
Atika tetap bersikeras untuk tinggal, meski semua orang sudah membujuknya, dengan alasan yang atika yang sedang mengandung, namun, Atika tetap pada keputusannya.
Rafa yang berharap istrinya paham dengan kekhawatiran nya, tapi Atika malah mendiami Rafa karena tidak di ijinkan tinggal sementara waktu, sikap Atika yang demikian membuat Rafa pusing, istrinya sangat sulit di bujuk, padahal Rafa melakukan itu, karen takut terjadi apa-apa dengan istrinya, tapi mau bagai mana lagi Rafa, terpaksa mengalah, karena tak tahan istrinya mendiami nya, bahkan nggak mau makan.
"Jangan terlalu menuruti istrimu.! ujar pak Danu, yang tak ingin, menantunya terlalu menuruti permintaan Atika.
" Ayah benar, tapi ayah lihat sendiri kan, karena aku tak mengijinkan, bicara pun dia tak mau, apa lagi sekarang ngambeknya bertambah, nggak mau makan, ujar Rafa yang tak punya cara lagi, untuk membujuk istrinya itu.
"Tapi ayah, tidak bisa menjaga Atika seharian penuh, karena ayah juga bekerja, ayah takut terjadi apa-apa dengan nya, ujar pak Danu yang juga khawatir.
" Ayah nggak perlu khawatir, karena Rafa akan menempatkan beberapa pengawal untuk berjaga di sini, dan Bibi Lana akan sellau berada di samping Atika, dan aku sudah mencari pelayan baru khusus memasak dan Bibi Lana hanya menemani Atika, dan mempersiapkan kebutuhannya selama berada di sini, ujar Rafa, agar mertuanya itu tidak terlalu khawatir lagi.
"Kamu terlalu memanjakannya, itu membuat Atika semkin melunjak, dan akan sellau begitu terus nantinya, ujar pak Danu yang merasa menantunya begitu mudah menyerah dan di kelabui putrinya itu.
" Sudah lah ayah, asalkan Atika senang itu tidak jadi masalah untuk ku, lagian kan ada ayah juga di sini, yang bisa selalu mengingatkan Atika, ujar Rafa, terkekeh mendengar ucapan ayah mertuanya, karena tak bisa melarang Atika.
"Terserah kamu saja, kalau ayah nggak bisa melarang dan memaksa, toh ayah bicara juga nggak ngaruh sama istri kamu itu, ujar paj Danu, kesal dan membuat Rafa semakin terkekeh Lucu, melihat raut kesal dari pak Danu.
" Mungkin itu permintaan si baby pak Danu, ujar Felix yang juga tak mau keinginan menantunya nggak tersampaikan.
"Kalian terlalu mudah luluh, hanya karena dia ngambek dan nggak mau makan, padahal itu pasti hanya triknya saja, agar kalian mengijinkan nya tinggal, ujar pak Danu yang tahu betul sifat Atika.
" Biarkan saja lah pak, kalau tidak pada kami Atika bisa manja, lalu pada siapa lagi, lagian kan tinggal sementara saja nggak masalah, asal Atika senang, kami juga senang, ujar Aliando merasa menantunya bersikap demikian, karena tahu mereka sangat menyayanginya.
Pak Danu yang mendengar ucapan Aliando, tertegun, putrinya sangat beruntung punya mertua yang sangat pengertian, dan menganggap Atika seperti putrinya sendiri, pak Danu lega, tak lagi merasa takut, bila suatu saat terjadi sesuatu dan meninggalkan Atika, putrinya masih punya orang-orang yang tulus menyayanginya.
"Terima kasih, saya lega karena Atika tidak akan sendiri, bila saya suatu saat meninggalkan nya, putriku masih punya kalian yang begitu menyayanginya, ujar pak Danu haru.
" Ayah bicara apa sih?? ujar Rafa tak suka mendengar perkataan ayah mertuanya itu.
"Iya, pak Danu kenapa bicara begitu, tanya Felix yang juga tak suka mendengar ucapan pak Danu.
