Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Atika Pergi


__ADS_3

Semenjak pertengkaran itu, Rafa sama sekali tak pernah terlihat di mansion, masih tetap bertahan di apartemen, meski ia tersiksa dengan kesepian yang melanda, Rafa masih tetap dengan keputusannya, atau ego nya yang terlalu tinggi, hingga berharap sampai istrinya mengakui kesalahannya yang sudah membuat Rafa sakit hati.


Atika sama sekali tak bertanya pada siapa pun soal suaminya yang tidak pernah pulang, namun tak bisa ia pungkiri juga, Atika merasakan kehilangan arah tanpa suaminya di sisinya, dan hanya bisa menyembunyikan kesedihannya, dan menangis di dalam kamarnya.


Sebenarnya felix dan aliando tak tahan melihat situasi putra dan menantunya itu, meski sudah berulang kali membicarakan hal itu pada Rafa, namun rafa masih tetap dengan keputusannya.


Setelah selesai sarapan pagi, Atika yang merasa jenuh dengan masalah yang ada, ingin menghibur diri sejenak, berpikir dengan mencari suasana baru, ia akan merasa lebih baik, dan mengajak dua orang Art menemaninya berbelanja, sambil menghilangkan sedikit sesak di hatinya.


Setelah bersiap, Atika pun pergi bersama para art itu, felix senang karena Atika mau keluar rumah, sebelum pergi ia sudah bicara pada art, agar memperhatikan dan menjaga menantunya, bahkan felix menugaskan dua anak buah Rafa, untuk memantau, trauma dengan kejadian yang pernah ada, mengingat banyak lawan bisnis putra dan suaminya.


Menikmati suasana luar, hati Atika sedikit adem, dan sedikit melupakan masalah yang ada, hingga tak terasa mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan.


Atika turun bersama kedua Art dari mobil yang mereka tumpangi, dan berjalan masuk ke pusat perbelanjaan.


Melihat kedua Art itu yang begitu antusias, Atika senang, mengingat dulunya ia juga begitu, yang sangat jarang pergi ke pusat perbelanjaan, karena situasi dan keadaan yang tidak memungkinkan ia bisa menikmati hal yang lebih, seperti para gadis setaranya.


Atika dan para Art pun mulai sibuk, memilih apa yang akan mereka beli, dan masih sibuk melihat-lihat, hingga Atika mencium bau makanan yang mengunggah selera nya, hingga tak bisa menahan lagi hingga mereka selesai berbelanja, memanggil ke dua art itu, untuk mengajak makan lebih dulu, baru nanti belanja lagi.


Namun para art justru tidak ingin makan, mereka lebih antusias belanja dari pada makan, karena makanan di restoran itu tidak begitu jauh enaknya dengan makanan di rumah, karena masakan di rumah selalu di sajikan oleh koki ternama, meski pun mereka para art, majikannya beda dengan yang lain, yang membedakan makanan para art dan majikan, tapi tidak dengan felix, yang menyamakan semuanya dengan dirinya, karena dia manusia, bukan berarti para art bukan manusia, dan harus di beda-bedakan, itulah seorang felix, yang sangat di cintai para Art dan pekerja lainnya, hingga tidak memiliki niat untuk berbuat jahat padanya, karena ia begitu menghargai orang lain.


Karena para art itu tak berniat makan, mereka akhirnya membagi tugas.


kedua Art itulah yang belanja, dan Atika pergi makan, apa pun yang di inginkan nya, apa lagi keadaan yang sedang hamil, tentu banyak makanan yang ia inginkan, hingga Atika pun setuju dengan saran para art tersebut.


Melihat nona mudanya berjalan ke lain arah, kedua anak buah yang memantau pun mulai mengikuti Atika, dan membuat jarak, agar nona mudanya itu tidak curiga.


Atika yang sudah tiba di restoran makanan itu pun, langsung memesan makanan yang di inginkan nya.


Banyak menu yang ia pesan, bahkan porsinya lumayan banyak, Atika pun menikmati makanan yang ia pesan itu.


