
Pagi ini Dewa terlihat bahagia dan cukup segar berangkat ke kantor, mengingat dirinya yang sudah sah menjalin hubungan dengan Cita, justru membuatnya lebih semangat datang ke kantor.
Jelas saja, karena pujaan hatinya juga bekerja di perusahaan yang sama dengannya.
Meski Cita hanya seorang pekerja OG, Dewa tidak malu mengakui kalau Cita wanitanya, dan sudah tentu para karyawan yang juga bekerja di sana sedikit menghormati Cita sebagai kekasih orang nomor dua yang mereka hormati selain Rafa sang pemilik perusahaan, karena kedudukan Rafa dan Dewa bisa di bilang sebelas dua belas, karena dua pria yang berbeda sifat ini tentu sangat di segani dalam perusahan itu.
Setibanya di kantor, Dewa pun langsung menuju ruangannya, namun sebelumnya sudah pasti ia lebih dulu curi-curi pandang saat melewati ruang para OB dan OG, dan tentunya saat melihat wajah orang yang di cinta, bisa menambah amunisi tubuh, meski tak saling tegur sapa.
Setelah tiba di ruangannya, Dewa pun langsung teralihkan karena getar ponsel yang ada di saku celananya, saat melihat tertera nama tuan mudanya di sana, tak ingin sang tuan muda menunggu lama, Dewa pun segera menekan tombol hijaunya.
"Selamat pagi bos"
"Wah, dari nada suaramu aku bisa menebak kau lagi sedang bahagia, apa aku benar??"
Mendengar sindiran dari bosnya itu, Dewa sedikit cengengesan, karena merasa malu dan ketahuan karena memang saat ini ia sedang berbunga-bunga.
"Ah, sedikit sih bos, apa bos perlu bantuan??
Langsung mengalihkan pembahasan, tak ingin bosnya itu selalu meledek nya terus.
" Cih.!! sepertinya kau sudah jadi budak cinta ya, jangan kira aku tidak tahu kau sengaja mengalihkan topik"
"Kan seharusnya bos udah lebih paham, dan nggak menarik juga kan kalau aku cerita terlalu jauh bos, karena menurut saya, cerita cinta bos yang paling berkesan dan sangat bucin"
"Wah, wah, sudah pintar ya, gini nih, kalau udah terlalu lama berakar jadi jomblo akut, sekalinya kena virus C langsung melesat jauh ya"
Dewa pun sedikit kesal karena di katai jomblo akut, namun ia akhirnya tersenyum sendiri, bahkan bicara dalam hati, "Meski jomblo akut, tapi kan nggak sia-sia juga"
__ADS_1
Tak ingin larut dalam candaan pagi ini, akhirnya Dewa pun kembali bicara lewat sambungan telepon genggamnya, menanyakan apakah ada hal penting yang harus ia kerjakan pagi ini.
"Maaf Bos, apa bos perlu sesuatu?? tanyanya memastikan kembali.
" Bukan saya yang perlu sesuatu, dan hari ini saya nggak masuk kantor, mau nemani Atika belanja, keperluan baby Reza"
"Maksud bos menghubungi saya hanya mau bilang itu doang??"
"Cih!! makin lama aku merasa kok kamu jadi Dewa yang sedikit kemayu ya, baru seminggu juga kenal cinta, udah hilang kemana ketegasan mu itu"
"Bukan begitu maksud saya bos, tadi kan bos yang bilang sendiri, kalau bukan bos yang perlu lantas saya tanya begitu, eh malah saya yang bos ledekin melulu"
"Hmm baiklah, kali ini kau selamat, tapi sebelumnya saya mau bertanya sama kamu dan kamu jawab sejujur-jujurnya"
Dewa yang mendengar ucapan bosnya yang cukup serius, sedikit merinding, dan beberapa kali menelan ludahnya, mendengar kalimat "sejujur-jujurnya", apa ia melakukan kesalahan, seolah Terintimidasi, Dewa pun tidak lagi bersikap seperti semula, ia langsung dalam mode tegas, karena menurutnya yang akan di tanyakan bosnya itu adalah hal yang serius.
