Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 100. Kemeja Tanda Cinta


__ADS_3

Khan hanya mengirim pesan WA saja kepada Asisten Satria tanpa mau menemui tamu. Sudah memiliki firasat sifat dari adik tiri sahabat Bunda Fatia. Pasti bakalan menguras emosi jika dituruti kemauan dia.


Khan lebih memilih menghindari tipe wanita seperti dia. Hanya berpesan kepada Asisten Satria untuk menyampaikan kepada Kak Mur. Sekarang sudah tidak di kantor melainkan sedang meeting diluar.


Khan bergegas menghubungi Bunda Fatia untuk menceritakan tentang Kak Mur. Bertanya tentang keluarga dari sahabat bunda yang katanya tinggal di Kalimantan. Kemungkinan besar mereka sudah menghubungi Bunda Fatia sebelum mengajak bekerja sama tentang bisnis.


Buda Fatia bercerita tadi pagi memang di hubungi oleh Pak Misbah. Bercerita jika dia memiliki adik tiri seorang pengusaha. Adik tirinya itu tinggal di Bali dan masih perawan.


Bunda Fatia tidak menyangka jika Kak Mur adalah perawan tua. Karena Pak Misbah tidak bercerita tentang pribadinya. Dia hanya bercerita ingin mengajak kerjasama bisnis.


Setelah satu jam berlalu, Khan mendapat kabar jika Kak Mur meninggalkan kantor Asisten Satria. Dia berpamitan setelah menerima sambungan ponsel dari seseorang. Dia meninggalkan kantor sambil berpesan akan kembali lagi.


Perawan tua itu mengatakan mumpung masih berada di Jakarta. Dia ingin mengenal lebih dekat dengan Khan dan keluarga. Hanya sayangnya Kak Mur tidak menentukan kapan dia akan kembali.


Malam hari saat makan malam bersama. Khan bertanya tentang keluarga Pak Misbah, "Bun, ada apa dengan keluarga teman Bunda itu?"


"Ada apa sih, Nak?"


"Kemarin si Bahar, sekarang si Kak Mur yang aneh, Khan tidak suka cara dan sikap mereka."


"Apa yang di lakukan Kak Mur di kantor?"


"Dia tidak mau pulang sebelum bertemu dengan Khan. Sorot matanya seperti mata Eno, Bun."


"Apakah Kak Mur itu orangnya cantik dan seksi."


Vefe tersenyum mendengar pertanyaan Bunda Fatia. Teringat penampilan Kak Mur yang norak. Apalagi berat badan kak Mur tambun dan terlihat lucu.


"Mengapa Nak ve yang tersenyum?" tanya Bunda Fatia.


"Kebalikannya sih, Bun. Gemuk, norak dan terlihat tua," jawab Khan dengan ketus.


Bunda Fatia dan Vefe tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Khan, "Nak, mulailah bersikap wajar saat menghadapi wanita, Bunda tahu mungkin itu sulit buat Khan, tetapi berusahalah diseimbangkan gitu lo sama istri aja satu bulan sudah menghasilkan."


Khan sekarang yang tergelak karena baru satu bulan menikah sudah ada buah cintanya yang berkembang. Mengangguk sambil termenung teringat jika seorang wanita bersikap biasa. Tidak menunjukkan sorot mata yang aneh pasti akan nyaman bertemu mereka.

__ADS_1


Khan sering bertemu dengan wanita yang memiliki mata yang aneh saat melihatnnya. Seperti pandangan yang penuh kekaguman, ada rasa tertarik. Apalagi memandangi terus menerus yang membuat Khan tidak suka.


"Khan juga sering bersikap biasa, Bun. Contonya sama Mpok Ria, sama Erin. Mereka memiliki pandangan mata yang tulus, tidak seperti Kak Mur itu."


"Apakah mungkin Kak Mur juga jatuh cinta dengan Khan?"


"Sorot matanya seperti Bahar, Bun." Vefe juga ikut menjelaskan.


"Eeee Sayang jangan sebut nama si brengsek itu lagi!" perintah Khan dengan suara kesal.


"Cuma menyebut nama, Mas. Apa salahnya?"


"Salah besar, Mas tidak suka."


"Ha ha ha baiklah, Ve tarik lagi deh."


Tiga hari dari pertemuan dengan Kak Mur. Dia datang lagi dan langsung menghadap Khan. Untung Khan sedang meeting berdua dengan Asisten Satria.


