
Setelah dari makam ibunya Atika, mereka pun pergi menuju ke rumah Ali si mandor yang baik hati, Rafa ingat betul orang-orang yang pernah menolong dan perhatian pada istrinya dulu, dan Ali adalah salah seorang yang juga begitu baik dan pernah menolong Atika yang sangat memprihatinkan dulu, dan Rafa tidak ingin istrinya di cela orang-orang, lupa dengan kebaikan yang di dapatkan dari orang-orang yang peduli padanya dulu, setelah hidupnya berubah, dan Rafa juga ingin berbagi pada orang-orang yang tulus membantu istri dan ayah mertuanya dulu.
"Kita mau kemana ini?? tanya Atika, yang memperhatikan jalan yang mereka lalui dan ia sangat hafal jalan itu, jalan yang dulu selalu ia lalui, dan tak sedikit orang selalu mencemooh dirinya dan mengatakan ia si gadis kumuh.
" Nanti kamu juga tahu kok sayang, ujar Rafa yang sengaja tak memberitahukan apa pun pada Atika, ia yakin setelah mereka sampai nanti istrinya pasti sangat senang.
"Suamimu banyak teka-teki nya sayang, kalau momy tebak nih ya, Rafa punya kejutan lagi deh buat kamu, ujar Felix, dan tersenyum lembut pada Atika.
"Jangan membuat istriku semakin penasaran mom, ujar Rafa yang tahu momy nya sengaja memanasi istrinya.
Tak lama mereka pun tiba di depan rumah yang terlihat sederhana tapi cukup asri dan sejuk, Atika yang melihat tempat itu pun sedikit heran, kenapa mereka kesini?? pikirnya.
"Kok bengong?? ayo turun, ujar Rafa yang mengajak istrinya turun dari mobil, dan ia tahu istrinya masih bingung.
" Kita ngapain kesini mas?? ujar Atika saat turun dari mobil.
"Hanya bertamu sayang, dan aku ingin saat kita di sini kamu bertemu dengan orang-orang yang pernah peduli dan menyayangimu seperti keluarganya sendiri, dan aku tahu Ali kamu anggap sudah seperti kakak bagimu, ujar Rafa, membuat Atika berkaca-kaca, karena terharu, ternyata suaminya selama ini memperhatikannya.
"Jangan sedih dong, ayo masuk, Ali pasti senang melihatmu, ujar Rafa menuntun istrinya dengan lembut.
Orang tua Ali yang melihat dia mobil parkir di halaman rumahnya, dan melihat orang-orang yang turun dari mobil itu menuju rumahnya, sedikit heran, karena mereka tidak memiliki sanak saudara yang punya mobil mewah seperti itu, namun saat melihat Atika dan pak Danu, orang tua Ali langsung tersenyum dan sangat senang melihat siapa yang datang.
"Paman, Bibi, ujar Atika langsung memeluk kedua orang tua Ali dan air mata Atika pun tumpah tak bisa ia bendung lagi, suaminya begitu memahami perasaan dan keinginannya, bertemu dengan orang-orang yang begitu peduli padanya, walau banyak yang begitu membenci Atika yang selalu minta tolong karena ayahnya yang menderita sakit dan Atika tidak bisa berbuat apa-apa, dan berharap orang-orang menolongnya, tapi justru menghinanya, tapi sebagian orang, prihatin padanya, walau tak sepenuhnya bisa membantunya, tapi Atika masih mendapatkan uluran tangan mereka yang tulus menolongnya waktu itu.
"Atika, kamu sudah berubah nak, dan Bibi lihat kamu semakin cantik, ujar ibunya Ali yang begitu senang melihat Atika.
" Silahkan duduk tuan Ny, ujar ayahnya Ali yang sedikit sungkan, karena merasa tak pantas di datangi orang berkelas seperti keluarga Rafa.
"Terima kasih pak, oh ya Ali nya ada pak?? tanya Rafa langsung.
" Ada tuan, sebentar saya panggil, ujar ayahnya Ali, masuk ke dalam rumah memanggil Ali yang berada di belakang rumah.
"Saya permisi sebentar tuan, Ny, buat teh dulu, ujar ibunya Ali, pamit sebentar.
__ADS_1
" Silahkan bu, ujar Felix ramah, ia merasa seperti di kampung halamannya, suasana sejuk dan asri membuat Felix, terkenang dengan kampung halamannya yang tak kalah sejuk juga.
Ali yang di panggil ayahnya dan memberitahukan ada tamu yang mencarinya, tapi tak mengatakan bahwa Atika yang datang bertamu, agar Ali juga kaget seperti mereka tadi.
"Siapa pak tamu itu?? tanya Ali karena ayahnya mengatakan tamu itu mencarinya.
" Sudah, kamu lihat aja sendiri, bapak juga tidak tahu, ujar ayahnya berbohong.
Ali pun berjalan duluan dari ayahnya, karena penasaran Ali sedikit tergesa-gesa, dan saat tiba di teras rumah Ali yang melihat tamu itu sontak langsung memanggil nama Atika, karena ia sudah cukup lama tak melihat Atika.
"Atika.!
" Mas Ali.!
Ali langsung berjalan cepat mendekati Atika, karena senangnya ia tak sadar ada keluarga besar di sana, memeluk Atika, dan meneteskan air matanya.
"Apa kau tak ingin memelukku juga Ali?? ujar pak Danu, dan Ali langsung tersadar telah lancang memeluk Atika, tak menyadari ada tamu terhormat juga.
" Ah paman, aku merindukan kalian, tapi aku senang melihat paman dan Atika sudah hidup bahagia, ujar Ali yang ikut bersyukur.