__ADS_1
" Saya hanya bersyukur, bukan apa-apa, Tuhan begitu baik, mempertemukan Atika pada orang-orang yang tulus juga baik, seperti kalian buk Felix dan pak Aliando, terlebih menantu saya, ujar pak Danu lagi.
"Itu karena Atika juga memiliki hati yang tulus juga baik pak, ujar Aliando yang tahu perasaan pak Danu saat ini.
" Dan tentunya ayah dan almarhum ibu, mendidik Atika dengan baik, dan tentunya hasilnya akan baik, ujar Rafa ikut memuji kedua mertuanya, yang memang mendidik Atika dengan cara yang terpuji, dan mengenalkan Atika dunia yang keras, hingga pribadi Atika terbentuk sebagai gadis yang kuat dan penuh perjuangan.
"Selama ini saya mengira kami akan hidup serba kekurangan, dan tidak pernah bermimpi bisa merasakan hidup yang seperti ini, mengingat saya dan Atika tidak bisa berbuat apa pun, dan kami hanya bisa melanjutkan hidup dari belas kasih orang-orang yang peduli pada kami, dan waktu itu, ingin rasanya saya mati saja, agar beban Atika berkurang, dan tidak lagi memikirkan saya yang hanya membebaninya, bahkan Atika sering bersandiwara saat pulang, agar saya tidak merasa jadi bebannya, dan saya tahu Atika bersikap pura-pura tegar, dan menyimpan kesedihannya, dan saya tahu Atika setiap malam menangis dalam tidurnya, tapi saya tidak bisa berbuat apa pun, dan saya tahu Atika menangis karena sering di hina orang-orang, tapi Atika menutupi itu dari saya, agar saya tidak terbebani dan Atika menanggung sendiri sakit, tak pernah berbagi pada saya, bersikap tak terjadi apa pun, selalu tersenyum di depan saya, padahal ia menyimpan banyak beban, itulah kenapa saya bicara demikian, karena saya merasa Atika bisa hidup bahagia, meski tanpa saya kelak, karena saya yakin kalian tidak akan meninggalkan putriku Atika, karena ketulusan dan kasih sayang kalian yang saya lihat begitu tulus, ujar pak Danu, menghapus air matanya yang menetes, mengingat putrinya yang tidak pernah menyerah dan tetap berjuang walau sakit bertubi-tubi menghampirinya.
"Anda tahu pak Danu?? anda lebih beruntung dari saya, anda mensyukuri semua ini tanpa ada beban yang tertinggal, tidak seperti saya yang masih terbebani rasa bersalah, ujar Aliando yang ingin berbagi kisahnya pada besannya itu.
" Maksud bapak?? tanya pak Danu tak paham maksud ucapan besannya itu.
"Dad.! ujar Felix yang tahu maksud perkataan suaminya itu.
" Tidak apa mom, dady hanya ingin berbagi pengalaman pada besan kita, agar pak Danu tahu, kita bisa seperti saat ini, juga melalui half yang sulit, dan tidak mudah apa lagi momy yang sama persis dengan menantu kita, ujar Aliando, agar istrinya tidak menghalanginya menceritakan kisah mereka di masa lalu.
"Tapi dad, ujar Rafa tak ingin dady nya mengingat masa lalu itu, ia tahu sampai saat ini dady nya, belum bisa memaafkan dirinya sendiri, meski sudah bertahun-tahun lamanya, tapi dady nya masih saja merasa bersalah.
" Biarkan dady cerita Rafa, tidak ada yang perlu di tutupi, kita ini keluarga, dan pak Danu harus tahu, bahwa dady dulunya bukan lah orang yang cukup baik, ujar Aliando, membuat pak Danu semakin penasaran.
"Saya sempat menolak, tapi karena papi saya mengancam saya, saya akhirnya menerima perjodohan itu, dan kami menikah, karena terlalu bench dan kesal, dan menilai istri saya hanya berpura-pura baik, saya pun berpikir untuk menyiksa istri saya, agar istri saya menyerah dan minta cerai dari saya karena tak tahan dengan siksaan dari saya.
"Dan ternyata benar, istri saya tidak tahan karena tak sanggup mendapat siksaan setiap hari dari saya, hingga akhirnya ia pergi dan memutuskan untuk bercerai, dan ia pun menggugat saya, dan akhirnya kami bercerai.
