Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Ketahuan


__ADS_3

Sudah tiga minggu Cita selalu mendapatkan kejutan misterius, dan kali ini Cita akan berusaha mencari tahu siapa yang selalu melakukan itu padanya, dan ia kan membuat rencana untuk menemukan siapa yang sudah melakukan itu.


Pagi ini Cita berangkat bekerja seperti biasanya, dan saat ia tiba di perusahaan, Cita tetap bersikap biasa, agar tidak terlihat mencurigakan, dan orang yang selalu menguntit nya.


Cita mulai melakukan pekerjaannya seperti biasanya, di mulai dari ruangan Dewa, lalu ke tempat lainnya. Namun saat bekerja Cita tetap memperhatikan setiap gerak gerik orang yang ada di sekitarnya, berharap ia menemukan orang itu, dan ia akan bertanya, apa tujuan dan maksud dari orang itu, melakukan hal yang membuat Cita tidak nyaman.


Cita selesai mengerjakan tugasnya, ia sengaja tidak pergi ke ruang istirahat, dan sengaja bersembunyi di suatu tempat, dan ingin melihat siapa orang yang selalu membuatnya tidak nyaman, dengan keberadaan bekal makanan yang setiap hari selalu terletak di mejanya.


Dari jauh Cita mengawasi ruang istirahat para OB dan OG, suasana masih terlihat sepi, karena yang lainya masih bekerja di tempat masing-masing.


Cita yang jengah dan sedikit bosan mengawasi di sana, berpikir untuk pergi menuju lokernya, tempat yang juga selalu ia dapatkan sebuah kejutan yang membuatnya tak nyaman.


Saat Cita berjalan ke arah lorong loker, tak sengaja ia melihat Dewa baru saja melintas dan membawa sesuatu di tangannya, dengan langkah pelan dan hati-hati, Cita berjalan mengikuti Dewa yang sudah berlalu lebih dulu.


Dengan jantung yang berdebar Cita yang mengintip di balik lorong, langsung menutup mulutnya, dan matanya melotot hampir keluar, karena terkejut melihat kenyataan yang ia lihat.


Dewa yang melihat sekitarnya, dengan cepat memasukkan barang yang di bawanya ke dalam loker Cita, dan ia menutup kembali loker itu, setelah berhasil memasukkan sesuatu ke dalam loker Cita.


Merasa aman Dewa pun berjalan santai, dan merasa ia berhasil lagi memberi Cita kejutan menarik, di barengi senyum tipis, Dewa berjalan tanpa merasa ada beban. Namun senyum tipis itu langsung memudar saat di belokan lorong, ia melihat Cita berdiri dengan sorot mata tajam, dan terlihat tak suka pada Dewa.


Dewa pun mematung di tempatnya, melihat Cita yang berdiri di sana, sudah tentu Dewa bisa menebak kalau ia ketahuan, orang yang melakukan hal itu pada Cita selama ini.


Melihat reaksi Dewa yang mematung tertunduk, Cita bisa menebak, kalau Dewa sudah tertangkap basah, dan tidak akan bisa mengelak dan berdalih.


"Kenapa anda melakukan itu??


Dewa yang mendengar pertanyaan Cita, masih bungkam, namun ia memberanikan diri untuk menatap Cita, dan terlihat jelas tatapan mata Cita yang tersirat tak suka padanya.


" Maaf, soal itu aku bisa jelaskan"


Dewa pun akhirnya buka suara, dan berharap Cita mau mendengarkan alasannya.


"Apa maksud dari semua itu??

__ADS_1


Lagi lagi Cita bertanya, dan hal itu membuat Dewa semakin tersudut, karena Cita seakan tidak perduli dengan penuturan maaf dari Dewa barusan.


" Maaf, kalau yang kulakukan sudah membuatmu tidak nyaman, tapi aku melakukan itu karena memiliki alasan"


Dewa masih berharap Cita tidak salah paham dengan apa yang ia lakukan selama ini.


