
Atika yang melihat kepergian Rafa hanya bisa menangis, badannya luruh ke lantai, selesai sudah pikirnya.
Atika begitu menyesali sikapnya, bahkan merasa tidak tahu berterima kasih, padahal Rafa melakukan itu karena menyayangi Atika, namun karena kebencian Atika dari awal membuat ego Atika menutup pikiran dan hatinya.
Atika yang sudah merasakan nyaman saat bersama Rafa, seolah perasaannya hilang setengah, merasakan seperti ada yang hilang dalam dirinya, hingga Atika menyadari bahwa Rafa telah memenuhi relung hatinya, terbukti Atika yang merindukan Rafa yang baru dua hari tak di lihatnya di Vila mewah itu.
Siang itu Rafa yang pergi meninggalkan Vila bersama Dewa, ternyata tidak jadi kembali ke kotanya, hingga Dewa harus melakukan pembatalan keberangkatan mereka untuk pulang.
Rafa memilih untuk menginap di hotel, dan Rafa juga memberitahu pada Bibi Lana kalau ia dan Dewa masih berada di kota B.
Seperti saat ini, Rafa menyetir mobilnya sendiri, meninggalkan Dewa di hotel.
Rafa selalu pergi diam-diam, tanpa sepengetahuan Dewa.
Melihat dari kejauhan, sosok seorang wanita yang membuat perasaannya selalu porak-poranda, dan selalu ingin melihat wajah ceria dan tawa yang menggemaskan baginya.
Namun dua hari ini wajah ceria dan tawa menggemaskan itu tak lagi Rafa rasakan dan lihat, yang ada hanya wajah murung dan kesedihan.
Meski dari kejauhan, Rafa bisa melihat perubahan Atika yang murung dan banyak diam.
"Aku tak tahu, apa kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku, ucap Rafa masih menatap sosok yang di rindukannya itu.
Bibi Lana menghampiri Atika duduk di taman, Bibi Lana bisa merasakan perasaan Atika yang terpendam, hingga Bibi mencoba bicara pada Atika, agar Atika bicara jujur tentang perasaannya.
" Apa tidak dingin hm?? ucap Bibi Lana, yang sudah ikut duduk di samping Atika, memakaikan Atika shyal, agar tidak kedinginan.
"Apa yang kamu pikirkan hm?? Bibi Lana bertanya lagi, karena Atika hanya diam, sembari mengelus lembut kepala Atika, menyalurkan kasih sayangnya pada Atika yang sudah seperti putrinya sendiri.
Atika pun menangis sambil memeluk Bibi Lana erat, meluapkan sesak di dadanya yang menahan rindu pada sosok yang membuat hatinya gundah gulana.
Rafa yang masih melihat dari kejauhan di dalam mobilnya, merasakan sakit, ia tahu saat ini Atika menangis di pelukan Bibi Lana.
__ADS_1
" Menangislah, puaskan semua yang membebani hati dan pikiranmu, ucap Bibi sambil mengelus lembut punggung Atika.
"Bibi.
" Hm. sahut Bibi merenggangkan pelukan Atika dan menatap Atika intens.
"Atika menyesal Bik, ucap Atika terisak pilu, meluruskan tatapannya ke depan, sesekali ia menghapus air matanya yang terus menetes.
" Bibi tahu kamu menyimpan perasaan pada tuan Rafa, dan menurut Bibi kamu harus jujur dengan perasaanmu, apa lagi kamu sudah tahu bagai mana perasaan tuan Rafa padamu, dan jangan menyembunyikannya lagi, karena itu akan menyakiti kamu sendiri, ucap Bibi Lana memberi nasehat pada Atika.
"Atika tak pantas buat tuan Rafa Bik, kami bagai langit dan bumi, ucap Atika sedih.
" Kamu bisa lihat ketulusan tuan padamu Tika, kalau tuan melihat dari segi kasta, tuan tidak akan menaruh hati padamu, bahkan merawat ayahmu, juga mengutamakan kamu, ucap Bibi menjelaskan, meyakinkan Atika agar tidak berpikiran sempit.
"Apa tuan memang benar-benar tulus Bik?? hingga melakukan itu pada Tika?? tanya Tika yang masih terdengar ragu.
