
Hampir sebulan sudah Rafa berada di kota B. Hari ini Rafa meninjau langsung perbaikan pabrik yang mengalami kerusakan cukup besar.
"Apa semua sudah kamu bereskan.!
" Sudah bos, dan para kariawan sudah mendapatkan bonus dua kali lipat, sahut Dewa cepat.
"Bagus, pulang dari sini aku sudah menerima semua laporanmu di ruang kerjaku, termasuk tentang pak Danu, ucap Rafa serius. berjalan menuju ruanganya.
"Siap bos. ucap Dewa yang berjalan di belakang Rafa.
Sementara di tempat lain Atika dan Bibi Lana sedang berbelanja ke pasar.
Kemarin Rafa menyuruh Dewa memberika uang pada Bibi Lana, untuk belanja segala keperluan Atika.
Atika sempat heran,saat mellihat Bibi Lana, mengambil beberapa baju sekuran Atika, karena penasaran Atika pun bertanya.
" Baju ini untuk siapa Bik?? tanya Atika sedikit bingung.
Bibi pun tersenyum, lalu menempelkan baju itu ke tubuh Atika, dan terlihat cocok dan pas untuk Atika.
"Tentu saja baju ini untukmu Tika.
Atika pun mengerutkan dahinya, " untuk Atika Bi?" kembali bertanya.
Bibi pun mengangguk, lalu mengambil lagi beberapa potong baju yang cocok untuk Atika.
'Bibi, itu ngak perlu, Atika masih punya baju, dan Atika tahu Bibi memerlukan uang itu, untuk anak Bibi, ucap Atika menolak halus, dan mengira baju yang di beli Bibi, mengunakan gaji Bibi Lana.
"Uang untuk beli baju ini, bukan uang Bibi Tika, kamu jangan hawatir, dan pilihlah mana yang kamu suka, ucap Bibi lagi menyuruh Atika memili, apa saja yang di sukai Atika.
" Kalau uang itu bukan uang Bibi, lalu uang itu uang siapa Bik?? Atika masih terus bertanya, tak menghiraukan Bibi yang antusias memilih baju yang bagus untuk Atika.
"Uang siapa lagi kalau bukan uang tuan Rafa, ucap Bibi yang membuat Atika, menjatuhkan baju yang ada di tangannya karena kaget.
" Kenapa hm?? tanya Bibi yang paham saat melihat reaksi Atika.
Atika tak menjawab, otaknya masih mencerna ucapan Bibi yang mengatakan uang yang mereka pakai untuk membeli baju untuknya adalah uang si tuan kejam batu.
"Tika, panggil Bibi mengrnggam erat tangan Atika, menatap Atika hangat, merasakan perasaan Atika saat ini.
" Terkadang orang yang kita lihat buruk dari luar, belum tentu buruk di dalam, mulailah mencoba menerima niat baik seseorang, meski pun terkadang tidak sejalan dengan kehendak hati kita.
"Tuan Rafa memberika uang pada Bibi kemarin, dan meminta Bibi membawamu untuk membeli baju dan keperluanmu yang lain, Bibi harap kamu tidak mengartikan niat baik tuan muda, karena ada maksud dan tujuan tertentu, ucap Bibi meyakinkan Atika.
Atika pun mengangguk tanda paham, tak salahnya juga ia mulai mencoba berdamai pada tuan kejam batu itu. Apa lagi selama hampir sebulan ini Rafa tidak bersikap berlebihan pada Atika, dan hanya sewajarnya saja, meski sikap dingin dan datar itu tidak lepas dari keseharian Rafa.
Bibi Lana yang melihat Atika mengangguk tersenyum.
Di elus pipi Atika lembut, seperti memperlakukan pada putrinya sendiri.
__ADS_1
" Jangan pikirkan apa pun, karena semua akan baik-baik saja, ucap Bibi mengelus kepala Atika lembut.
Atika pun tersenyum hangat, memeluk Bibi Lana erat, bahkan Atika meneteskan air matanya, Atika bersyukur punya Bibi Lana yang selalu memperhatikan dan menyanginya, seperti anaknya sendiri.
Mendapatkan kasih sayang dari Bibi Lana, mengantikan kerinduannya pada ibunya yang sudah tidak ada lagi, membuat Atika sangat menyangangi dan menghormati Bibi Lana seperti ibunya sendiri.
Rafa pun sudah kembali dari pabrik bersama Dewa, saat baru memasuki ruang tamu, Rafa mendengar suara Atika yang terdengar bahagia dari arah dapur.
Sebentar Rafa melirik kearah dapur, melihat Atika yang bersenda gurau dengan Bibi Lana, dan sambil menyiapkan makan malam.
Tawa lepas Atika membuat Rafa tersenyum, Rafa suka melihat Atika yang terlihat tanpa beban, perasaannya menghangat melihat Atika yang semakin hari semakin terlihat periang dan suka jahil.
"Selalulah bahagia, dan tertawa seperti itu, karena kau pantas untuk bahagia" batin Rafa berucap.
Namun saat Rafa akan berbalik dan hendak berjalan naik ke atas kamarnya, Atika tak sengaja melihat Rafa, dengan cepat Atika berjalan mendapati Rafa.
"Tuan.! Panggil Atika lirih.
Rafa yang mendengar suara Atika memanggilnya menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan.
" Terima kasih, ucap Atika lagi lirih dengan kepala menunduk.
"Hmm.! sahut Rafa hanya berdehem, paham tujuan ucapan Atika yang menyampaikan terima kasihnya karena sudah membelikan segala kebutuhan Atika, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Atika pun mendongak, melihat Rafa yang terus berjalan tanpa menoleh, sedikit sesak di dadanya, karena sikap dingin Rafa, namun Atika sadar siapa dia, tidak ada haknya untuk mengubah dan lebih dekat lagi pada Rafa, karena Atika hanya sebagai pemenuhan pilihan demi Ayahnya.