"Saya tidak butuh penjelasan dari anda, tapi saya bertanya kenapa anda melakukan itu, dan saya sangat tidak menyukai cara anda yang seperti ini, melakukan hal yang membuat saya tidak nyaman,, bahkan ketakutan"


Cita bicara sedikit emosi, karena orang yang selama ini ia cari tahu itu ternyata tidak jauh, bahkan orang yang sangat ia kenal.


"Ok, aku tahu kamu marah dan kesal karena kelakuanku, tapi bisakah kamu sedikit saja mendengar lebih dulu penjelasanku, agar tidak terjadi salah paham, dan aku melakukan itu karena merasa bersalah, dan tentunya juga karena aku sudah membuatmu sakit hati, dan setelah aku tidak sengaja saat melihatmu pulang dari kampus, dan bekerja kembali di sebuah rumah makan,, dan hanya sebagai tukang cuci piring, jujur aku semakin merasa bersalah, karena sudah membuatmu marah dan sakit hati, dan aku melakukan cara ku sendiri untuk membantumu, dan aku tahu kamu butuh biaya untuk kuliah mu, maaf kalau aku sudah lancang"


Dewa menjelaskan panjang lebar, untung saja suasana di lorong itu masih sepi, dan jarang di lalui para karyawan.


"Tapi saya tidak butuh bantuan atau pun perhatian anda, dan saya harap ini tidak akan terulang lagi" Cita menjawab ketus, kesal dan marah sudah pasti ia rasakan saat ini, apa lagi ia tahu kenyataan dan siapa orang di balik yang selalu menguntit nya.


"Tunggu sebentar" ujar Cita, yang melihat Dewa ingin pergi, hingga membuat langkah Dewa pun terhenti, dan membalikkan badannya, melihat Cita yang berjalan ke arah lokernya.


Cita berjalan ke arah Dewa, dengan membawa barang yang baru saja Dewa masukkan di lokernya dan amplop coklat yang ada di tangannya.


"Ini semua bukan hal saya, dan tolong anda membawa kembali milik anda ini, dan ini uang yang selama ini selalu saya temukan di dalam tas saya, saya tidak memakainya sepeser pun"


Deg


Dada Dewa terasa sesak, ia tidak menyangka sama sekali kalau Cita akan mengembalikan pemberiannya yang secara diam-diam itu, padahal ia ikhlas dan juga sebagai penebus kesalahannya,, yang sudah salah menilai Cita sebelumnya,, hingga ia melakukan kesalahan membuat Cita marah dan sakit hati, karena di permainkan dalam pekerjaannya.


"Apa yang sudah ku beri tidak akan ku ambil kembali, jika kamu tidak ingin uang itu atau pun barang yang lainnya, buang saja, dan uang itu bisa kamu berikan pada siapa pun" ujar Dewa, dan langsung berbalik badan, pergi meninggalkan Cita yang masih berdiri dan bengong mendengar kata kata Dewa barusan.


Cita masih menatap kepergian Dewa, hingga menghilang di balik lorong, dan sesaat ia pun menghembuskan nafasnya kasar, namun ia tak ingin barang dan uang itu jadi miliknya, Cita justru mengikuti Dewa, dan menemui Dewa di ruangannya.


Baru saja Dewa duduk di kursi kebesarannya, tak lama Cita pun masuk juga, dan di tangannya masih ada barang dan amplop coklat itu.


Dewa yang melihat Cita masuk ke ruangannya, kaget karena melihat Cita masih membawa pemberiannya itu.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini?? tanya Dewa, membuang pandangannya ke arah lain, dan tak ingin melihat wajah Cita, hatinya sakit saat Cita ingin mengembalikan apa yang sudah ia berikan, meski itu dengan cara yang tidak tepat, namun ia ikhlas, dan bukan hanya karena rasa bersalahnya saja, tapi juga karena perasaannya,, yang sudah semakin besar pada Cita.


" Saya hanya ingin mengembalikan ini" ujar Cita yang tetap bersikeras mengembalikan barang dan juga uang itu.


Dewa mengepalkan tangannya, bahkan rahangnya mengeras, karena Cita tidak menghargai pemberiannya.