"Maafkan sikap saya tadi tuan, saya hanya terlalu senang, ujar Ali tak enak hati.
"Jangan sungkan begitu, aku tahu kamu sudah menganggap istriku seperti adik perempuan mu, dan itu wajar, apa lagi kalian sudah lama tidak bertemu, ujar Rafa yang tak ingin Ali merasa ia berpikir yang tidak-tidak.
" Terima kasih tuan, saya memang sangat merindukan Atika, tapi setelah tahu anda menikahi Atika, saya cukup lega mendengar kabar itu, dan saya yakin anda tentu bisa membahagiakan Atika, dan saya tahu anda tulus mencintai Atika, ujar Ali membuat Rafa tertegun, kagum dengan kedewasaan Ali.
"Kedatanganku ke sini juga ingin berterima kasih, selain aku tahu istriku merindukanmu, dan aku tahu bagai mana dulu kamu begitu pedulinya pada Atika, dan ayah mertuaku, dan aku ingin istriku merasakan kebahagian dari orang-orang yang begitu menyayanginya, ujar Rafa, membuat Ali semakin lega, karena suami Atika sangat baik dan begitu menyayangi Atika.
"Di minum dulu tehnya tuan, Nona, ujar ibunya Ali menyuguhkan teh hangat pada mereka.
" Terimakasih Buk, ujar Felix ramah.
"Baiklah, dan maaf sebelumnya untuk kamu Ali dan juga paman dan Bibi, ujar Rafa, membuka suara, setelah menyeruput teh nya.
__ADS_1
" Maksud anda tuan?? tanya Ali sedikit bingung dengan ucapan Rafa yang meminta maaf.
"Maksud saya, kami minta maaf karena baru sekarang bisa bertamu, dan untuk tujuan yang sesungguhnya adalah, saya harap kamu dan paman juga Bibi tidak menolaknya, ujar Rafa membuat Ali dan kedua orang tuanya semakin bingung, tak mengerti maksud Rafa.
" Menolak apa ya tuan, ujar Ali yang tak paham.
"Saya membelikan Ruko yang menjual berbagai macam roti, dan itu akan saya berikan pada kalian, dan menjadi milik kalian seutuhnya, aku tahu kamu tidak punya kerja tetap, hanya akan ada tender baru baru bisa bekerja, dan aku yakin itu bisa kamu kembangkan kelak, ujar Rafa, membuat Ali terdiam, mencerna ucapan Rafa barusan.
" Tapi itu terlalu berlebihan tuan, dan kami tidak pantas menerima itu semua, ujar ayahnya Ali tak enak hati, menerima dengan cuma-cuma bahkan nilainya tidak sedikit.
"Tidak ada yang katanya tidak pantas pak, ujar Aliando angkat bicara, "kami tahu bagai mana ketulusan kalian pada menantu kami dulu, dan setiap kebaikan yang kalian tabur tentu berbalas kan kebaikan juga, jadi jangan menolaknya, karena menantu kami akan sedih nantinya, ujar Aliando lagi, membuat Felix dan yang lainnya tersenyum karena Aliando begitu memperhatikan Atika layaknya putri sendiri.
" Mas Ali, Atika tahu kalian berat menerima ini, tapi Atika harap mas Ali tidak menolak pemberian suamiku, bukankah mas Ali juga yang mendoakan agar Atika bisa hidup bahagia?? dan berkat doa kalian juga Atika bisa begini, dan Atika juga yang lain ingin membagi kebahagian itu dengan mas Ali juga paman dan Bibi, ujar Atika, membuat Ali tak bisa berkata apa lagi.
"Kamu tidak mau kan istriku bersedih karena kamu menolak semua ini, dan perlu kamu ketahui jangan sampai istriku kesusahan melahirkan karena keinginannya tidak tercapai, karena sebentar lagi kamu akan jadi paman, ujar Rafa membuat Ali mendongak, menatap Atika.
"Kamu lagi mengandung Tika?? tanya Ali tersenyum berbinar.
" Iya mas, mas Ali akan jadi paman, ujar Atika ikut tersenyum bahagia.
"Baiklah, demi calon keponakan ku, aku terima pemberian kalian ini, dan kamu harus janji sama mas, agar menjaga calon keponakan ku dengan baik, kalau tidak aku tidak akan mengampuni kalian, ujar Ali membuat wajahnya sedikit seram dan melotot lucu, membuat mereka tertawa senang, karena sikap Ali yang suka melucu itu.
"Terima kasih sudah mau menerima pemberian kami nak Ali, ujar Felix ramah.
" Saya yang harusnya berterima kasih Ny, ujar Ali sungkan.
"Ini tidak seberapa Ali, di banding dengan pertolonganmu dulu pada kami, ujar pak Danu yang terharu mengingat bagai mana Ali dan orang tuanya tak pernah lelah menolong mereka.
" Paman jangan bicara begitu, semua itu sudah berlalu, dan paman harus bangga punya putri seperti Atika, yang begitu kuat dan tabah melalui semua penderitaan itu, dari Bibi yang meninggal, paman yang jatuh sakit dan lumpuh, Atika yang harus berjuang untuk melanjutkan hidup dan merawat paman, betapa kerasnya hidup Atika lalui dulu, tapi lihatlah paman, ketulusan dan ketabahan tidak membohongi hasil, dan Atika sudah mendapatkan apa yang Tuhan rencanakan untuknya, dan rencana itu begitu indah untuknya, ujar Ali membuat semua orang tertegun haru, apa lagi Aliando yang langsung teringat bagai mana dulunya istrinya berjuang untuk melanjutkan hidup.
Next.
Maaf ya buat para pembaca setiaku, baru bisa Up.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor