
Kicau burung bersahut-sahutan, udara sejuk yang menerpa kulit, membuat Atika, enggan membuka mata, dan menarik selimutnya menghangatkan tidurnya kembali.
Namun, saat ia mulai terbuai dengan hangatnya selimut dan ingin melanjutkan tidurnya, seseorang menarik selimutnya hingga lolos dari seluruh tubuhnya, dan memaksanya harus membuka mata.
"Bangunlah gadis malas, ucap Rafa menoel-noel hidung Atika gemas.
" Masih ngantuk, dan aku merasa tempat ini seperti kita berada di kota B, ucap Atika yang belum menyadari ia berada saat ini.
"Makanya bangun agar kamu tahu saat ini berada di mana, ucap Rafa, membuat Atika yang tadinya masih merem melek, membuka lebar matanya, dan melihat sekeliling kamarnya, dan menyadari bahwa ia sedang tidak berada di mansion.
Atika pun langsung duduk di ranjangnya, dan melihat keluar dari jendela kaca yang menanpilkan alam yang asri dan sejuk.
" Bagai mana mungkin?? ucap Atika, turun dari ranjangnya, berjalan ke arah jendela yang meperlihatkan pemandangan yang begitu memanjakan mata.
"Apa yang bagai mana hm?? ucap Rafa memeluk Atika dari belakang, meletakan kepalanya di bahu Atika dan memandang indahnya alam itu.
" Terima kasih, sudah membuat kejutan ini dan aku sangat suka, karena kita kembali ke Vila ini lagi, tempat kita di pertemukan, ucap Atika, menyandarkan kepalanya di dada bidang Rafa.
"Apa pun untukmu sayang, ucap Rafa mengecup kepala Atika lembut.
" Hm, aku mencintaimu, ucap Atika tulus mengelus lembut punggung tangan Rafa yang melingkar di perutnya.
"Mandilah dulu, dan kita akan pergi dengan ayah setelah ini, ucap Rafa yang membuat Atika menatap Rafa dengan tatapan bingung.
" Memangnya kita mau ke mana?? tanya Atika penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu, ucap Rafa membuat Atika kesal, karena Rafa malah menggodanya, dan pergi dari kamar Atika.
__ADS_1
Atika pun mandi, dan ia masih saja penasaran, ke mana mereka akan pergi pagi ini.
Rafa membawa Atika ke kota B, dalam keadaan tidur, hingga tiba di Vila, Atika masih tertidur nyenyak, meski Rafa berkali-kali mengendongnya, mulai dari mau berangkat, turun dari pesawat hingga tiba di Vila, Atika benar-benar menikmati tidurnya, meski Rafa sudah mengusik tidurnya, tapi tak membuat Atika membuka matanya, sampai pagi hari tiba.
Atika sudah selesai dari mandinya, dan sudah rapi dengan baju rumahan biasa yang di kenakan Atika saat berada di Vila, dan Atika memang sengaja menggunakan baju itu, karena ingin menikmati momen selama di kota B.
Rafa dan pak Danu sudah lebih dulu menikmati sarapan paginya, karena sudah kelaparan yang menunggu Atika keluar dari kamarnya.
Atika yang melihat Rafa dan ayahnya menikmati sarapan paginya, langsung bergabung untuk ikut sarapan.
Setelah selesai sarapan, Rafa langsung mengajak Atika dan pak Danu pergi ke suatu tempat.
Atika yang memang tidak tahu tujuan mereka akan ke mana hanya, turut saja.
Selama dalam perjalanan, Atika yang mengenali jalan yang mereka lewati sudah bisa menebak arah tujuan mereka sebenarnya.
Mereka pun turun dari mobil, berjalan melewati beberapa pemakaman lain hingga tiba tepat di sebuah pemakaman yang bertuliskan nama ibu Atika.
Mata Atika sudah berkaca-kaca, sesaat ia teringat sosok ibunya semasa masih hidup.