" Silahkan bos, saya akan jawab sejujur-jujurnya, apa pun yang akan bos tanyakan"
Rafa tersenyum dari seberang sana, dan tentu kali ini ia tidak akan membiarkan Dewa bahagia di atas angin, karena ia akan membuat Dewa mengalami apa yang pernah ia alami dulu, dan sebelum Rafa mengatakan pertanyaannya, ia sengaja membuat HP nya mode speaker, agar apa pun jawaban Dewa bisa di dengar siapa pun, karena saat ini Rafa sedang menikmati sarapan bersama keluarganya, sudah tentu mommy dan daddy nya ada juga di sana.
"Apa kau masih ingat siapa yang lebih berkuasa di keluarga Widodo Pratama? "
Pertanyaan macam apa itu, pikir Dewa saat ia mendengar pertanyaan yang baru saja di lontarkan bosnya itu, sudah tentu ia sangat tahu, siapa lagi kalau bukan nyonya dan tuan besarnya.
"Tentu bos, jelas tuan dan nyonya besar" sahut Dewa masih dalam mode sabar dan tenang.
"Apa kau masih ingat, apa julukan yang selalu daddy dan aku katakan buat nyonya besar mu itu??"
__ADS_1
Lagi-lagi Dewa tak habis pikir, apa kepala bosnya ini sedikit eror, hingga harus bertanya soal julukan nyonya besarnya itu? karena takut Dewa pun tak bisa menghindar, dan ia tentu harus menjawab, karena kalau tidak di ladeni, bisa panjang urusannya, batin Dewa.
"Tentu, nyonya besar kan punya julukan istimewa, " Si macan betina" bos.
Dewa tidak menyadari sama sekali kalau ia sedang di kerjai oleh bosnya itu, bahkan saat ini Rafa ingin sekali tertawa terbahak-bahak, saat melihat ekspresi mommy nya, yang ingin menelan Dewa hidup-hidup.
"Good, kau memang yang terbaik Dewa, dan dengarkan ini baik-baik, karena saya tidak akan mengulanginya"
"Tentu bos, saya mendengarkan"
"Nanti malam mommy mengundangmu makan malam, dan sekalian katanya kamu bawa itu bidadari mu yang baru kau temui di pemandian air terjun, karena mommy ingin mengenalnya, bukan begitu mommy??
Rafa sengaja berkata pada mommy nya, agar Dewa tahu kalau sejak tadi mereka bicara di dengar seluruh anggota keluarga.
" Tentu, karena mommy sudah tidak sabar ingin melihat wajah seseorang yang sudah mengatai mommy "Macan Betina"
Mendengar suara nyonya besarnya itu, Dewa langsung ketar ketir, bahkan menelan ludahnya pun sangat sulit, dengan wajah yang sudah memerah, Dewa langsung gelagapan, seperti orang yang tertangkap basah mencuri, "Habislah aku" hatinya.
"Kau sudah dengar kan dewa?? "
"T tuan muda, anda sangat curang, dan sangat tega mengerjai saya"
Tawa Rafa langsung pecah, mendengar Dewa yang bicara terbata di seberang telepon nya.
Sungguh ia sangat puas, dan sudah di pastikan mommy nya akan menindas Dewa lewat bidadari dari air terjun itu, dan tentunya gadis itu adalah Cita.
Mendengar tawa Rafa yang begitu puas mengerjai nya, Dewa bahkan tak lagi perduli dengan tuan muda nya itu, ia langsung memutuskan sambungan telepon nya, dan langsung menepuk jidatnya, karena ia tidak akan bisa lepas dari sang nyonya besar, si macan betina, membayangkan saja Dewa sudah bergidik ngeri, mengingat bagai mana dulu, nyonya besarnya itu menindas tuan mudanya itu, bahkan anaknya saja tidak berkutik, apa lagi Dewa yang hanya seorang orang kepercayaan keluarga Widodo, dan kali ini tamatlah riwayatmu Dewa.
__ADS_1
Dewa tak lagi bisa berpikir jernih, dan pikirannya hanya tertuju pada sang nyonya besar, bahkan wajah sang nyonya selalu muncul dalam hayalan Dewa, yang menampilkan wajah sangar, tanduk yang menancap di kepala, wajah merah padam, dan bahkan dari telinga dan mulut sang nyonya, keluar api yang berkobar 👹👹 membuat Dewa merinding disco, dan tentunya semua itu tidak dapat ia hindari, Dewa hanya bisa pasrah, dan tentunya ia akan menikmati serangan sang macan betina malam nanti, dan itu tidak bisa di ganggu gugat, karena sudah tertera di atas materai yang sah, dan di tanda tangani kedua belah pihak, habissslahhhhh sudahhhhh...
Next..