"Ada yang bisa saya bantu, Kak Mur?" tanya Khan berusaha bersikap biasa.


Khan langsung bergeser duduk di pinggir sofa, "Maaf ... Kak Mur. Ini kantor bukan ajang untuk mencari teman. Lagi pula Anda tahu saya sudah menikah, sebaiknya Anda mencari teman yang masih sendiri."


Kak Mur cemberut dan terlihat murung, "Kak Mur hanya pingin punya teman."


"Kalau Anda ingin mencari teman seharusnya mencari yang sebaya dan sesama perempuan." Asisten Satria memberikan saran.


"Ada tujuan lain lagi, Kak Mur. Kami sedang meeting penting ini?" Khan mengusir secara halus.


"Kak Mur mengantar ini untuk Munda Fatia dari Bang Misbah." Kak Mur memberikan paper bag besar yang di dalamnya kotak berbungkus kado.


"Biak terima kasih, nanti saya sampaikan kepada bunda, silahkan letakkan di meja!"


"Sama-sama."


Kak Mur tetap duduk di samping Khan tanpa bergerak sedikitpun. Tatapan matanya masih sama seperti saat pertama kali bertemu. Memuja dan mengagumi Khan.

__ADS_1


Khan mulai merasa risih, dia langsung berdiri dan bersikap tegas, "Kak Mur, masih ada lagi yang ingin disampaikan, maaf kami sedang meeting penting ini?"


"Oya ... Maaf, Kak Mur pamit dulu permisi." Kak Mur berdiri ingin mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Asiten Satria yang menyambut uluran yangan Kak Mur sambil tersenyum. Khan melipatkan ke dua tangan di dada sambil menunduk. Kak Mur dengan terpaksa juga ikut melipatkan tangannya dan tersenyum.


Setelah Kak Mur keluar dari kantor Khan. Asisten Satria dan Khan tertawa terbahak-bahak. Penampilan perawan tua yang sangat unik dan yentrik. Seperti seorang artis yang akan naik panggung penampilan yang ramai.


Saat sudah di rumah Khan bercerita kepada Vefe dan Bunda Fatia. Tentang kedatangan Kak Mur di kantor. Memberikan paper bag titipan unuk Bunda Fatia.


Bunda langsung membuka kado yang diberikan oleh Kak Mur. Kotak boks itu berisi kemeja laki-laki ukuran Khan berjumlah lima pics. Bunda Fatia sampai mengerutkan keningnya sambil melihat kemeja laki-laki, "Apa-apaan ini?"


"Ada apa, Bun?" tanya Khan heran.


"Ini bukan untuk Bunda, tetapi untuk Khan."


"Khan juga tidak tahu, Bun. Perawan tua itu berpesan ini untuk Bunda," jawab Khan.


Vefe ikut melihat lima pics kemeja yang berwarna terang dan ngejreng dengan seksama, "Ini mungkin buat Ayah kali, Bun," kata Vefe.


Bunda Fatia melihat lagi size kemeja yang ada dibagian kerah. Ukurannya L. Ukuran yah Jose XL dan tidak mungkin muat untuknya. Yang pas adalah Khan yang memakainya.


"Ayah ukuran kemejanya XL bukan L, ini buat Khan saja!" Bunda Fatia meletakkan kemeja di samping tempat duduk Khan.


"Ogah Bun. Warnanya sangat norak. Kasihkan siapa sana!" Khan juga tidak mau menerima kemeja itu.


Vefe yang mengerutkan keningnya, melihat lima pics kemeja. Kemungkinan dia sengaja memberikan kemeja itu Khusus untuk Khan. Karena takut di tolak akhirnya dikatakan untuk bundanya.


"Bunda, ini sepertinya Kak Mur sengaja membelikan kemeja untuk Mas Khan deh."


"Sepertinya memang iya sih," jawab Bunda Fatia tetap membolak-balik kemeja.


Khan hanya melirik lima pics kemeja yang di pegang oleh Bunda Fatia dan Vefe. Warna dan coraknya saja norak seperti orangnya. Tidak mungkin mau menerimanya, "Jangan berikn pada Khan, itu norak banget tahu!"


"Ini kemeja tanda cinta kali ya?" tanya Vefe.

__ADS_1


"Eee jangan cemburu, Sayang!"


__ADS_2