
Setelah kejadian waktu itu, Dewa tak lagi bersikap jahil pada Cita, yang ada hanya sikap dingin dan datar.
Sementara Cita sendiri, menjalani pekerjaannya sebagai mana mestinya, dan tak ada gangguan lagi. Namun justru Cita merasa lebih takut kali ini, karena sikap Dewa yang dingin dan datar, membuat Cita, sedikit kurang nyaman, di banding dari sikap Dewa yang suka mengejainya kala itu, dan Cita bebas berbicara pada Dewa, tapi tidak untuk sekarang ini, mereka bicara hanya seadanya dan itu pun kalau di perlukan saja.
Seperti pagi ini, tak sengaja Dewa dan Cita bertemu di pintu masuk para karyawan, ketepan Dewa ingin menemui kepala bagian keamanan, tak sengaja bertemu dengan Cita di sana.
Awalnya Dewa ingin menegur sapa Cita, tapi ia seperti tak punya nyali untuk bertegur sapa saja, karena mengingat Cita yang membencinya karena masalah waktu itu.
Cita yang tak sengaja juga menatap Dewa, langsung membuang muka ke arah lain, tak ingin melihat Dewa yang sudah membuat sakit di hatinya.
Melihat sikap Cita yang demikian, Dewa, semakin ragu untuk menyapa Cita, dan tentu Dewa semakin merasa bersalah.
Di tatap nya Cita yang berjalan, dan semakin menjauh dari pandangannya, bahkan menoleh pun Cita tidak punya niat, mungkin karena Cita masih sakit hati.
Setelah Cita menghilang dari pandangannya, Dewa pun pergi menemui kepala keamanan.
Cita yang sudah tiba di ruangan OG, menghembuskan nafasnya kasar, merasakan sesak di dadanya, saat bertatapan dengan Dewa tadi, sesungguhnya Cita tak ingin bersikap demikian pada Dewa, karena masih sakit hati, Cita memilih untuk bersikap seolah tak mengenal Dewa sama sekali.
Tak terasa waktu berjalan, dan sudah tiba waktunya Cita meninggalkan pekerjaannya, dan akan pergi kuliah, karena waktu sudah mepet, Cita pun buru-buru, mengganti pakaian seragam OG nya, memakai kembali pakaiannya yang ia kenakan tadi.
Setelah rapi, Cita pun pergi meninggalkan perusahaan itu, dan sedikit berlari, karena tak ingin ketinggalan angkot.
Dewa yang bertepatan di dalam mobil ingin keluar, melihat Cita yang sudah masuk ke dalam angkot, dan Dewa tak lagi heran melihat itu, karena Cita sebelumnya mengatakan kuliah, hingga tak bisa full bekerja.
Namun Dewa yang penasaran dimana Cita kuliah, justru mengikuti angkot yang di tumpangi Cita, hingga Cita berhenti di salah satu universitas yang cukup bagus di kota itu, membuat Dewa kagum pada Cita, yang masih punya semangat berjuang demi cita-citanya.
Dari dalam mobilnya Dewa memperhatikan Cita, yang sudah memasuki area perkuliahannya, dan di sana Cita langsung di sambut, beberapa temannya, dan sempat bercanda gurau sebelum masuk.
Melihat Cita, yang bahagia dan tertawa lepas di sana, Dewa tak sengaja justru tersenyum tipis, terpana dengan senyum dan tawa Cita yang terlihat alami, membuat daya tarik tersendiri, dan aura Cita semakin kelihatan, dan tentunya cantik dalam pandangan mata.
Melihat itu semua, aliran darah Dewa seperti tersentak listrik, bahkan dadanya berdebar, dan sebenarnya Dewa sudah menyimpan rasa pada Cita, tapi karena kesalahannya, Dewa jadi tak percaya diri untuk mendekati Cita.
__ADS_1
"Seandainya aku tidak bodoh, karena sudah membuatmu marah dan sakit hati, mungkin aku akan selalu melihat senyum cerah mu setiap hari" batin Dewa yang masih melihat dari kejauhan, Cita bersama teman-teman nya, yang berjalan masuk ke dalam.
Tapi entah apa yang membuat Dewa tak ingin beranjak dari sana, seakan ingin menunggu Cita sampai selesai kuliah, hingga ia pun larut dalam lamunan, dan membuat Dewa, sampai tertidur di dalam mobilnya itu, dan untung saja, hari ini jadwal Dewa senggang, hingga ia tak melalaikan pekerjaannya.
Entah lelah atau apa, Dewa bahkan begitu nyenyak tertidur di dalam mobilnya, tersentak dari tidurnya karena dering, ponselnya yang sudah berkali-kali berbunyi, dan ternyata itu panggilan dari Rafa.
Buru-buru, Dewa mengangkat panggilan itu, dan sungguh ia tak tahu entah sudah berapa lama ia tertidur,, hingga lupa waktu.
"Kamu dimana?? kalimat pertama yang langsung Dewa dengar,, saat ia menekan tombol hijau.
" Maaf bos, saya lagi ada di luar, dan ada sedikit urusan" bohong Dewa, dan nggak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya, bisa-bisa ia akan di ejek dan di tertawai Rafa.
"Ya sudah, kalau kamu punya urusan, ku kira tadi sedang bersama klien"
"Tidak bos, hari ini jadwal senggang, jadi aku pergi keluar,, karena ada sedikit urusan"
"Baiklah, lanjutkan urusanmu, tut" sambungan pun langsung terputus.
