
Sudah lebih seminggu Cita bekerja sebagai OG di perusahaan Rafa, tapi situasi yang dihadapi Cita tidaklah semakin membuatnya nyaman bekerja di sana, justru semakin membuatnya tidak betah, namun Cita masih tetap bertahan, meski sesungguhnya ia ingin sekali keluar dari pekerjaan itu, namun karena belum mendapatkan pekerjaan yang baru, Cita terpaksa harus bersabar.
Selama bekerja di sana, Dewa seperti sengaja menindas nya, hanya karena ia terlalu ceroboh, di waktu yang lalu, dan sungguh ia sangat sial, kenapa harus Dewa, yang bertemu dengannya saat itu, hingga membuat hari-harinya, jadi seperti membosankan.
Dewa yang sengaja membuat ia melakukan pekerjaan, yang seharusnya bukan pekerjaan seorang OG, tapi Cita tak bisa membantah, karena itu adalah perintah atasannya, bahkan Cita berpikir sampai kapan ia akan selalu di perlakukan demikian, dan kapan Dewa akan memaafkan semua kesalahannya di waktu yang lalu.
Seperti pagi ini, Dewa seolah sengaja menyuruh Cita datang pagi-pagi sekali, dengan alasan akan ada rapat, dan Cita di suruh membersihkan ruangan itu, sebelum rapat di mulai, padahal, setelah Cita selesai, membersihkan ruangan itu, dengan entengnya Dewa mengatakan rapat di batalkan, membuat Cita ingin sekali memaki Dewa, tentu ia tak mampu mengungkapkan secara langsung, namun di dalam hatinya, Cita bahkan mengutuk Dewa, dengan berbagai umpatan.
Karena kesal, Cita pun pergi ke atap kantor yang berada di lantai paling akhir, ingin menenangkan hatinya, yang hampir meledak di hadapan Dewa tadi, di sana Cita meluapkan semuanya, dengan berteriak sepuasnya, melepaskan sesak di dadanya.
"Aku membenci mu kepalaaaa batuuuu.!!!"
"Dasar pria songong.!!!
"Aku sumpahi kau lajang tua, sampai karatan.!!"
Dada Cita naik turun, nafasnya bahkan tak beraturan, melupakan emosinya, dan merasa puas, karena sudah melepaskan yang tertahan tadi.
Namun Cita, tak menyadari kalau ia di awasi sepasang mata di sana, bahkan mengepalkan tangannya, saat mendengar teriakan Cita.
Ya, Dewa mengikuti Cita saat naik ke lantai atas, penasaran dan ingin tahu Cita naik ke atas, Dewa pun diam-diam mengikuti.
Saat tiba di atas, Dewa sempat bingung mau apa Cita ke lantai ini, bahkan sempat mengira, Cita ingin bunuh diri, namun ternyata Dewa salah tebak, justru pendengarannya sakit, saat mendengar teriakan Cita, yang mengumpat dan mengutuknya, hingga membuat Dewa, semakin geram pada Cita, bahkan langsung spontan bicara pada Cita yang sedang asik mengumpat di sana.
"Wah-wah, ternyata begini sifat aslimu, aku baru tahu kalau ternyata kau wanita yang tidak tahu di untung.! sudah di kasih kesempatan, malah mengumpatiku yang sudah memberimu kesempatan.!!"
Cita tertegun, sungguh ia sangat takut kali ini, dan lagi-lagi ia merutuki kecerobohannya, lupa di mana ia saat ini, karena tempat ini adalah kekuasaan pria yang baru saja di umpatinya.
Namun sesaat kemudian, Cita justru seperti mendapat dorongan dari mana, bahkan rasa takutnya pun hilang, mungkin karena ia sudah muak yang terus menerus di tindas, dan kali ini ia tidak akan tinggal diam lagi, dengan lantang ia menjawab Dewa, meluapkan semua isi di hatinya.
"Benar, saya memang tidak tahu di untung.! bahkan karena tidak tahu dirinya saya, saya lupa kalau anda orang yang berkuasa, hingga anda bebas menindas saya"
"Saya akui saya pernah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti anda bisa sesuka hati, berbuat semena-mena pada saya, dan karena saya butuh pekerjaan, seolah anda merasa apa pun yang anda lakukan pada saya, saya akan terima dan pasrah??"
