
Setelah Celi bicara pada Nana, dan Nana sudah mulai tersenyum, dan bermain dengan temannya.
Celi pun merasakan lega, jujur hatinya teriris mendengar cerita Nana, yang tega menelantarkan Nana.
Celi sejenak merenung, Lara dan Dino, tidak mensyukuri apa yang sudah mereka dapat??
Apa mereka tidak menyadari, Tuhan memberi mereka amanah yang indah, ketika sudah percaya pada suami istri itu mempunyai anak dari darah dagingnya sendiri, karena telah menerima dan mengasuh Nana dengan kasih sayang.
Namun saat kepercayaan itu di beri pada Lara dan Dino, mereka justru menyakiti dan membuang Nana.
Kalian tidak menyadari "Bahwa yang berasal darinya akan kembali padanya jika sang pemberi mengambilnya??
Celi menarik nafasnya dalam, lalu berjalan masuk menemui Felix di ruang kerjanya.
" Senang bermain dengan anak-anak?? Felix bertanya saat melihat Celi masuk ke ruangannya.
"Sangat tante,, tersenyum hangat, namun pikirannya masih tertuju pada Nana.
" Anak-anak akan senang, bila kamu sering kemari.
"Itu akan menyenangkan,, dan mereka sangat menggemaskan, terkekeh saat ingat anak-anak berebut ice cream tadi.
Di kantornya Rafa semakin menggila, lagi dan lagi menghubungi nomor Celi, tetap tidak ada jawaban, membuat Rafa panik, marah dan frustasi.
" Dewaaa..!!!!!
Teriakan Rafa mengelegar di ruangan itu, hingga membuat Dewa yang berada di luar ruangan, terlonjak kaget, berlari masuk ke dalam.
"Ada apa tuan.?? Dewa menjawab dengan nafas ngosngosan, karena berlari.
" Cari tahu di mana lokasi Celi, sekarang.!!!
"Siap tuan.!
Dewa menjawab cepat, melihat wajah yang sudah berkabut marah itu, sekali ia bertanya, maka akan meledak.
Lima belas menit berlalu, Dewa pun memberi laporan bahwa wanita tuannya sedang berada di panti asuhan milik Ny nya.
"Lokasi Nona berada di Panti Asuhan tuan, ucap Dewa sopan.
"Hm,, lanjutkan kerjamu, Rafa pun menghela nafasnya, kalau di panti kenapa tak mengangkat telponku, apa karena anak-anak di panti dia jadi melupakanku?? tidak bisa di biarkan ini, pikirnya.
Celi terkejut saat melihat Rafa datang ke panti, raut wajah Rafa terlihat masam saat mendapati Celi tengah asik bercerita pada momnya.
"Segitu asiknya cerita, hingga mengabaikan telponku sayang?? ujar Rafa menunjukkan wajah cemberutnya, duduk di sebelah Celi.
__ADS_1
"Uppsss,,, maaf sayang, ponselku ketinggalan di mobil tadi, aku melupakannya, tersenyum kikuk.
" Pantaslah,, sampai hari raya keling pun, tidak akan ada yang mengangkat panggilanku, cemberut, kesal karena menurutnya Celi lalai.
"Aku panik dan hawatir setengah mati, karena tak menerima jawaban dari tadi pagi.
" Maaf,, sahut Celi lirih, tahu kalau Rafa kesal saat ini.
"Lebayyy.!!
Felix yang melihat tinggkah putranya sedari tadi pun, jengah karena sikapnya tak jauh dari suaminya, menyahut mengejek Rafa.
" Apaan sih mom,, Rafa tak suka momnya meledek begitu, padahal ia memang benar-benar hawatir tadi.
"Lagian mom bawa Celi ngak izin dulu dari Rafa,,, kesal karena sang kekasih di bawa tanpa sepengetahuannya.
" Kamu kira mom penjahat hah.!! Felix pun semakin jengah dengan ucapan putranya itu.
"Bukan begitu juga,, tapi kan Rafa hawatir, kalau mom kasih tahu kan Rafa ngak panik.