"Gila.! apa yang kulakukan di sini, sampai tertidur, untung saja tidak ada orang yang mengira aku sudah mati di dalam sini, bisa-bisa, jadi topik trending utama aku" ujar Dewa bicara sendiri, karena merasa dirinya sangat konyol.
Namun saat Dewa ingin pergi dari tempat itu, tak sengaja ia melihat Cita baru keluar dari tempat perkuliahannya, dan berjalan sendiri, entah ke mana tujuan Cita saat ini.
Kembali Dewa mengikuti Cita, tapi dari jarak yang tidak begitu dekat, takut nantinya Cita jadi berpikir yang tidak-tidak padanya, karena ketahuan mengikuti Cita.
Sudah lumayan jauh Cita berjalan, dan Dewa semakin penasaran mau kemana tujuan Cita, bahkan Dewa berpikir, bejalan sejauh ini, kenapa Cita tidak naik angkot atau ojek?? bertanya dalam hati, namun Dewa tetap masih mengikuti Cita.
Akhirnya Cita pun sampai, di sebuah rumah makan yang cukup mewah, Cita pun masuk dari pintu khusus, jalur yang biasa di gunakan untuk para pekerja di sana.
Dewa pun memarkirkan mobilnya, semakin bingung, saat melihat Cita masuk lewat pintu yang lain, bukan masuk dari pintu yang di gunakan para pengunjung, dan mengira Cita mau makan di sana.
Dewa tak lagi jernih berpikir, tanda tanya selalu menyerang pikirannya, "mau ngapain sebenarnya Cita ke sini??"
__ADS_1
Dewa pun masuk ke dalam, dan ingin tahu apa yang di lakukan Cita, bahkan agar tidak mencurigakan ia menguntit seseorang, Dewa sengaja, memesan makanan, agar terlihat seperti pengunjung lainnya, dan bertepatan Dewa juga sudah lapar, dan seakan mendukung keadaan.
Namun selama makan, bahkan makanan yang di pesan Dewa sudah habis ia lahap, tak juga melihat Cita, hingga membuat Dewa gelisah.
Dewa pun akhirnya mencari cara, menanyakan pada seorang pekerja di mana toilet, agar bisa sekalian melihat sekitar pikirnya.
Saat pekerja itu, memberitahu toilet itu, yang posisinya tidak jauh dari dapur rumah makan itu, Dewa pun mengangguk paham.
Perlahan Dewa berjalan, sambil melihat-lihat, siapa tahu ia bisa menemukan Cita, dan akhirnya, Dewa tiba di depan toilet itu, tak ingin orang curiga, Dewa pun masuk, dan hanya mencuci tangannya di dalam.
Di dalam toilet Dewa berpikir keras, jelas-jelas ia tadi melihat Cita masuk ke rumah makan ini, tapi kenapa ia sama sekali tak melihat sosok Cita?? kemana sebenarnya Cita?? begitulah pertanyaan demi pertanyaan dalam pikiran Dewa.
Tak ingin berlama-lama di dalam, Dewa pun keluar, dan masih ingin mencari keberadaan Cita, namun saat ia ingin berbalik, Dewa terkejut, hingga matanya melotot tak percaya, melihat sosok yang ia lihat saat ini, bahkan dadanya sesak melihat sosok itu.
Cita adalah salah satu pekerja di rumah makan itu, setelah kuliah selesai, Cita bekerja paruh waktu, untuk tambahan dari hasil kerjanya yang lain, mengingat biaya kuliahnya tak sedikit, Cita harus mencari beberapa pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, asalkan ia masih sanggup, Cita tidak menyerah dan mengeluh, karena ia ingin mewujudkan semua mimpinya, menjadi sarjana tentunya.
Dewa melihat Cita yang berkutat di dapur rumah makan itu, sebagai pekerja tukang cuci piring, melihat banyaknya, piring yang kotor, Dewa bahkan tak sanggup melihat itu.
Bahkan kulit tangan Cita sampai memutih, karena tidak lepas dari air dan sabun, membuat Dewa semakin merasa bersalah, ia sudah salah menilai Cita, yang ternyata begitu gigih sebagai gadis yang masih muda, bahkan tidak malu untuk melakukan pekerjaan kecil seperti itu, demi cita-citanya.
Takut Cita mengetahui keberadaan Dewa, ia pun pergi dari sana, membayar makanannya tadi, dan Dewa langsung keluar dari rumah makan itu.
Saat di dalam mobil, Dewa berkali-kali menyebut dirinya bodoh dan sudah egois, yang membuat Cita, sakit hati bahkan membencinya.
"Bodoh, bodoh, kau Dewa, apa yang sudah kau lakukan, pantas saja Cita begitu marah dan sakit hati waktu itu, merasa di permainkan dalam pekerjaannya, sementara pekerjaan itu sangat berharga baginya" Dewa merutuki kebodohannya, yang sudah terlalu menjahili Cita waktu itu.
Di rundung rasa bersalah, Dewa tak lagi kuat bertahan di sana, apa lagi sampai melihat wajah Cita yang lelah, sungguh kenyataan ini sangat mengejutkannya, bahkan membuatnya menyesal dan semakin merasa bersalah, karena Cita gadis yang kuat dan pekerja keras, demi hidup dan masa depannya.
Next...
Vote, like, komen, ya Sob, mohon selalu dukungannya. 🙏🙏🙏
__ADS_1