
Dewa sudah menyampaikan pada Rafa, bahwa persiapan keberangkatan ke kota Y sudah beres.
Tak mau membuang waktu, Rafa pun langsung bergegas, dan berharap dia tidak akan kecewa, dan menemukan istrinya di sana.
Sesuai alamat yang di berikan ayah mertuanya itu, Rafa tidak lagi ragu untuk pergi ke sana, dan memiliki harapan yang besar ia akan membawa istrinya kembali.
Sementara Aliando, daddy nya Rafa, mendapat informasi dari orang kepercayaannya, bahwa putranya sedang melakukan perjalanan ke kota Y, untuk mencari menantunya Atika.
"Semoga kamu nggak mengecewakan mommy juga daddy kali ini Rafa" batin Aliando, berharap putranya berhasil dengan kepergiannya ke kota Y.
Tak lama pesawat yang di tumpangi Rafa pun tiba di bandara, di sana sudah menunggu beberapa anak buahnya, dan beberapa mobil yang berjejer rapi, menyambut kedatangan sang tuan muda.
Kota Y, juga salah satu kota dimana bisnis Rafa berjalan cukup pesat, dengan perusahaannya yang ada di kota Y, hingga begitu kedatangannya di informasikan, seluruh anak buahnya langsung cekatan untuk menyambut sang tuan muda yang berkuasa dan juga sangat mereka hormati.
Melihat para anak buahnya yang sudah berdiri rapi menyambut kedatangannya, Rafa pun berjalan ke arah mobil yang sudah di persiapkan untuk menuju alamat yang akan mereka tuju.
Sementara di suatu tempat, Atika semakin terlihat lemah, bahkan wajahnya sangat pucat, karena pola makannya tidak teratur, bahkan Atika juga susah tidur, membuat tubuhnya terlihat kurus.
Neneknya atau bibi dari ibunya itu, sudah berkali-kali membujuk Atika untuk rutin makan, dan istirahat yang teratur, namun Atika seolah tuli dengan bujukan sang nenek, pikirannya hanya di penuhi bayang-bayang suaminya bersama wanita lain.
Wajar saja Atika begitu terpuruk dalam hal ini, karena selama ia menjadi wanita dewasa, tidak pernah dekat atau pun mengenal pria mana pun, yang pernah singgah di hatinya.
Rafa adalah laki-laki pertama yang masuk dalam kehidupannya, sehingga apa yang terjadi saat ini, membuat Atika begitu sakit, dan sulit menerima, belum lagi karena salah paham dengan ucapan suaminya, hingga Atika menduga kalau suaminya itu hanya melihat dia dari sisi kasihan saja, bukan karena adanya cinta, seperti yang ia rasakan terhadap suaminya itu.
Saat ini Atika sedang duduk di halaman belakang, di bawah pohon yang rindang, alam yang sejuk, dan udara yang masih begitu segar, membuat Atika sedikit nyaman, meski pikirannya entah berlarian ke mana, tatapan kosong ke depan, membuat Atika seperti orang yang kehilangan raganya.
Sementara, iring-iringan mobil Rafa, sudah mendekati alamat yang akan mereka tuju, tak ingin salah masuk rumah, Rafa menyuruh salah seorang anak buahnya bertanya pada orang sekitar, tentang alamat yang mereka cari.
Dan akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah yang terlihat sederhana, bahkan rumah itu termasuk kecil untuk seorang Rafa sang tian muda. Namun Rafa tidak pernah menilai sesuatu dari kasta yang berbeda.
Mobil yang berhenti pun, membuat para tetangga heran, karena jarang sekali ada mobil mewah memasuki kampung mereka itu, namun mereka tak berani bertanya, hanya bisa mandang dari kejauhan.
Nenek Atika yang baru saja ingin pergi, langkahnya pun terhenti, saat melihat ada beberapa mobil dan pria berjas hitam yang berpostur tegap berada di halaman rumahnya.
Melihat seorang pria turun dari mobil, dan berjalan mendekati rumahnya, sang nenek menatap serius ke arah pria yang berjalan semakin mendekat.
"Selamat siang Nek" sapa Rafa sopan dan juga dengan suara yang rendah, takut kalau si Nenek mengira mereka komplotan penjahat.
"Selamat siang juga" sahut Si nenek tak kalah ramah, meski sesungguhnya si nenek sedikit was-was.
"Apa benar ini rumah ibu Mila?? tanya Rafa menimpali.
" Oh benar, dan saya Mila, ada perlu apa Nak?? jawab nenek, jujur dan langsung bertanya kembali.
"Perkenalkan Nek, saya Rafa Aliando Pratama, saya adalah suami Atika" Ujar Rafa, langsung terus terang.