"Aku kan sudah bilang, kamu bisa membuangnya kalau tidak suka atau membutuhkannya, karena aku tidak akan mengambil apa yang sudah aku berikan!! " Dewa bicara dengan suara yang sedikit meninggi, dan terlihat marah, entah karena perasaannya yang sakit, atau karena Cita yang tak melihat perasaannya yang sudah menyimpan nama Cita di hatinya.


Cita yang mendengar suara tinggi dari Dewa, terkejut dan takut, baru kali ini ia melihat Dewa marah dan serius.


Cita pun memberanikan diri, berjalan mendekati meja Dewa, lalu meletakkan yang di bawanya tadi di atas meja.


"Aku tidak punya hak membuang yang bukan milikku, dan ini semua milik anda, dan jika anda ingin membuangnya, maka anda yang paling berhak" ujar Cita yang tak lagi ingin basa basi, dan tak ingin berdebat.


"Apa kamu kira aku melakukan ini, karena rasa kasihan??" tanya Dewa, menghentikan langkah Cita,, yang hendak keluar dari ruangan Dewa.


Cita sama sekali tidak berbalik, namun ia berdiri di tempatnya,, dan posisi membelakangi Dewa, seolah menunggu apa yang akan Dewa katakan selanjutnya.


"Aku melakukan ini, karena aku menyukai mu, mencintai mu, aku tidak tahu kapan rasa ini ada, namun selama aku terus mengikuti mu, dan aku akui aku selalu menguntit mu, setelah kejadian waktu itu, aku selalu melihatmu dari kejauhan,, dan membuatku nyaman saat aku bisa melihatmu, dan perasaanku pun semakin besar, maaf kalau aku sudah lancang dengan perasaan ini, walau aku tahu kamu sama sekali tidak punya perasaan apa pun padaku, malah kamu sangat membenciku" Dewa yang sudah tidak bisa lagi menahan, akhirnya pun mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini, dan meski pun Cita tidak mencintainya, setidaknya ia merasa lega, telah berterus terang tentang perasaannya.


Cita yang mendengar ungkapan Dewa, dadanya bergetar, bahkan ia meneteskan air mata, jujur sebelum Dewa melakukan kejahilan padanya, Cita sempat menaruh hati pada Dewa, namun karena kesal dan marah, Cita tidak lagi mempedulikan perasaannya dan merasa ia sudah berlebihan, dan terlalu banyak bermimpi, mana mungkin seorang Dewa yang mapan menyukai seorang OG, begitulah pikiran yang terlintas saat Cita merasakan perasaanya di awal.


Dewa yang melihat Cita masih berdiri membelakangi nya, berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Cita, dan berdiri di hadapan Cita, bahkan Dewa melihat air mata Cita yang menetes deras, membuat dadanya sesak karena sudah membuat wanita yang ia cintai menangis.


Dewa yang tak tahan, langsung menarik Cita ke dalam pelukannya, mendekap nya erat, apa lagi tidak ada penolakan dari Cita, hingga Dewa bisa merasakan kalau Cita juga memiliki perasaaan yang sama dengannya.


"Jangan menangis, maaf sudah membuatmu kecewa, dan mulai saat ini,, kamu hanya bersandar padaku saja, karena kamu wanitaku dan milikku mulai saat ini, apa kamu paham??


Cita pun semakin menangis, dalam dekapan Dewa, dan mengangguk pasrah, sebagai jawaban dari ucapan Dewa barusan, dan anggukan itu, membuat Dewa tersenyum bahagia, dan semakin erat memeluk Cita, bahkan Dewa tak segan segan, langsung ******* bibir ranum Cita yang sangat imut menurutnya, dan tentunya, Cita membalas ciuman yang menghanyutkan itu, dan membuat keduanya, tersengal sengal,, karena hampir kehabisan nafas, yang terbuai dan larut dalam ungkapan cinta itu.


Wajah Cita bersemu merah, malu karena Dewa selalu menggodanya, bahkan Dewa semakin genjar dengan aksinya, bagai anak abg yang di mabuk cinta, dan keduanya pun akhirnya menjalin hubungan spesial, dan Dewa sangat bahagia.


Next....

__ADS_1


__ADS_2