" Tanyakan pada hatimu Tika, menurut kamu apakah hanya rasa iba yang di berikan tuan Rafa padamu atau juga ada cinta di dalamnya, ucap Bibi Lana lagi
" Mungkin tuan hanya ingin memberimu ruang, untuk memikirkan segalanya, agar kamu bisa menata hatimu, dan tidak membuatmu merasa terpaksa dan tertekan, ucap Bibi, membuat dada Atika sesak, apakah memang demikian?? batin Atika.
"Tapi waktu itu tuan malah menyuruh Tika pergi dari Vila ini, dan mengatakan Tika bebas kemana pun Tika mau, kalau tuan memang mencintai Tika, tentu bukan itu yang tuan katakan waktu itu, ucap Atika lagi.
" Tuan mengatakan itu, karena tak sanggup melihat kamu yang seperti tertekan dan terpaksa, apa lagi kamu menyinggung tuan dengan kekayaan dan kekuasaan tuan, tentu itu membuat tuan Rafa sakit, karena mengira kamu menilai tuan dari segi hartanya.
Atika pun diam, mencerna ucapan Bibi Lana, menyadari ucapannya waktu itu sudah keterlaluan, dan menyesali ucapannya, yang menyinggung perasaan Rafa.
Cuaca yang semakin dingin, seolah melukiskan perasaan Atika yang dingin menahan rindu, berharap bisa melihat sosok yang sudah bersemayam di hatinya.
Bibi Lana pun mengajak Atika masuk, Bibi juga senang karena Atika sudah jujur dengan perasaannya, tinggal menunggu waktu yang tepat, tuan mudanya dan Atika sama-sama saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
Rafa yang melihat Atika dan Bibi Lana masuk ke Vila, masih menatap lekat punggung kedua wanita yang beda usia itu, hingga menghilang dari tatapannya, barulah Rafa beranjak dari sana, kembali ke hotel tempat ia menginap dan Dewa.
__ADS_1
Saat tiba di hotel Rafa tak sengaja melihat seseorang yang di kenalnya, hingga ia sedikit menutupi keberadaannya dari penglihatan seseorang tersebut.
Rafa masih memperhatikan gerak-gerik orang itu, hingga matanya terbelalak kaget tak menyangka melihat orang itu ternyata berada di kota yang sama dengannya.
Rafa pun mengikuti langkah, orang itu, dan ternyata dia tak sendiri, saat melihat siapa yang bersama orang itu.
Rafa masih bersembunyi di tempatnya, ia ingin tahu apa yang di lakukan mereka, dan apa hubungan mereka, kalau ternyata dugaannya benar ia tidak akan segan-segan menghajar hingga babak belur.
Saat mereka bicara, Rafa menajamkan pendengarannya, karena tak ingin gegabah, mengambil tindakan.
"Untuk apa kau menyuruhku datang menemuimu.!! ucap orang itu, menatap lawan bicaranya sinis.
" Tentu karena aku merindukanmu, dengan nada manja dan menggoda.
"Jangan mimpi kamu.!! aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu berusaha mendekatiku, dan kau sungguh wanita tak punya malu.!!
" Itulah kelemahanku, meski sekali pun kau berkata kasar dan tidak mengakui cintaku, aku tidak bisa membencimu, ucap wanita itu, tak menghiraukan telah di rendahkan pria yang sudah menghinanya, dan cinta membuatnya buta bahkan menutup telinganya rapat.
"Cih, aku tak pernah menaruh perasaan apa pun padamu, dan jangan pernah terpikir olehmu untuk merusak rumah tanggaku, karena aku tak akan segan menghancurkanmu.!! ucap orang itu mengancam wanita yang berdiri di hadapan pria itu.
Rafa pun terbelalak kaget, mendengar pembicaraan ke dua orang itu, sungguh ia juga kesal pada wanita yang tidak tahu malu itu, yang menginginkan laki-laki yang sudah beristri, bahkan memiliki anak.
Rafa pun yang tak tahan lagi, tak ingin mengurung waktu lagi, berjalan ke arah dua orang tersebut dan..
" Dady.!!!
Duaaaarrrr
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor
__ADS_1