__ADS_1
"Atika??
" Iya Nek, Atika adalah istriku, dan aku dapat informasi kalau istriku datang ke sini, apa itu benar nek?? tanya Rafa, yang tak sabar ingin tahu.
"Yah, Atika ada di sini, tapi nenek nggak tahu persis, kenapa Atika tiba-tiba datang berkunjung, bahkan semenjak datang, hanya murung, jarang bicara dan susah di suruh makan" ujar nenek menjelaskan kedatangan Atika, dan sikap Atika yang tidak begitu berinteraksi dengan neneknya itu.
Deg
Dada Rafa seketika sesak, mendengar keadaan istrinya yang begitu memprihatinkan, hingga membuatnya semakin merasa bersalah.
"Ah, nenek sampai lupa mengajak masuk" ujar nenek Mila yang tersadar belum mempersilahkan tamunya masuk, dan duduk.
Ucapan nenek pun, justru membuyarkan Rafa dari pikiran beratnya, yang sesaat tadi merasakan jantung berdetak tak menentu, karena mengetahui keadaan istrinya.
"Maaf Nek, apa aku bisa bertemu Atika sekarang?? meminta ijin, tak lagi menghiraukan ajakan nenek untuk masuk ke dalam rumah.
Mendengar permintaan Rafa, nenek bukannya menjawab, malah melihat Rafa dengan tatapan intens, menurut nenek, apakah Atika akan marah kalau memperbolehkan Rafa, menemui Atika saat ini. Namun nenek kembali berpikir, bagai mana pun Rafa adalah suaminya Atika, dan nenek tidak berhak melarang Rafa untuk bertemu Atika, biarlah Atika yang memutuskan nanti, dan sepertinya mereka memang harus bertemu, dan nenek semakin yakin Atika yang diam tak mau cerita dari awal, menunjukkan bahwa keadaan rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.
"Nenek tidak melarang mu untuk menemui Atika, tapi nenek minta, jangan terlalu membuatnya tertekan, apa lagi belakangan ini, kesehatannya menurun, dan kalau nantinya Atika belum bisa diajak bicara baik-baik, jangan di paksakan, biarkan dia tenang dulu" ujar nenek Mila, takut Atika semakin tidak baik, apa lagi dengan keadaannya yang hamil tua.
"Baik Nek, Rafa akan dengar saran nenek, dan nenek nggak usah khawatir, karena aku bukan pria yang kasar" ujar Rafa, tak ingin neneknya berprasangka, kedatangannya untuk membuat Atika semakin tidak baik, dan dia bukan tipe pria pemaksa.
"Baiklah, nenek percaya padamu, pergilah ke dalam, Atika ada di halaman belakang" ujar nenek Mila mengijinkan Rafa, menemui Atika.
Rafa pun langsung mengucapkan Terima kasih pada Nenek Mila, karena sudah di ijinkan masuk. Dengan langkah lebar Rafa pun berjalan kearah belakang, saat tiba di pintu belakang, Rafa melihat sosok yang ia rindukan dalam beberapa hari ini, duduk termenung dengan tatapan kosong, dan seperti orang yang linglung.
Atika sama sekali tak menyadari keberadaan Rafa, tatapan yang kosong, pikiran yang entah ke mana, membuat Atika tak sadar Rafa yang sudah berjalan ke arahnya.
Kaki yang gemetar, menghantar Rafa tepat di depan istrinya, karena begitu sesaknya, Rafa langsung berjongkok di depan Atika, menyentuh tangan Atika, seakan menyadarkan Atika, kalau saat ini ia ada bersamanya.
Atika yang merasakan sentuhan di tangannya, terkejut, dan dengan reflek menarik tangannya, saat sudah menyadari siapa yang ada di hadapannya saat ini, Atika bukannya senang malah menatap tajam pada Rafa.
"Sayang maaf, maaf karena sikapku kamu sampai pergi dari rumah, aku mohon maafkan aku" ujar Rafa, yang langsung memohon.
Mendengar ungkapan maaf suaminya Atika, malah tertawa sinis, entah kenapa Atika justru semakin benci melihat Rafa, apa lagi bayangan saat Rafa besama seorang wanita cantik itu, kembali menyerang Atika, membuat Atika semakin tak sudi melihat sosok suaminya itu.
"Kamu tak salah apa pun, kenapa minta maaf?? ujar Atika ketus.
" Aku mengaku salah sayang, aku tahu kamu punya niat baik pada Jhon juga Siska, dan aku sudah membebaskan mereka" ujar Rafa yang mengira kepergian istrinya itu, masih karena jhon dan Siska.
"Apa perduli ku dengan mereka, mau kamu lakukan apa pun pada mereka, aku nggak ada urusan dengan itu.