" Kalau mom bilang,, kamu pasti akan banyak bicara, yang ada mom akan gagal membawa Celi.
"Lain kali jangan begini sayang, Rafa malah bicara ke Celi, tak merespon momnya yang ngomel-ngomel ngak jelas.
" Iya, maaf sayang, tersenyum paksa karena Rafa sangat posesif.
"Heii.!! mau di bawa kemana Celi??
" Sudah cukup mom meculiknya dariku, sekarang dia hanya milik Rafa,, terus berjalan tanpa menghiraukan momy nya.
"Dasar..!! ngak anak, ngak dadynya sama-sama pemaksa.
Huhh..!! kesal Felix dengan sikap putranya itu, hingga sang suami pun terseret.
Rafa membawa Celi, untuk makan siang.
Mereka singgah di tempat makan sewaktu mereka masih jadi anak rumah kost, meski mereka sudah tidak lagi bersandiwara, namun warung itu, sudah tempat favorit mereka.
Di sela makan siang, Celi pun ingin menceritakan tentang Nana, karena ingatannya belum lepas dari cerita Nana yang menyedihkan.
" Sayang..
"Hm,, ada apa??
Rafa menjawab sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
" Aku mau minta pendapatmu??
"Tentang.??
Rafa menautkan alisnya saat menatap Celi yang minta pendapatnya.
" Tadi waktu di panti, aku bertemu seorang anak perempuan.
"Lalu.?? masih bingung dengan perkataan Celi.
" Saat bermain dengan anak yang lain, anak perempuan itu tidak sebahagia anak panti lainya, karena penasaran aku mendekatinya tadi.
"Saat aku sudah lebih dekat dengannya, akhirnya anak perempuan itu pun bercerita tentang sebelum ia berada di panti.
" Saat cerita aku jadi paham, mengapa anak perempuan itu, menyendiri dan terlihat murung, ternyata dia pernah mengalami tekanan bahkan pernah di siksa oleh keluarga yang pernah mengadopsinya.
"Siapa nama anak itu??
" Nana..!
"Bukankah itu, gadis kecil yang pernah di bawa mom ke rumah, dan setelahnya mom membawanya ke panti.
" Benar sayang, dia juga tadi cerita tentang itu.
"Lalu apa masalahnya, hingga kamu butuh pendapatku??
" Aku ingin meminta sama mom dan daddy, untuk mengadopsi Nana, bagai mana??
"Jangan terlalu mudah terbawa suasana sayang, kamu harus memikirkannya dengan matang, dan apa kamu yakin kalau mom dan daddy kamu setuju akan hal itu.
" Aku belum tahu dady dan momy setuju atau tidak, maka dari itu aku minta pendapatmu lebih dulu.
"Kalau menurutku, selama dady dan momy kamu setuju-setuju saja, tidak masalah.
" Namun sebelum kamu bicarakan ini ke momy dan daddy kamu, sebaiknya kamu harus lebih mengenal Nana dan memahami sifat dan pribadinya, saat sudah merasa yakin baru utarakan pada mereka.
"Aku ngak ingin kamu menyesali hal yang kamu lakukan dengan buru-buru.
'Siapa tahu aja Nana bicara bohong, harus waspada sayang sebelum jauh bertindak, Rafa mengingatkan Celi, agar tidak menyesali keputusannya, karena Celi baru mengenal Nana, hanya karena cerita yang membuat hati teriris, Celi langsung merasa iba, karena jaman sekarang banyak modus.
" Terima kasih sayang, sudah mengingatkan, dan aku akan perlahan akan mendekatinya dan mengenalnya lebih jauh, agar tidak menyesalinya di kemudian hari.
Rafa pun tersenyum, mengelus rambut Celi sayang, ia senang karena pendapatnya di hargai oleh kekasihnya itu.
Celi yang masih mengingat cerita Nana menghela nafasnya ringan, berkata dalam hati "Nana yang malang'
__ADS_1
Jejak jangan lupa ya Guys
Salam Arthor.