" Papi dan mami saya sangat kecewa, saat tahu saya sangat tidak punya hati dan menyiksa istri saya hingga kami berujung pisah, dan mami saya pun jatuh sakit karena merasa bersalah pada Felix, secara tak langsung mami saya merasa sudah membuat Felix menderita karena keputusan mereka yang menikahkan saya pada Felix, dan Felix akhirnya pergi dari kehidupan kami.
"Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan berlalu, Felix tak lagi pernah muncul dalam kehidupan ku, dan setelah tahu kebenarannya, saya pun menyesali perbuatan saya yang tak terpuji, hingga saya mencari keberadaan Felix di semua tempat, tapi tidak juga ketemu, sementara mami saya masih sakit-sakitan, karena memikirkan Felix yang tidak ada kabar sedikit pun.
"Papi saya yang tidak tega melihat keadaan mami saya, yang terus berharap agar Felix di temukan, menyuruh orang kepercayaannya mencari keberadaan istri saya, dan keberadaan dan tempat tinggal istri saya pun di temukan.
" Saat saya di beri tahu keberadaan istri saya sudah di temukan, saya pun langsung pergi menemui Felix, yang bekerja di keluarga Baskoro, saya tidak lagi memikirkan harga diri, demi mami saya, saya memohon agar istri saya mau menemui mami saya yang sudah lama berada di rumah sakit, dan akhirnya Felix pun mau menerima permohonan saya, dan datang menemui mami saya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Di mulai dari pertemuan itu, saya pun berusaha kembali, meluluhkan hati istri saya, yang sudah saya sakiti dengan tidak punya pri kemanusiaan, dan tanpa perasaan juga hati nurani.
"Usaha saya pun membuahkan hasil, dan Felix memberi saya kesempatan kedua, dan kami pun kembali menikah lagi, dengan perjanjian pada papi dan mami saya, bila saya menyakiti istri saya lagi, saya tidak akan mendapat kesempatan ketiga, dan papi saya tidak akan lagi peduli pada saya, walau saya anak kandung nya, papi saya akan mencoret saya dari keluarga besar Widodo.
"Kami pun kembali membuka lembaran baru, dan Tuhan mempercayakan pada kami seorang anak, dan Felix pun mengandung Rafa. Namun saat sudah memasuki bulan keep tujuh, saya mendapat kabar dari filter kandungan istri saya, kabar yang membuat dunia saya runtuh, dan seolah saat itu saya berhenti bernafas, karena selama ini istri saya menyembunyikan rahasia besar tentang penyakitnya, dan sangat berakibat fatal pada kehamilannya, hingga saya harus menentukan pilihan, salah satu dari mereka, karena nyawa istri saya jadi taruhannya.
"Saya sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, istri saya tidak ingin mengorbankan putra kami, meski nyawanya jadi taruhan, asalkan ia bisa melahirkan putra kami saat itu.
" Tapi Tuhan masih begitu menyayangi kami, hingga kami mendapatkan informasi dari dokter kandungan, bahwa ada seorang dokter yang bisa menangani kasus seperti istri saya, dan kami sangat bahagia mendengar berita itu, dan langsung merekomendasikan dokter itu dari luar negri.
"Felix pun mendapat perawatan intensif, dan menjalani operasi cesar agar putra kami tertolong, lalu setelah itu baru bisa menangani penyakit yang di deritanya.
" Saat operasi berlangsung, tidak ada tanda yang mengkhawatirkan, namun saat putra kami berhasil di keluarkan, kami sangat bahagia terlebih saya, saat mendengar suara tangisan putra kami untuk yang pertama Kalinya, dan saya sangat bangga telah menjadi seorang ayah, namun lagi-lagi saya harus menerima kenyataan kalau putra kami masih harus di inkubator, karena usianya yang belum cukup untuk lahir normal, dan saya menerima itu dengan ikhlas.
