
Setelah Dewa melihat kenyataan yang membuatnya semakin merasa bersalah, bahkan sepanjang jalan pulang, bayangan Cita selalu terlintas di benaknya, membuat Dewa hampir saja celaka, karena pikirannya sedang tidak konsentrasi.
Karena begitu stres dan pusing, Dewa yang sudah tiba di apartemen nya, langsung mengambil minuman, bahkan tidak lagi menggunakan gelas, Dewa langsung meneguk nya, berpikir agar pusingnya hilang, namun justru bayang Cita seakan memenuhi isi apartemen nya.
Dewa yang berhalusinasi, melihat Cita ada di hadapannya, tertawa terbahak, seperti orang yang kehilangan akal, dengan raut wajahnya sedih ia mengatakan maaf pada bayangan Cita.
"Maaf sudah membuatmu kecewa, dan sakit hati, aku menyesal..
Sesaat setelah mengatakan itu, Dewa yang awalnya tertunduk, menegakkan penglihatannya, mencari-cari keberadaan Cita, setelah di sadari nya, bahwa itu hanya halusinasinya, Dewa pun tersenyum smirik, menertawai dirinya yang seperti orang bodoh, kembali meneguk minumannya, hingga ia lupa diri, hingga mabuk, dan meracau tak tentu, bahkan sesekali ia mengucapkan nama Cita.
Pagi harinya Dewa merasakan kepalanya terasa berat, bahkan rasa pusing dan mual ia rasakan, setelah kesadarannya terkumpul, Dewa sempat tersentak, melihat keadaannya yang berantakan, bahkan aroma minuman masih menyeruak tajam di penciuman nya, menyadari dirinya yang lepas kontrol semalam, setelah melihat dan mengetahui kebenaran, tentang kepribadian Cita, yang begitu bekerja keras demi cita-citanya, dan ternyata Cita adalah gadis yang mandiri, meski hidup sebatang kara.
Dewa sempat melamun, dalam pikirannya ia berencana membantu Cita secara tersembunyi, dan itu sebagai tanda penyesalannya, dan permohonan maafnya terhadap Cita, yang sudah ia kecewakan dari awal.
Meski di awal Dewa begitu kesal pada Cita, namun saat Cita bekerja sebagai OG, Dewa yang awalnya menjahili Cita, memiliki perasaan lebih dan menaruh hati pada Cita, namun belum terungkap perasaannya, kendala sudah lebih dulu menghadang, dan itu di akibatkan oleh perbuatan Dewa sendiri, yang justru membuat ia jauh dari Cita, meski satu atap dalam pekerjaan namun terasa jauh dan hampa.
Dewa yang sudah bertekad, untuk memulai hal yang baik pada Cita, bergegas dari tempatnya, membersihkan dirinya, untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, dan akan memulai hari baru, tentunya ia akan merebut hati Cita dengan caranya sendiri.
Selesai dengan kegiatan paginya, Dewa pun keluar dari apartemen nya, dan tentunya ia akan lebih dulu menjemput bos sekaligus sahabatnya itu, dan sebagai orang kepercayaan Rafa, Dewa harus menunjukkan kalau ia adalah orang yang bisa di andalkan.
Dewa sudah menunggu di depan, menantikan Rafa yang masih belum keluar dari mansion. Namun tak lama yang di tunggu Rafa akhirnya keluar, dan mereka pun pergi setelah bertegur sapa satu sama lain.
"Kemarin, kelihatannya kamu sibuk banget, apa ada hal yang serius??" tanya Rafa, membuat Dewa yang serius menyetir, menoleh sebentar pada Rafa, menjeda sebentar, dan sedikit menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Aku sudah salah menilai seseorang, dan aku menyesal sudah membuatnya kecewa" Terasa berat mengucapkan kata-kata nya.
Rafa yang paham tujuan ucapan Dewa, tersenyum tipis, seperti mengingatkan ia pada masa lalunya dengan sepintas, yang dulunya juga salah menilai Atika, bahkan jauh dari kata kecewa, namun semua sudah berakhir, kini Rafa sudah hidup bahagia dengan wanita yang sempat membencinya, tentunya itu adalah Atika, yang sudah menjadi istrinya.
"Berjuanglah, kalau memang gadis itu sudah merajai di hati mu, aku mendukung mu, tapi ingat, sekali lagi kamu berbuat hal yang mengecewakan seorang wanita, akan sulit untuk merubah apa yang kita harapkan, karena wanita hanya mampu memberi satu kesempatan, dan tentunya kesempatan kedua, atau pun tiga, tidak akan berlaku bagi wanita yang merasa lelah dengan perasaan yang kecewa, jadi.. tunjukkan kalau kamu benar-benar serius dan jangan sampai terulang apa yang sudah terjadi"
Rafa mengingatkan Dewa, agar tidak lagi gegabah, tentunya ia juga mengharapkan yang terbaik bagi sahabatnya itu, apa lagi selama ini, ibunya Dewa selalu mendesak Dewa untuk mencari pendamping, dan mudah-mudahan, Dewa berhasil menaklukkan hati Cita.
