Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Lagi-Lagi Pengagum Rahasia


__ADS_3

Pagi ini Cita bekerja seperti biasanya, Namun Cita jadi terlihat was was, pikirannya masih tertuju pada barang yang ia temukan di dalam tasnya.


Bahkan selama bekerja, Cita memperhatikan setiap orang yang ada di dekatnya, namun tidak ada yang menandakan seseorang yang kagum padanya, karena yang ia perhatikan cuek, dan sibuk bekerja semuanya.


Cita akhirnya memilih tidak perduli, siapa pun itu, yang jelas ia hanya ingin mengembalikan yang bukan haknya.


Cita pun memasuki ruangan Dewa, di dalam Cita melihat Dewa sudah berada di ruangannya, tapi bagi Cita itu bukan lagi hal aneh, karena Dewa terkadang datang ke kantor lebih awal, dan terkadang sangat siang, dan tentunya Cita tidak punya hak mencampuri, atau pun memprotes itu, karena ia bukan untuk mengurusi pekerjaan orang lain, melainkan bekerja sesuai posisinya sebagai OG.


Dewa yang melihat Cita masuk ke ruangannya, hanya bersikap biasa, diam dan tak menyapa, karena ia takut saat menyapa Cita, justru tidak mendapat sambutan yang baik, tentunya akan menimbulkan rasa sakit di hatinya, hingga memilih bersikap seadanya saja, bagai atasan dan bawahan saja.


Cita pun mulai bekerja, di mulai dari membersihkan kaca ruangan Dewa, yang memang di disain dengan kaca pembatas yang tebal, tentunya harus selalu terlihat bening setiap harinya, dan itu sudah tugas Cita, membersihkan dan membuat ruangan itu rapi dan tentunya juga bersih.


Setelah membersihkan kaca, Cita pun membereskan beberapa map dan kertas yang berserakan, lalu ia pun mengambil alat penyedot debu, membersihkan ruangan itu secara keseluruhan.


Cita pun melanjutkan kerjanya ke kamar mandi, membersihkan dan menganti isi ulang tissue yang sudah habis, setelah selesai Cita pun keluar dari ruangan Dewa.


Dewa yang di sana hanya bisa mencuri curi pandang pada Cita yang sibuk bekerja, meski ingin sekali mengajak Cita berbicara, tapi ia belum berani, takut Cita tidak merespon, karena masih marah padanya.


Cita melanjutkan kerjanya di ruangan lain, karena ia memang di tugaskan untuk membersihkan beberapa ruangan tertentu, karena Cita tidak full time bekerja seharian, makanya Cita harus selalu ekstra mengerjakan tugasnya, dan takut sampai ketinggalan jam kuliahnya.


Selama Cita bekerja di ruangan lain, Dewa pun kembali beraksi, ia pun pergi menuju ruangan tempat para OG dan OB beristirahat.


Dewa meletakkan bekal makanan yang sama di atas meja, tempat Cita biasa duduk di sana, dan Dewa juga tak lupa menyelipkan sepenggal kata yang tertulis di kertas kecil, "Dari Pengagum Rahasia πŸ’œβ€"

__ADS_1


Melihat suasana aman, Dewa pun kembali ke ruangannya, dan kali ini ia akan mengintip lewat CCTV, ingin tahu bagai mana reaksi Cita yang menerima pemberiannya, tentunya dengan cara misterius, yang membuat Cita panik dan takut.


Cita yang selesai dari ruangan yang lain, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, membasuh wajahnya yang berkeringat.


Di rasa cukup, Cita pun keluar dari kamar mandi, ia berjalan ke arah ruang istirahat, dan di sana masih hanya ada beberapa orang, dan sepertinya yang lainya belum semuanya ada di sana.


Cita mengambil gelas, menekan tombol yang bertuliskan Coffee, lalu membawanya ke meja tempat biasa ia duduk dan istirahat, menikmati sejenak kopinya, sebelum pergi kuliah.


