugas mereka jadi berubah dari rencana awal, karena Celi bertindak di luar dugaan mereka.


"Jangan lakukan apa pun pada Nona Celi, sampai saya dan bos datang ke markas, ucap Dewa dalam sambungan telpon pada anak buahnya, yang membawa Celi ke markas.


Setelah Dewa menutup panggilan di ponselnya, Dewa pun menemui Rafa di ruangannya.


" Maaf bos, rencana berubah dari perkiraan kita, ucap Dewa setelah masuk ke ruangan Rafa.


"Maksudmu??


" Para anak buah kita terpaksa membawa Nona Celi ke markas, karena yang kita perkirakan hanya memberi peringatan pada Nona Celi, tapi ternyata Nona Celi, tidak semudah yang kita bayangkan untuk membuat mundur secara teratur, ucap Dewa menerangkan.


"Lalu apa yang mereka lakukan pada Celi??


" Saya mengatakan agar jangan berbuat apa pun, sebelun dapat perintah dari anda, ucap Dewa lagi.


"Siapkan keberangkatan kita ke sana sekarang aku mau tahu apa yang di inginkan Celi yang debebarnya, sahut Rafa memutuskan untuk menemui Celu secara langsung.


"Sesuai perintah anda bos, dahut Dewa pergi mengurus segala sesuatunya.


"Sebelum berangkat Rafa menghubungi momy nya, agar tidak mengatakan apa pun pada Atika. ia takut Atika berpikir yang tidak-tidak padanya, karena memutuskan menemui Celi.


" Halo mom.

__ADS_1


"Iya, ada apa Rafa??


" Mom, Rafa akan pergi menemui Celi hari ini juga, dan tolong agar Atika tidak tahu aku menemui Celi, karena Celi sudah bertindak yang mulai membuat Rafa, harus mengambil keputusan.


"Baiklah, tapi saran momy, bicara baik-baik pada Celi, jangan menyakitinya nak, momy mengerti situasi yang di alaminya, momy mohon, selesaikan secara baik, agar tidak merugikan siapa pun, ucap Felix memberi pandangan pada Rafa.


" Tentu mom, Rafa juga tak punya pikiran untuk membuat Celi lebih merasakan sakit, untuk itu Rafa menemuinya, dan bicara padanya secara baik-baik, sahut Rafa.


"Ya sudah, momy mendukungmu, dan cepatlah kembali kalau urusanmu sudah selesai, dan jangan buat Atika meragukanmu, ucap Felix yang tak ingin Rafa berubah pikiran saat bertemu Celi.


" Tentu mom, jangan hawatir, kalau begitu Rafa tutup, dan tolong jaga Atika untuk Rafa.


"Baiklah hati- hati, dan jangan gegabah sayang, ucap Felix dan memutuskan sambungan telponnya.


Rafa dan Dewa pun bergehas cepat, mereka sudah melakukan penerbangan dengan Jet pribadi, untuk memudahkan Rafa bisa secepatnya bergerak tanpa hambatan.


Rafa yang baru turun dari Jet, langsung memasuki mobilnya, ia tak ingin membuang waktu lagi, ingin secepatnya menuntaskan segala urusannya pada Celi.


Mobil pun memasuki area markas, Dewa yang sudah mengatakan pada anak buahnya agar tidak berbuat kasar pada Celi, menempatkan Celi di salah satu ruangan yang cukup baik.


Rafa pun melangkahkan kakinya, berjalan menuju ruangan di mana Celi di mereka tempatkan.


Saat pintu terbuka, Rafa melihat Celi yang duduk di kursi menatap keluar dari jendela kaca yang ada di ruangan itu.


Celi yang mendengar pintu terbuka, menoleh dan ia terkejut bahwa Rafa berdiri berjarak dua meter dari tempatnya duduk.


Celi tak dapat membendung air matanya, saat melihat sosok yang pernah begitu berarti pada dirinya, tapi semua itu sudah tidak berlaku apa pun saat ini, karena bagi Rafa Celi hanya masa lalu.


"Maaf, ucap Celi di sela tangisnya, menatap Rafa yang datar dan dingin saat menatapnya, tatapan yang terlihat banyak kekecewaan, sangat menyesakkan dada Celi.

__ADS_1


" Aku sudah memaafkanmu, dan aku tak ingin ada sesuatu membuat kita semakin saling membenci, dan aku menemuimu, bukan karena ingin hubungan di antara kita kembali seperti dulu, ucap Rafa membuat Celi semakin pilu, dan menyadari, bahwa Rafa tak dapat untuk ia gapai lagi.