__ADS_1
"Justru saya menilai sifat anda, sungguh kekanak-kanakan, dan tidak menunjukkan sikap sebagai seorang atasan yang patut untuk di contoh.!!"
Entah keberanian dari mana, Cita meluapkan semuanya Dewa, bahkan ia tidak perduli akan di pecat nantinya, karena sudah lancang.
Dewa yang mendengar perkataan Cita, rahangnya mengeras, tangannya pun terkepal, sungguh ia tidak terima dengan ucapan Cita barusan, seakan menjatuhkan harga dirinya sebagai atasan Cita, dan untung saja tidak ada siapa pun orang di sana, yang mendengar ucapan Cita, selain mereka berdua, bisa-bisa Dewa tidak punya muka lagi.
"Beraninya kau bicara lancang, kau kira siapa dirimu?? sepertinya kau minta di tendang dari kantor ini, karena tempat ini tidak menampung seseorang yang tidak punya sopan santun dalam berbicara.!!
" Yah, saya memang bukan siapa-siapa, dan saya memang sudah lancang, dan anda silahkan pecat saya sekarang juga, karena saya tidak bisa bekerja pada orang yang tidak memiliki hati, bahkan kejam.!!"
Air mata tak dapat terbendung lagi, Cita merasa dirinya di perlakukan seperti robot, bahkan pekerjaan rekannya, selalu di alihkan padanya, dengan alasan ada pekerjaan lain, hingga ia harus melakukan pekerjaan itu, belum lagi tambahan yang lain, yang seolah di sengaja, bahkan waktu istirahat pun tidak cukup menghilangkan lelahnya, hingga berpikir apakah kesalahannya sangat fatal, hingga atasannya itu begitu dendam padanya, sampai menindas nya sedemikian rupa.
Dewa yang mendengar perkataan Cita tertegun, tak menyangkan sampai seperti ini, padahal ia melakukan itu hanya mengerjai Cita semata, tidak lebih. Seperti mainan baru bagi Dewa, namun ternyata ia salah, yang menilai Cita akan datang padanya memohon, agar di beri keringan, justru malah membuat Cita di ambang kesabarannya, yang lelah di perlakukan seperti robot, dan di tindas sesuka hatinya.
"Tidak mudah untuk keluar dari perusahaan ini, karena kau sudah menandatangani segala konsekuensinya, dan bila kau mengundurkan diri, maka siapkan uangmu untuk mengganti rugi pada perusahaan sebesar, 10 juta"
Dewa sengaja mengatakan itu pada Cita, karena tak ingin Cita keluar dari perusahaannya, dan di sisi lain ia memang menyesal dan merasa bersalah, karena sudah keterlaluan memperlakukan Cita, tanpa memikirkan perasaan Cita.
Seolah-olah, ucapan Cita menyadarkannya, namun sungguh ia tak punya niat menindas Cita, hanya ingin mengerjai Cita, tapi malah justru membuat Cita sakit hati, dan Dewa menyadari kesalahannya.
"Aku membenci Anda tuan, dan sampai kapan pun akan tetap begitu, dasar tidak punya hati.!!
Dewa merasakan sesak di dadanya dengan teriakan Cita, rasa bersalah pun semakin besar di rasanya, namun ia tidak menanggapi ucapan Cita, kembali berjalan meninggalkan Cita yang menangis di sana.
Cita yang masih betah di sana, memikirkan ucapan Dewa, yang mengatakan kalau ia mengundurkan diri, harus membayar, kerugian perusahaan sebesar 10 juta, andai ia punya uang sebanyak itu, ia akan memberikan kerugian itu, dan bisa terlepas dari belenggu Dewa.
Sementara Dewa yang berada di ruangannya, duduk termenung di kursi panasnya, sungguh ia tidak punya niat dengan apa yang di tuduhkan Cita padanya tadi.
"Apa aku sudah terlalu berlebihan, hingga Cita begitu murka tadi, tapi jujur aku tidak punya niat seperti itu, dan hanya mengerjai nya saja, tidak lebih"
Berperang dengan batinnya, ucapan Cita selalu terngiang di telinganya, membuat Dewa semakin merasa bersalah.
Dewa yang melamun, hingga tak sadar Rafa masuk ke ruangannya, bahkan Rafa, mengerutkan dahinya, yang melihat Dewa masih larut dalam lamunannya.
__ADS_1
Rafa yang sudah memanggil Dewa sampai dua kali, tidak mendapat respon sama sekali, membuat Rafa kesal, hingga akhirnya Rafa, melempar Dewa dengan sebuah buku, barulah Dewa tersadarkan dari lamunannya itu, dan terkejut karena Rafa ada di ruangannya.
"Apa yang kau pikirkan?? sudah seperti orang yang kesambet aja, di panggil berapa kali, malah melamun nggak jelas.!
"B.. bukan apa-apa bos"
"Kalau ada masalah cerita, dan jawaban apa itu, bukan apa-apa, kau menganggap aku seperti baru mengenalmu dua hari saja, dan aku tahu kau orang seperti apa.!!"
Dewa bungkam, memang ia dan Rafa sudah saling memahami satu sama lain, bahkan tidak ada yang bisa mereka sembunyikan kalau sudah menyangkut dengan pribadi mereka masing-masing.
"Nggak mau cerita?? aku tahu kau butuh teman cerita, maka katakanlah, sebelum aku memaksa mu, dan tentunya akan menjadi lain ceritanya"
"Dasar pemaksa.! tahunya hanya mengancam doang" kesal Dewa, karena tidak bisa menyembunyikan dari Rafa, sahabat sekaligus bos nya itu.
"Katakan, jangan buat aku menunggu, sebelum aku cari tahu sendiri"
"Entahlah.! menarik nafasnya panjang, seolah berat untuk mengatakan, dan semakin merasa bersalah.
"Aku, sudah salah berpikir, hingga tak sengaja malah membuat seseorang sakit hati"
"Maksudmu gadis itu??"
Dewa mengangguk, membenarkan tebakan Rafa, bahkan Dewa membuang pandangannya ke arah lain, malu pada Rafa, yang sudah ketahuan karena sikapnya yang terlalu bodoh.
"Dari awal aku sudah mengingatkan mu, semenjak kau membawa gadis itu bekerja di sini, terkadang kesenangan itu bisa jadi lawan kita, kalau kita melupakan apa yang menjadi hak orang lain, sekarang kau menyesal kan??
Dewa tak menjawab ucapan Rafa, karena apa yang Rafa katakan adalah benar, karena ia sudah sangat menyesal, apa lagi sudah membuat Cita sampai menangis, bahkan menyerah untuk tetap bertahan sebagai karyawan perusahaan.
Awalnya memang Dewa hanya ingin membalas saja, tidak serius sama sekali, namun justru membuatnya lupa, karena menyenangkan membuat Cita selalu kewalahan, bahkan Dewa, tidak menyadari, Cita yang tidak pernah mengeluh, justru menyimpan semuanya, hingga tak memiliki tempat lagi, hal hasil pun meluap dan meledak, tanpa ia sadari sedikit pun.
Kejahilan Dewa, selama Cita bekerja, justru menimbulkan sesuatu pada Dewa, dengan ia yang selalu memperhatikan Cita, dan peduli pada Cita, namun tidak berhenti mengerjai Cita. Tapi Dewa tidak menyadari sikapnya itu, sebenarnya ia punya perasaan lebih pada Cita, karena ingin selalu melihat Cita, dengan membuat Cita selalu sibuk bekerja, dan berada di dekatnya. Namun caranya justru salah, bukannya membuat Cita, balik memiliki perasaan padanya, justru membuat Cita membencinya.
"Masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, dan tentunya kau harus memulai dari awal, maka berjuanglah, sebelum kau menyesal lebih jauh dan dalam dari sekarang ini" ujar Rafa, mengingatkan sahabatnya itu, lalu meninggalkan Dewa, yang masih dilema, dengan kejadian hari ini.
__ADS_1
Next.....
Up lagi ya Sob, yang masih setia, komen hadir ya,, biar author semangat, dan juga dukungannya, makasih. 🙏🙏🙏