Namun saat, Atika tengah asik menikmati makanan nya, tak sengaja ia melihat suaminya berjalan dengan seorang wanita cantik, dan duduk di pojokan restoran itu.


Terlihat begitu dekat dan sangat akrab, pemandangan itu tak lekat dari Atika, hingga tak Atika sadari air matanya menetes pilu.


"Pantas kamu nggak pulang-pulang mas, ternyata kamu sudah begitu bahagia dengan seseorang, ternyata kamu menuduh ku yang tidak-tidak, itu hanya mengalihkan perbuatan mu, yang ternyata menghianati ku mas" batin Atika, dan tangisnya pun semakin pecah.


Tak ingin di perhatikan orang banyak ia bersedih, Atika pun pergi ke toilet, di sana ia lagi dan lagi, menumpahkan tangisnya, dan mengusap dadanya berkali-kali.


Membasuh wajahnya agar tak terlihat baru menangis, merasa lebih baik, Atika pun keluar dari toilet, membayar semua pesanannya, dan berlalu pergi dari tempat itu, karena tak tahan melihat suaminya yang begitu dekat dengan seorang wanita cantik.

__ADS_1


Atika menghubungi para Art itu, dan mengatakan kalau ia sudah menunggu di dalam mobil, para art pun langsung bergegas, menyudahi belanja mereka, dan membayar dengan tagihan pakai kartu yang Atika berikan sebelum mereka berpisah tadi.


Suara notifikasi dua kali masuk ke ponsel Rafa, yang pertama Rafa mengabaikan, namun yang kedua Rafa pun mencek, pesan yang masuk.


saat melihat pesan itu, ternyata pesan dari nomor kartu kredit yang di gunakan Atika, menandakan Atika sedang memakai kartu itu berbelanja.


Sejenak Rafa mengedarkan pandangan nya, berharap bisa melihat sosok istrinya, karena tak bisa di pungkiri Rafa sangat merindukan Atika.


Namun Rafa, tak mendapat sosok yang ia cari, hingga melanjutkan obrolannya dengan wanita yang bersamanya saat ini.


"Flash back on"


Sebelumnya Rafa kedatangan sahabatnya dari luar negeri, sahabat semenjak ia sekolah dasar, dan sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, hingga Rafa mendapat kabar dari sahabatnya itu sedang berada di tanah air, dan berencana bertemu di suatu tempat.


Rafa yang mendapat alamat sahabatnya itu, yang bernama sonia Luwu, menjemput sonia di alamat yang di berikan, dan Rafa pun mengajak sonia ke sebuah restoran yang ada di pusat perbelanjaan, agar mereka lebih leluasa cerita dan mengenang masa kecil mereka dulu.


Sonia yang di kenal wanita periang, dan ia juga sudah menikah dengan pria berdarah Jepang, hingga membuat Sonia harus menetap di negara asing.


Namun siapa sangka, di sela gurau dan canda Rafa bersama sonia, ada seorang wanita yang melihat kedekatan itu bahkan begitu akrab, hingga menjadikan salah paham, karena masalah yang ada, dan Rafa tak menyadari sudah membuat wanita yang melihat itu sakit hati dan hancur, hingga pikirannya pun berpikir jauh, dengan apa yang dilihat dengan matanya sendiri.


"Flash back off"


Setelah para art itu masuk ke mobil mereka pun, langsung pulang, namun para art melihat Atika sedikit aneh, karena selama perjalanan Atika hanya diam, bahkan wajahnya terlihat sembab.


Setibanya di mansion, Atika langsung menuju kamarnya, kembali menangis, dan merasakan sesak di dadanya.


"Aku tidak salah mengatakan, kamu hanya melihatku dari sisi kasihan mas, bukan mencintaiku dengan tulus" batin atika menangisi nasibnya.


"Lalu untuk apa aku masih di sini, sudah jelas aku tidak lagi di inginkan di rumah ini, dan hampir satu minggu mas Rafa tidak pulang, karena sudah ada yang lebih pantas untuk mengantikan ku, bahkan sepadan dengan mas Rafa.