"Ya, kau benar dan aku sudah berharap yang tak pantas bisa aku raih, maaf karena aku mengusikmu, cinta yang masih tersimpan di hatiku, membuat aku lupa akan keadaan yang sudah tak sama lagi, ucap Celi menangis tertunduk.


"Aku tak pernah membencimu, hanya saja aku kecewa dengan kepercaan dan cinta kita, kau menghancurkan dengan waktu semalam saja, dan aku hanya berharap kau tidak melakukan hal yang membuat harga dirimu semakin buruk, dan aku ingin kita sama-sama bisa melupakan dan hidup dengan alur masing-masing, ucap Rafa membuat Celi semakin menyesal, telah bertindak bodoh.


" Ya, kau benar, seharusnya aku tidak melakukan hal yang semakin membuatmu kecewa, dan membuat harga diruku semakin buruk, dan kau pantas mendapatkan kebahagianmu bersama wanita yang bisa menjaga kehormatannya, dengan kepercayaan yang sudah tertanam dalam hubungan kalian, ucap Celi yang merasakan hatinya bagai tertusuk ribuan duri, mengucapkan kata-kata yang juga menyakiti dirinya sendiri.


"Kembalilah pada orang tuamu, mereka merindukanmu, jangan buat mereka lebih menderita, dengan kau yang pergi dengan membawa luka, setiap orang punya masalah yang berbeda-beda, dan aku tahu kau bisa melalui ini semua, ucap Rafa yang ingin Celi kembali pada ke kehidupannya yang dulu, walau tidak seperti sedia kala lagi.


"Terima kasih, sudah menghawatirkanku, dan aku tidak ingin hidupku sia-sia, dan kau benar, semua orang punya masalah, dan lari dari kenyataan tidak membuat sesuatu akan menjadi lebih baik, justru akan semakin buruk, ucap Celi yang lega, dari bayang-bayang penyesalannya.


"Aku mau tanya satu hal padamu, dan jawablah dengan jujur, ucap Rafa menatap Celi dalam, dan di angguki Celi.


" Saat kau bertemu dengan Rendra, apa perasaanmu masih sama pada saat kalian masih bersama?? tanya Rafa yang berharap Celi jujur.


"Jujur, aku memang merasakan debaran itu, debaran di saat Rendra menyatakan perasaannya padaku, tapu karena saat itu aku sudah bersamamu, aku menepisnya, karena tak ingin membuat kau kecewa, namun takdir berkata lain, ucap Celi jujur tak ingin menyembunyikannya dari Rafa.


"Kembalilah pada Rendra, jawabanmu sudah cukup bagiku mengetahui, kalau kau masih ada perasaan padanya, walau pun sudah tidak sebesar yang dulu, dan kau kecewa dan membencinya saat ini, tapi yakinlah, memaafkan bukan berarti kita lemah, dan aku yakin Tuhan memang menakdirkanmu pada Rendra, bukan denganku, dan aku mendukungmu dalam hal ini, berdamailah dengan hatimu, hapus kenangan buruk, dan hiduplah dengan masa depan yang baru, ucap Rafa membuat Celi semakin terisak, sungguh Rafa begitu berhati besar, dan sangat baik, masih memikirkan nasib Celi yang sudah menorehkan luka pada Rafa.


"Saranmu tidak terlalu buruk, tapi untuk saat ini, biarkan aku menata hatiku dulu, dan menyiapkan diriku untuk bisa menemui dan menerima Rendra, dan aku mohon rahasiakan untuk sementara waktu keberadaanku pada momy dan dady juga Nana, saat aku siap aku akan mengatakan padamu, juga izinkan aku tinggal di markasmu ini, agar kenyamananku terjamin, ucap Celi yang sudah memetuskan langkahnya.


" Kau boleh tinggal selama yang kau mau, dan aku senang kau bisa tegar dan menerima kenyataan, dan kalau kau sudah membuat keputusan, hubungi aku, dan aku akan melakukan yang terbaik untukmu, ucap Rafa memeluk Celi, bagai mana pun Celi pernah jadi wanita yang begitu berharga dalam hidupnya, membantunya melewati keterpurukan Celi bukan hal yang tidak pantas, walau Rafa pernah tersakiti, tapi lebih melihat dari sisi baik yang pernah Celi lakukan.


Next.


Jangan lupa jejaknya ya Guys, maaf karena ngak UP kemarin, Arthor kemarin mengikuti rapat seharian penuh, maaf kalau sudah buat kalian para pembaca setiaku kecewa, semoga kalian bahagia, dan rezeki selalu menghampiri kita semua.


Salam Arthor

__ADS_1


__ADS_2