Selama hampir sebulan, mereka tinggal di satu atap yang sama, melihat, kejahilan Atika, ucapan ketus, tawa Atika membuat perasaan Rafa setiap harinya menghangat.
Jujur Rafa merasakan perasaan ingin selalu dekat dan melihat Atika setiap hari, Rafa merasakan Atika sudah menempati hatinya, tapi Rafa tak berani mengungkapkan perasaannya, karena Atika membencinya, hingga Rafa selalu berusaha menghempas perasaannya, dengan bersikap dingin pada Atika.
Dewa sudah menunggu Rafa di ruang kerjanya, sesuai yang di katakan bosnya tadi, Dewa langsung melakukan tugasnya tak ingin bosnya itu menunggu.
Sebelum Dewa masuk ke ruang kerja Rafa, Dewa sempat meminta pada Atika agar membuatkan teh dan di bawa ke ruang kerja bosnya itu.
Rafa yang sudah membersihkan diri, dan terlihat segar denga baju rumahan, menambahkan aura tampannya yang mengunakan pakaian casual.
Rafa pun masuk ke ruang kerjanya, melihat Dewa yang sudah menunggunya di dalam.
"Laporan yang anda minta sudah saya lampirkan di dalam file itu bos.! menunjuk beberapa berkas yang sudah terletak di meja Rafa.
Rafa pun mengangguk melihat berkas, memeriksa lembar demi lembarnya, dan setelah puas dengan telitiannya dan hasilnya Rafa pun menutup semua berkas itu, lalu Rafa melanjutkan bincangannya, poin yang sangat ingin Rafa tahu perkembangannya.
" Bagai mana perkembangan kesehatan pak Danu?? tanya Rafa serius, menatap Dewa intens.
Deg
Atika yang di minta Dewa membawakan teh ke ruang kerja Rafa, menghentikan langkahnya, saat mendengar nama ayahnya di sebut oleh Rafa.
Atika pun berdiri di sisi tembok, ingin mendengar kelanjutan percakapan Dewa dan Rafa, suara mereka terdengar jelas oleh Atika, karena pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat.
__ADS_1
"Pak Danu sudah banyak mengalami perkembangan bos, informasi dari dokter Yoga yang saya terima, pak Danu sudah mulai jelas bicara, dan saat ini sudah menjalani terapi untuk berjalan, ucap Dewa menjelaskan.
Deg, deg, deg, jantung Atika berdebar kencang, mendengar keadaan ayahnya, tangannya memengang erat nampan yang membawa dua cangkir teh, dan sepiring cemilan.
Hampir saja Atika menjatuhkan nampan yang di pegangnya, akibat tangannya yang gemetar, mendengar kenyataan besar itu.
Atika yang sudah meneteskan air matanya, membawa nampan itu turun ke bawah, kakinya yang lemas, dadanya sesak, kalimat yang di ucapkan Dewa berputar-putar di kepalq Atika, yang mengatakan ayahnya sudah mulai bicara jelas dan terapi berjalan.
Bibi Lana yang melihat Atika turun, membawa nampan berisi teh dan cemilan untuk Dewa dan Rafa.
Bibi Lana pun melihat lagi Atika yang menangis pun panik, mendekati Atika ingin menanyakan apa yang terjadi.
" Atika, ada apa hm? kenapa tehnya kamu bawa lagi kebawah??
"Katakan Bik, apa tuan Rafa menyembunyikan ayah, karena ingin mengobati ayah, dan memberikan perawatan terbaik?? tanya Atika yang sudah sesengukan menangis pilu.
Bibi Lana pun diam, tak menjawab pertanyaan Atika.
karena yang berhak menjelaskan ini adalah tuan mudanya, dan Bibi Lana yakin Atika mendengar pembicaraan Rafa dan Dewa di ruang kerjanya.
" Kenapa kalian harus menyembunyikan semua ini dari Atika Bik, ucap Atika yang melihat Bibi Lana hanya diam.
"Atika bahkan setiap hari berpikir buruk dengan keadaan ayah, bahkan Atika takut setiap saat bila memikirkan ayah, tapi kalian semua dengan teganya merahasiakan ayah pada Tika, ucap Atika yang semakin terisak pilu.
" Ti..
Atika pun pergi ke kamarnya, tak ingin mendengar ucapan Bibi Lana, Atika jelas kecewa, karena baginya Bibi Lan sudah seperti ibunya, yang selau Atika percaya, dan sayangi.
Bibi Lana pun naik ke atas, mendapati tuan mudanya dan Dewa yang masih ada di dalam.
"Tttuan.. Bibi Lana terbata, panik karena Atika yang sudah tahu semuanya.
" Kenapa Bik?? tanya Rafa heran melihat Bibi Lana yang berjalan tergesa-gesa.
"Atika tuan, anu iitu ttuan, Bibi Lana bingung melanjutkan ucapannya.
" Tenang dulu Bik, baru bicara, ucap Rafa yang terlihat hawatir juga. dan mengira sesuatu terjadi pada Atika.
"Atika sudah tahu tentang keadaan ayahnya, mungkin saat akan mengantar teh tadi, Atika tak sengaja mendengar percakapan tuan dan Dewa, ucap Bibi menjelaskan.
Deg
Rafa pun tertegun, terpaku di kursinya, bahkan Dewa pun merasa bersalah, karena meminta Atika tadi mengantarkan teh untuk mereka, hingga percakapan mereka di dengar jelas Atika.
Next.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1