" Apa yang kamu harapkan Atika?? semua itu tidak akan seindah mimpi mu, dan yang kamu harapkan itu hanya bisa terwujud di mimpi saja, tidak di dunia nyata"


Atika semakin berpikir jauh, hingga ia memutuskan pergi, dan hanya membawa dua pasang baju, merasa ia tidak punya hak membawa yang bukan hasil jerih payahnya.


Namun sebelum pergi Atika, sempat menulis surat untuk felix, biar bagai mana pun felix tetaplah orang tuanya.


Teruntuk mommy..


"Mom maaf, Atika pergi, dan tika nggak akan pernah melupakan mom, tapi pesan tika, tak usah mencari tika mom, karena tika akan pergi jauh. Terima kasih mom, atas kasih sayang mommy selama ini, yang sudah menjadikan Atika seperti putri mom sendiri. Titip salam tika buat mas Rafa juga daddy, tika harap kalian bisa memaafkan semua kesalahan tika. Selamat tinggal..

__ADS_1


*Atika*


Sebelum pergi Atika mengambil uang hanya secukupnya saja, ia tidak mau di cap pergi dengan membawa kabur uang dan barang milik keluarga suaminya, dan memilih pergi, meski belum tahu tujuannya ke mana.


Dengan mengendap-endap, Atika pergi lewat taman belakang, sebelumnya ia sudah memesan taksi, sementara ketepatan felix sedang tidak di mansion, karena ada panggilan dari panti asuhan.


Kepergian Atika tidak di ketahui oleh siapa pun, dan saat sudah di luar mansion, tak lama taksi yang di pesan Atika sudah tiba, Atika pun masuk kedalam taksi tersebut dan memintanya mengantar ke terminal.


Mengingat kampung halaman ibunya, Atika memilih pergi ke sana, karena kalau ia pergi ke kota A, maka ayahnya akan memberitahu keberadaannya, lagi pula ia tak ingin ayahnya susah karena masalahnya saat ini, takut ayahnya banyak pikiran, hingga membuat kesehatan ayahnya terganggu.


Sementara Felix yang baru saja pulang, langsung menemui kedua art yang menemani Atika belanja tadi, ia ingin tahu apa menantunya itu menikmati waktunya saat di luar rumah tadi.


Namun apa yang Felix harapkan tidak sesuai dengan yang ia pikirkan, laporan para art itu, justru membuat Felix sedih, namun tak bisa berbuat banyak, karena putranya sangat keras kepala.


Saat Felix melamun, memikirkan Atika, Aliando pun kembali dari kantornya.


Melihat istrinya duduk melamun, aliando pun menghampiri sang istri, karena tidak biasanya istrinya lesu begitu.


"Lagi mikirin apa mom, hm?? Duduk di sebelah Felix, sembari mengelus ujung kepala istrinya lembut.


" Mommy hanya memikirkan anak-anak Dad.! sampai kapan Rafa dan Atika seperti ini, mommy sedih, karena bibi bilang kalau Atika seperti menangis saat pergi belanja tadi"


"Apa ada yang menganggu nya?? berpikir menantunya di ganggu orang, saat di pusat perbelanjaan.


" Kata bibi nggak dad, Atika disana hanya makan, dan setelah itu mereka sudah di ajak pulang oleh Atika, tapi kata bibi Atika terlihat baru menangis, dan selama di jalan hanya diam hingga sampai mansion" ujar Felix menjelaskan.


"Mommy temui Atika ke kamarnya, siapa tahu Atika mau cerita" ujar aliando menyarankan istrinya, biasanya para sesama wanita, bisa lebih terbuka, pikir aliando.


"Baiklah, mommy ke atas ya dad"


Aliando pun mengangguk, sembari pergi ke kamar mereka, untuk membersihkan diri, dan istirahat sejenak.


Namun belum juga, sempat mandi, Aliando sudah mendengar jeritan istrinya, yang manggilnya, seperti orang yang ketakutan.


"Daddy.!!!!


"Dad.!!


Felix yang memanggil sudah menangis, sembari membawa surat yang ia temukan di kamar Atika.

__ADS_1


Next...


Up lagi ya Sob, semoga kalian suka, dan tetap dukung ya🙏🙏🙏


__ADS_2