"Terima kasih, untuk sarannya bos, dan semoga saja Cita mau memaafkan aku"
"Ucapan apa itu?? tidak ada kata terima kasih bagi sahabat, dan ingat.. kamu sudah menjadi kakak bagi istriku, dan tentunya hubungan kita lebih dari itu, jadi jangan berlebihan seperti ini, aku tidak suka, aku akan selalu mendukung, tentunya aku juga berharap kamu menemukan yang terbaik dalam hidup"
Dewa tersenyum hangat pada Rafa, ia tahu Rafa berkata demikian, karena dari dulu mereka selalu mengutamakan keutuhan persahabatan mereka, dan bagi mereka tentunya sudah menjadi satu kekuatan untuk saling mendukung dan tidak menghianati persahabatan mereka.
Tak terasa mereka pun sampai, Rafa yang lebih dulu turun, lalu Dewa mengikuti Rafa, dan langsung masuk ke dalam lift khusus, menuju lantai letak ruangan mereka masing-masing.
Saat Dewa sedang asik memeriksa file di laptopnya, ia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, namun tak ingin melihat siapa orang itu, karena mengira itu adalah petugas kebersihan yang lain bukan Cita.
Sementara, Cita yang melihat Dewa yang duduk di kursi kebesarannya, sempat merasakan jantungnya berdebar, karena selama tiga hari, Cita tidak pernah lagi saling berbicara dengan Dewa, bahkan Cita lebih memilih diam, agar sakit hatinya mereda.
Cita membenahi peralatan kebersihannya, dan karena pekerjaannya sudah selesai, tentunya tidak ada lagi alasan buatnya untuk berlama-lama di ruangan itu.
Cita berjalan perlahan, dan tanpa sedikit pun menoleh pada Dewa, namun sesaat melihat sosok wanita yang sudah membuatnya kacau semalaman, Dewa pun tersentak kaget, karena ternyata Cita yang sudah membersihkan ruangannya.
__ADS_1
Melihat Cita yang tidak mau menyapanya, dan berjalan keluar begitu saja, Dewa merasakan sesak di dadanya, karena biasanya, meski pun Cita kesal pada Dewa, Cita selalu menyapanya.
Cita memang sengaja cuek, karena ia masih kesal pada Dewa, namun beberapa hari tidak bertegur sapa, Cita sebenarnya juga merasakan ada yang kurang, karena baginya, seperti tak sopan, tidak menyapa atasannya, dan perasaannya pun seperti merasakan kehilangan.
Melihat kepergian Cita yang keluar begitu saja, Dewa hanya bisa menghela nafasnya, dan ia harus bersabar, dan berharap ini tidak berlangsung lama, dan secepatnya akan kembali seperti sedia kala.
Selang beberapa jam, waktu sudah menunjukkan 10:45, yang tentunya satu jam ke depan, Cita akan pergi meninggalkan kantor, dan kuliah seperti biasanya.
Dewa yang sudah mempersiapkan sesuatu, untuk memulai misinya, membawa sesuatu di tangannya, pergi menuju loker tempat Cita menyimpan barang-barangnya, tentunya ada tas Cita di sana.
Dewa pun memasukkan sesuatu ke dalam tas Cita, dan itu berupa bekal makan siang, dan satu amplop yang berisikan uang dan surat, dan tentunya surat itu berbentuk misterius, tanpa nama seseorang, namun di surat itu Dewa menjelaskan agar Cita tidak berprasangka buruk, dan mengunakan pemberiannya.
Isi surat
*Aku tahu kamu pasti terkejut dengan ini, dan maaf karena sudah lancang, namun ini semua hanya bentuk kepedulian, dan semoga kamu tidak keberatan, dan jangan berpikir ini seolah menunjukkan kamu wanita lemah, tidak sama sekali, dan aku berharap kamu tidak membuang makanannya, dan pergunakan uang itu untuk kuliahmu, dan aku tahu kamu punya cita-cita yang tinggi, semoga kamu berhasil, dan suatu saat kamu mengetahui siapa aku, aku berharap kamu tidak membenciku, dan ini tidak lebih sebagai bentuk kepedulian, dan aku akan sangat senang kalau kamu mempergunakannya, tanpa berpikir yang tidak-tidak, maaf karena sudah lancang.
Dari pengagum mu 💜❤*
Dewa pun cepat-cepat pergi dari sana, takut ada yang melihatnya, karena sampai ia ketahuan, bisa-bisa, Cita akan semakin membencinya.
Merasa aman, Dewa yang sudah keluar dari ruang loker, dan masuk ke ruangannya, bernafas lega, karena ia selamat, dan untung tidak ada yang melihat, dan situasi yang sepi seolah mendukungnya.
Dewa berniat melakukan itu, agar Cita tidak lagi melakukan pekerjaan di tempat lain, ia tak tega melihat Cita yang bekerja sebagai pencuci piring di rumah makan itu, berharap apa yang di lakukan nya, bisa membantu Cita, dan tentunya Cita lebih tenang menjalani kuliah dan bekerja di perusahaan sebagai OG, karena ia tahu gaji itu tidak cukup untuk kebutuhan kuliah dan kebutuhan Cita sehari-hari, belum lagi Cita harus mengeluarkan uang, untuk ongkos angkot, sudah bisa di pastikan Cita sangat berhemat, dan tidak sembarangan menggunakan uangnya, dan mengesampingkan hal-hal untuk bersenang-senang, karena sangat butuh biaya, untuk kehidupannya.
__ADS_1
Next...
Baru Up, sorry buat yang lama menunggu, Arthor harap dukungannya masih ok ya, Votenya dong, jangan lupa ya Sob, thanks. 🙏🙏🙏