"Namun belum sempat putra kami di masukkan ke dalam inkubator, kejadian tak terduga pun membuat kami semua tegang, dan dokter yang menangani istri saya mengatakan bahwa Felix tidak tertolong, dan sudah meninggalkan kami semua, hal itu membuat saya seperti orang bodoh, dan pikiran saya seolah kosong, membuat saya seperti orang gila, tak bisa menerima kenyataan, dan saya pun melakukan hal di luar nalar manusia, membuat semua yang melihat saya berpikir saya sudah gila, bahkan papi saya sangat marah kala itu, karena saya membawa putra kami ke ruang operasi, dan membaringkan Rafa di samping momy nya, saya berkata tidak mau merawat putra kami tanpa dia, kegilaan saya saat itu membuat semua orang sangat prihatin, karena saya tidak bisa menerima kenyataan.
"Namun siapa yang tahu kuasa Tuhan, istri saya kembali bernafas, mungkin karena ikatan batin yang kuat, saat mendengar tangis Rafa yang sangat kuat, bahkan saya melarang siapa pun, tidak boleh mengambil Rafa dari sisi istriku, dan Tuhan berkehendak lain, dan memberi saya kesempatan untuk menjaga dan membahagiakan mereka, dan saya berkali-kali mengucap syukur, dan berterima kasih, dengan keajaiban yang di berikan Tuhan.
"Hari-hari pun berlalu cepat, istri saya pun pulih setelah melalui koma cukup lama, dan menjalani perawatan terapi untuk menyembuhkan penyakitnya, berbulan-bulan, istriku tidak bisa merawat putra kami, bahkan Rafa tidak bisa merasakan asi dari momy nya, karena penyakit yang di deritanya.
"Hingga akhirnya semua berlalu, dan dari situlah aku tahu, bahwa istriku tidak ada duanya, perjuangannya sangat besar, tapi aku masih belum bisa memaafkan diriku yang pernah menoreh luka, bahkan menyiksa nya, aku berpikir, sangat tidak pantas mendapat maaf dari istriku, perbuatan ku di masa lalu sangat menyakitinya, mengingat pernah menyiksa nya dalam sakit yang tidak ku ketahui selama ini, dan aku tidak pantas di sebut sebagai laki-laki yang baik, dan hingga saat ini aku masih merasa bersalah, dan penyesalanku masih belum bisa terhapus kan dari diriku sendiri.
"Itulah sebabnya Felix tidak ingin putra kami mengulang hal yang sama seperti Saya, mengingat saya masih terbebani rasa bersalah, dan kami bersyukur putra kami tidak mengikuti sifat saya, dan itu karena istri saya mendidik putra kami dengan cara nya sendiri, agar putra kami tidak mengalami hal yang sama seperti saya, ujar Aliando yang menceritakan kisah masa lalu nya itu.
Felix yang tidak bisa membendung air matanya, menangis pilu, cerita suaminya memutar memory masa lalu dan perjuangan Felix kala itu, begitu berat cobaan dan ia melalui semua itu tidak lah mudah, dan setiap kesabaran, ketegaran, ketulusan pasti akan menang bila menjalani dengan ikhlas, dan tentunya percaya Tuhan sudah menyiapkan hal yang indah untuk setiap orang dan sudah tertulis dalam takdir masing-masing.
Rafa hanya bisa diam dan mencerna setiap cerita dan kisah masa lalu kedua orang tuanya, meski dia sudah mengetahui, dan momy nya sudah menceritakannya, tetap saja Rafa, merasa kisah momy dan dady nya, adalah Satu pengalaman yang berharga, dan dari situ dia mengambil kesimpulan, bahwa jangan pernah menilai orang dengan sebelah mata, dan miskin dan kaya bukanlah jadi satu tolak ukur untuk menilai orang lain, dan semua sama di hadapan Tuhan.
Sementara pak Danu, tertegun mendengar cerita besannya itu, tak bisa berkata apa-apa, melihat besannya adalah orang yang begitu terpandang, dan sangat kaya raya, berpikir tidak pernah mengalami perjalanan hidup yang memilukan, tapi ternyata kehidupan yang di jalani mereka juga cukup sulit dan penuh cobaan, dan putus asa bukanlah jawaban yang tepat untuk setiap cobaan, tapi harus siap menerima dan ikhlas serta menjalani dengan tulus.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor