
Tak habis pikir Dewa dengan kelakuan tuan mudanya itu, bahkan ia ingin sekali membalas sang tuan muda, tapi apa daya Dewa tidak akan bisa melakukan itu, dan hanya bisa berpasrah saja.
Sebelum melakukan aktivitasnya, Dewa kembali mengambil ponselnya yang sempat ia lemparkan karena kesal pada bosnya itu, dan kali ini ia berniat untuk bicara pada Cita soal undangan makan malam yang tuan mudanya katakan tadi.
Dewa mengirim pesan pada Cita, agar Cita datang ke ruangannya, karena ia akan membicarakan hal ini pada Cita, dan tentunya Dewa harus menanyai kesediaan Cita untuk ke sana, dan ia tak ingin Cita merasa tak nyaman nantinya, apa lagi pertemuan ini sangat mendadak.
Sementara Cita yang asik menikmati kopinya, mendengar notifikasi ponselnya berbunyi, Cita pun langsung memeriksa ponselnya, dan saat melihat Cita tersenyum tipis, karena yang mengiriminya pesan adalah sang kekasih hati, yang ia buat nama sesuai dengan nama sang pemilik cinta, "Dewa cintaku".
Cita pun membuka pesan masuk itu, dan saat ia membaca, keningnya sedikit mengerut karena berpikir, ini masih terlalu pagi untuk bertemu, apa Dewa cintanya itu sudah merindukannya? begitulah kira-kira pikiran Cita, hingga ia pun semakin tersenyum sendiri.
Cita pun menyimpan kembali ponselnya, setelah ia membaca pesan itu, dan bergegas pergi menemui sang Dewa cintanya itu.
Tok, tok..
"Masuk"
Sahutan dari dalam langsung membuat dadanya Cita, berdebar, entah mengapa setiap mendengar suara sang kekasih, darahnya selalu berdesir, entah karena memang mereka begitu saling merindukan atau apalah itu, Cita pun tak paham mengartikan, yang pasti hatinya menghangat bila hanya mendengar suara sang pujaan hati.
Perlahan Cita pun membuka pintu ruangan Dewa, dan ia pun masuk dengan gerakan sedikit gugup, namun sedetik kemudian, saat pintu sudah terbuka lebar, Cita langsung menunduk hormat, dan bicara formal pada sang kekasih hati.
"Selamat pagi tuan, apa tuan perlu sesuatu??"
Mendengar Cita bicara formal, dan layaknya bawahan darinya, Dewa sontak melotot tajam pada Cita yang masih terpaku menunduk tepat di pintu ruangannya, seolah menjaga jarak padanya, dan hal itu membuat Dewa tak senang, seolah mereka tidak saling kenal.
"Tutup pintunya, dan duduk di sini"
Dewa pun langsung kesal, hingga menjawab Cita sedikit ketus.
Cita yang menyadari suara lawan bicaranya sedikit ketus, dan terdengar jengkel, merasakan kalau Dewa terlihat tak suka dengan sikapnya saat masuk dan menyapanya, tapi Cita berpikir itu sudah selayaknya ia lakukan, karena ini bukan waktu untuk mereka sebagai sepasang kekasih, melainkan antara bawahan dan atasan, apa lagi saat ini mereka sedang di kantor, dan Cita tetap harus bersikap layaknya seorang karyawan yang bisa menjaga sikap.
__ADS_1
Cita yang berjalan menuju kursi yang tepat berada di hadapan Dewa, tak luput dari sorot tajam yang sedari tadi menatapnya kesal, namun Cita bersikap biasa, meski dadanya saat ini berdebar hebat.
"Ucapan apa tadi itu? jangan katakan kalau kamu hanya mempermainkan aku, dan bersikap seolah kamu bukan wanitaku.!"
Cita yang mendengar Dewa bicara seperti itu, langsung menatap tak kalah tajamnya pada sang Dewa cinta yang ia puja itu.
"Memang apa yang salah? aku kan sudah bersikap sopan dan memang harus demikian, karena ini bukan waktu untuk sepasang kekasih, melainkan antara atasan dan bawahan dalam pekerjaan, dan aku tidak punya niat seperti yang kamu katakan tadi"
Dewa langsung menelan ludahnya kasar, saat melihat sang kekasih hati bicara tegas bahkan sedikit arogan, apa lagi tatapan tajam yang Dewa dapatkan dari lawan bicaranya itu, seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Ibu, kenapa semua wanita itu sangat sulit untuk di pahami, dan lihatlah, entah siapa yang salah di sini, dan seharusnya aku yang marah bukan dia, tapi kenapa posisi saat ini justru terbalik, dan apa itu, tatapannya seolah ingin menguliti ku, ibuuuuuu, apa kau mendengar jeritan anak mu ini??? batin Dewa, yang langsung lemah tak berdaya bila sudah berhadapan pada sang kekasih hati"
"Bukan begitu, aku hanya tak suka saat kamu bersikap formal begitu, dan memanggilku dengan sebutan " tuan"
"Jangan bahas yang bukan jadi persoalan, dan saat ini kita bukan sedang kencan melainkan bekerja"
"Tapi kan disini hanya kita berdua, tidak akan ada yang melihat atau pun mendengar kita, aku tidak suka kamu bicara formal seperti itu"
Lagi dan lagi Dewa tak berkutik, karena sang kekasih tetap tidak akan bisa ia taklukkan, apa lagi tatapan tajam itu membuat Dewa bergidik ngeri, "Apa semua wanita bersikap seperti ini, kalau dalam mode serius dan tegas? bisa habis aku kalau macam-macam"
"Baiklah, terserah kau saja"
Memilih mengalah, dari pada jadi panjang, dan ujung-ujungnya mereka jadi bertengkar kan nggak lucu juga, karena masalah sepele seperti ini, dan bisa jadi tujuannya bicara soal undangan makan malam, bisa gagal kalau sang kekasih dalam mode ngambek dan tentu sangat keras kepala.
"Terus memintaku datang kesini tuh, untuk apa??"
"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu, dan aku harap kamu tidak terkejut atau pun menolak, karena hal ini tidak akan bisa kita hindari"
"Maksudnya?? kok sepertinya serius??"
__ADS_1
"Tadi saat aku baru tiba, tuan muda menghubungiku, dan mengatakan kalau nyonya besar mengundang kita makan malam di mansion utama, dan aku harap kamu tidak keberatan dan bersedia kita pergi dan memenuhi undangan mereka, bagaimana?? "
"Hah.! kenapa jadi seperti ini, dan lagian dari mana nyonya besar tahu kalau kita berhubungan?? jangan bilang kamu sudah pamer dan mengatakan pada semua orang kalau kita punya hubungan.!!"
"Kamu ini yah, langsung berpikir aku berlaku seperti itu, dan satu yang perlu kamu tahu, aku ini bekerja pada keluarga " Widodo Pratama" tentu apa pun sepak terjang ku, tidak akan luput dari mereka, karena mereka punya mata dan telinga di mana-mana, dan apa lagi bagi mereka, setiap orang yang bekerja pada mereka, itu sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga juga, dan tentunya mereka sangat dermawan dan baik hati, sungguh aku begitu beruntung bisa jadi salah satu orang yang mereka percaya, padahal, aku hanyalah sahabat tuan muda dari kami sekolah, hingga kami di pertemukan kembali saat aku mencari pekerjaan, dan aku memiliki nasib baik, hingga tuan muda langsung mempekerjakan aku sebagai asisten kepercayaannya, hingga saat ini"
Cita yang mendengar penjelasan dari Dewa, jadi sedikit penasaran, dan ingin tahu lebih tentang sisi baik dan bijaksananya sang penguasa perusahaan tempat ia bekerja itu, apa lagi memang Cita akui, tidak sedikit orang yang memuji kebaikan sang pemilik perusahaan itu, bahkan para karyawan yang bekerja dari posisi tegar hingga yang terendah, semua memuji kebaikan sang pemilik perusahaan tersebut.
"Apa menurut kamu, aku pantas bertemu dengan mereka mas??"
Dewa tersenyum, mendengar pertanyaan Cita, apa lagi hatinya menghangat, saat Cita memanggilnya dengan kata "Mas" tidak lagi formal seperti tadi.
"Kenapa kamu bicara pantas atau tidak? "
"Kamu tahu kan mas, aku ini hanya seorang karyawan mereka, apa tidakkah kamu merasa, mereka akan berpikir aku ini bukanlah seseorang yang menarik, untuk menjadi tamu mereka"
"Kamu itu yah, jangan dulu berpikiran terlalu jauh, dan simpan dulu komentar kamu soal itu, karena kamu belum melihat dan merasakan secara langsung, dan nanti saat kamu sudah bertemu dan merasakan, kamu bisa berspekulasi sendiri soal mereka, dan nilai mereka dengan perasaan mu sendiri"
"Baiklah mas, lagi pula siapa juga yang berani menolak undangan sang penguasa perusahaan ini, tentunya kita tidak punya pilihan kan? "
Sekilas ucapan Cita membuat Dewa langsung menelan ludah berkali-kali, seolah mengingatkan dirinya pada sang nyonya besar, kenapa ia merasa Cita seperti ??menyindir kali ini, apa Cita tahu kalau ia tadi di kerjai si tuan muda somplak itu??
"Kenapa mas, kok murung gitu? "
Cita bertanya, karena melihat, air muka Dewa sedikit berubah, seperti ada ketakutan dan cemas.
"T tidak apa-apa, mas senang kamu mau menerima undangan itu, dan nanti kamu bersiaplah, aku akan menjemputmu pukul 7:00 malam, dan ingat dandan yang cantik"
Dewa pun menyunggingkan senyumnya, melihat wajah Cita yang memerah menahan malu, dan pergi meninggalkan Dewa begitu saja, karena malu dan tak ingin wajahnya di lihat sang kekasih, apa lagi menggodanya lagi.
__ADS_1
Next.....