Saat tiba di mejanya, Cita justru di kejutkan dengan kotak bekal yang sama, membuat Cita panik seketika, dan menatap satu persatu teman kerjanya, yang sibuk cerita dan menikmati minuman mereka.


Melihat tak ada reaksi dari mereka, Cita pun duduk, membuka bekal makanan itu, tatapannya langsung menangkap sebuah kertas kecil yang bertuliskan pengagum rahasia.


Cita menutup bekal makan itu, menghembuskan nafasnya kasar, dalam benaknya, "Lagi-lagi pengagum rahasia"


Namun sedetik kemudian, Dewa terlihat berbinar, karena Cita membawa bekal makanan itu, dan tidak meninggalkan makanan itu di meja, namun sebelumnya Cita sudah mengeluarkan kertas kecil yang ada di dalam.


Dewa yang masih mengawasi, senyum yang sempat menghiasi wajah tampannya, sirna, karena melihat Cita memberikan bekal makanan itu pada teman sekerja Cita, lalu membuang catatan kecil itu ke tempat sampah.


Cita pun bergegas mengambil baju gantinya di loker, dan pergi ke kamar mandi, ingin segera pergi dari sana.


Sementara Dewa duduk lemas, di hadapan layar CCTV, yang menampilkan seorang pria yang begitu lahapnya menikmati bekal makanan yang ia berikan tadi pada Cita, membuat Dewa berkali-kali mengepalkan tangannya, dan pikirannya pun tertuju pada bekal kemarin yang ia buat di dalam tas Cita, menyadari Cita tidak memakannya, malah membuangnya, membuat dadanya sesak.


Sebelum pergi, Cita memeriksa tasnya, takut kejadian semalam terjadi lagi, namun saat di periksa, Cita tidak menemukan apa pun di dalam tasnya, Cita pun dengan nyaman, pergi menuju kampusnya.

__ADS_1


Melihat Cita yang sudah pergi, Dewa keluar dari ruangannya, ia berjalan menuju tempat sampah, di mana Cita membuang kertas kecil yang ia selipkan di kotak makanan tadi.


Saat Dewa mencari cari, kejadian tak terduga justru membuatnya tambah kesal dan geram, namun tak bisa ia lampiaskan karena takut rahasianya terbongkar.


Belum juga ketemu, Dewa sudah di kagetkan seorang pria yang membuat darahnya mendidih, karena pria itu membuang kotak nasi yang baru saja ia nikmati, dan tentunya yang di nikmati pria itu, pemberian dari pria yang sedang berdiri di dekat tong sampah itu.


"Eh bapak, cari apa pak??


Dewa terpaksa menjawab dengan tenang, padahal hatinya sangat kesal.


" Ada kertas penting, mungkin saya salah buang"


"Biar saya bantu pak"


"Tidak.! biar saya saja"


Tak ingin memaksa dan membantah, pria itu pun pergi meninggalkan Dewa yang panas dingin melihat ke arah pria itu, di tambah lagi melihat kotak bekal makanan yang ada di tong sampah, ingin sekali Dewa menggulung kotak nasi itu, dan melemparnya pada pria itu, tentu nya itu tidak akan terjadi, karena akan menimbulkan masalah dan kecurigaan, bahkan kedoknya bisa terbongkar.


Dewa pun kembali mencari sepotong kertas kecil itu, setelah menemukan, Dewa kembali ke ruangannya, di dalam ia sangat tidak bersemangat, memandangi kertas kecil itu, sungguh ia tak menyangka Cita melakukan itu, dan membuatnya berpikir, Cita tidak akan mengunakan uang yang ia berikan kemarin, dan tentunya Dewa merasa kecewa, namun ia tidak menyerah, tetap berusaha, meski Cita membuang pemberiannya, atau memberikan pada orang lain, dan ia tidak akan menyerah, sampai bisa menaklukkan hati Cita.


Next....


Vote, vote, ya Sob

__ADS_1


mohonπŸ™πŸ™πŸ™ arthor butuh dukungan kalian..


__ADS_2