Rafa yang mendengar perkataan istrinya jadi bingung, bukankah istrinya sendiri yang waktu itu ngotot untuk tidak memberi hukuman pada jhon dan Siska?? tapi kenapa sekarang istrinya malah tidak perduli?? bertanya-tanya dalam hati.
"Mas nggak bohong sayang, mas sudah melupakan itu semua, dan membiarkan mereka bebas, ujar Rafa, mengulangi kembali ucapannya tadi.
__ADS_1
"Cukup.! aku tidak ingin membahas apa pun, silahkan anda pergi, dan saya lagi tidak ingin di ganggu.!! ujar Atika yang muak, mendengar ucapan suaminya.
Mendengar perkataan yang kasar dari istrinya, Rafa semakin heran, seperti tak mengenali istrinya lagi, karena Atika tidak pernah bicara kasar seperti ini dengannya.
" Mas nggak akan pergi dari sini, sebelum kamu juga ikut pulang sama mas" ujar Rafa yang tak ingin beranjak.
"Anda bukan siapa-siapa saya tuan, jadi silahkan tinggalkan tempat ini, semenjak saya keluar dari rumah anda, saya tidak lagi bagian dari keluarga maupun anda sendiri.!!
Ucapan Atika semakin menyulut emosi Rafa, yang bicara seperti orang lain, dan tak punya ikatan apa pun.
" Apa maksud kamu bicara begitu sayang" meskipun hatinya panas, namun Rafa masih tetap bicara baik-baik, pada Atika.
"Sayang??? tuan jangan mengejek saya, saya bukan siapa-siapa bagi anda, dan bukan hal yang berharga, saya hanya sampah yang anda pungut dari jalanan, dan saya masih ingat itu, dan tahu dari mana asal saya.!!
" Cukup Atika.!! mas nggak tahu apa maksud dari ucapan mu, dan kamu tahu, kenapa mas pergi waktu itu, karena mas sakit hati karena kamu mengatakan, kalau kamu hanya "sampah" dan mas memungut kamu karena rasa kasihan, bukan karena cinta mas yang besar, dan sekarang kamu ulangi lagi ucapan itu, mas nggak habis pikir, sedangkal itukah pikiran mu?? mas kira kamu bisa melihat bagai mana perasaan dan cinta mas ke kamu, tapi ternyata kamu buta dengan itu, tak bisa melihat yang mana yang tulus sesungguhnya.
Rafa tak bisa lagi membendung amarahnya, hingga tak sadar membentak istrinya, membuat Atika jadi takut, bahkan terkejut karena suara bentakan Rafa, membuat Atika sampai menangis.
Atika pun berdiri dari duduknya, dan ingin meninggalkan Rafa, namun Rafa langsung menarik tangan Atika, mencegah Atika pergi dari sana.
"Lepas.!!
" Nggak, mas nggak akan melepaskan kamu lagi, kamu harus ikut mas pulang, karena mommy dan daddy menunggumu, ujar Rafa, yang mengenggam erat tangan Atika.
"Aku nggak akan kembali ke rumah itu, dan aku tidak pantas berada di sana, karena sudah ada yang lebih pantas.!!
" Apa yang kamu bicarakan Atika, mas nggak ngerti, tadi kamu bilang "sampah" sekarang ada yang lebih "pantas" apa maksud semua itu??
"Aku nggak perlu menjelaskan apa pun, dan tanya sama diri kamu sendiri, dan kalau kamu mau menikah lagi, aku siap untuk kamu ceraikan.!!!
" Atika.!!
Suara Rafa, kembali menggelegar, mendengar kata cerai yang keluar dari mulut Atika, baginya itu bagai kalimat keramat dalam hidupnya.
Mendengar bentakan Rafa, Atika semakin takut dan menangis, hingga dengan kasar ia menepis tangan Rafa, dan berlari, masuk menuju kamarnya, dan mengunci dari dalam.
Jujur Atika sangat ketakutan, baru kali ini Atika merasakan kemarahan suaminya, karena selama ini mereka tidak pernah bertengkar sehebat ini.
Rafa yang melihat kepergian Atika, ingin sekali melampiaskan kemarahan nya saat ini, tapi ia harus menahan, takut nenek Mila jadi berpikir lain padanya.
"Aaakkkkhhhhh siaall.!!!
Berteriak, melepaskan kesal dan amarahnya, semakin ia tak habis pikir, dengan pemikiran Atika, yang begitu mudahnya mengungkapkan kata cerai, dan itu membuat Rafa mendidih, hingga hampir lepas kontrol.
Next...
__ADS_1
Up lagi ya Sob, semoga kalian senang, dan tetap dukung ya, yang masih setia, makasih🙏🙏🙏