Sosok yang begitu Atika sayangi dalam hidupnya. Saat terakhir sebelum ibunya meregang nyawa, ibunya masih sempat berpesan pada Atika kala itu.
"Berjuanglah untuk ayah, dan jangan pernah malu dengan keadaan meski itu sulit dan berat, karena hidup hanya sekali, dan ketegaran adalah kunci dari setiap usaha dan doamu, pesan ibu Atika sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Atika meneteskan air matanya, Rafa yang melihat itu paham apa yang membuat Atika menangis saat ini, ia pun merangkul Atika erat dari samping, menberi Atika semangat.
" Istriku, maaf baru kali ini ayah bisa mengunjungimu, karena ayah tidak bisa berjalan saat kepergianmu, ayah begitu shok saat mendengar kabar kecelakaan itu, hingga ayah jatuh sakit dan lumpuh.
__ADS_1
"Hari ini aku datang untuk perrama kalinya melihatmu, aku datang bersama putri kita Atika, putri yang kau lahirkan dan kau besarkan dengan kasih sayang, putri yang kau didik sangat baik dan ingat dengan semua pesanmu agar menjaga ayah dengan baik.
" Kau tahu, putri kita sudah melakukan semua amanahmu itu, dan tentunya kau juga melihat dia yang berjuang demi ayah. Dia tidak pernah menyerah bagai mana pun sakitnya, dan menderitanya dia, tidak sekali pun dia meninggalkan ayah, walau banyak yang menghina dan mencaci maki putri kita, aku sangat bersyukur karena kau sudah melahirkannya untuk ayah, dia sangat mirip denganmu, terima kasih istriku, ucap pak Danu yang menangis pilu, sambil mengungkapkan semua sesak yang sudah begitu lama di tahannya, dan bertahun-tahun sudah terlewati, dan ini baru saatnya.
"Ibu, Atika datang Buk, Atika sangat merindukan ibu, Atika tahu ibu juga pasti merindukan Atika.
" Atika bawa kabar baik pada ibu, dan Atika ingin memperkenalkan calon menantu ibu, Atika akan menikah Buk, dengan laki-laki yang baik dan sangat tulus mencintai putrimu ini.
"Atika mohon doa dan restu ibu, agar merestui pernikahan kami, ibu pasti senang kan mendengar putrimu ini akan jadi istri Buk, dan Atika minta maaf karena tidak bisa setiap hari mengunjungi ibu seperti dulu, meski pun Atika jarang menenui ibu, Atika tidak akan pernah melupakan ibu yang sudah bertaruh nyawa melahirkan Atika, ucap Atika menangis di atas gundukkan tanah itu.
" Ibu perkenalkan aku Rafa Aliando Pratama Widodo, aku mohon ibu sudi merestui aku dan putrimu Atika yang akan menjadi pendamping hidupku, hingga maut memisahkan kami.
"Terima kasih telah melahirkan wanita yang cantik dan berbudi luhur dan sangat baik, dan berbakti pada orang tua.
" Sertai langkah kami selalu dalam doa dan restu ibu, dan maaf karena baru saat ini bisa mengunjungi ibu, dan aku juga minta maaf yang juga pernah menyakiti dan membuat putri tersayang ibu ini menangis, tapi yakinlah ibu, aku berjanji akan selalu membahagiakan putri kebanggan ibu ini, ucap Rafa lantang, hingga membuat Atika lagi-lagi menagis pilu, mendengar unkapan Rafa yang tulus di hadapan pusara ibunya.
Atika dan Rafa pun meletakkan seikat buket bunga di atas pusara itu.
Pak Danu yang baru kali ini bisa menjungi pusara istri tercintanya itu, dan merasa lega karena mimpi dan harapannya tercapai.
Atika juga merasa lega, janji yang selalu di ucapkanya saat mengunjugi ibunya, sudah terpenuhi dengan baik, dan bisa membawa ayahnya, mengunjungi pusara ibu tercintanya.
Next.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1