
Vefe saat ini sedang menghadapi penantang pemuda Amerika yang terlihat meremehkan kemampuannya. Dengan semangat pemuda tanggung menyerang Vefe. Dari menendang sampai ayunan tangan berkali-kali diarahkan.
Vefe hanya sedikit bergerak, tetapi tak pernah sampai serangan demi serangan dia. Tepuk tangan semakin bergemuruh saat hanya sekali ayunan tangan Vefe, pemuda itu terkena pukulan di perutnya.
Melihat umur Vefe yang masih muda, pemuda itu sedikit meremehkan kemampuan Vefe. Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam Vefe sudah bisa mengalahkan dia. Pemuda itu menunduk hormat sebelum keluar dari arena pertarungan.
Tepuk tagan kembali bergemuruh saat Vefe membungkukkan badannya turun dari lingkaran pertarungan dan duduk di samping Khan, "Gantian dong Mas yang menunjukkan kemampuan bersama guru," bisik Vefe.
"Mereka sudah bosan melihat Mas bertarung di sini, mas lebih memlih bertarung berdua dengan Ve di atas tempat tidur," jawab Khan sambil berbisik juga.
"Dasar mesum," Tangan Vefe mencapit pinggang Khan karena gemas.
"Aauuw sakit, Sayang."
"Biarin ..."
"Mumpung masih di Manhatten, Ve pingin ke mana lagi?"
"Enaknya ke mana, Mas?"
"Kalau menurut Mas yang paling menarik sih di tempat tidur berburu berdua dengan istri tercinta."
Vefe hanya mengerucutkan bibirnya, "Kalau itu tidak perlu jauh-jauh ke sini, Mas."
Mulai dari Times Square, Fifh Avenue, Monumen 9/11 Memorial, sampai duduk di bundaran Central Park. Sudah di kunjungi oleh Vefe di hari ke dua di Manhatten. Seharian penuh Vefe berwisata hanya berdua saja dengan Khan.
Dalam dua minggu keliling Eropa, Khan selalu memanjakan Vefe dengan berbagai hadiah, oleh-oleh dan belanja. Tujuh negara di kunjungi dalam waktu dua minggu. Belanda, Prancis. Inggris, Italia. Swiss, Jerman, dan Spanyol.
Berwisata sambil bekerja, tentu saja selalu berburu setiap malamnya. Tepat satu bulan pernikahan Khan dan Vefe saat kembali ke Indonesia. Vefe tinggal bersama di rumah Khan yang dulu hanya berpenghuni laki-laki saja.
Rumah semakin hidup setelah adanya penghuni baru. Vefe yang ceria dan ramah. Pak Gun yang bijaksana klop bahu-membahu merubah rumah yang dulu terlihat manly sekarang menjadi girlly.
Khan semakin bersemangat bekerja dan cepat ingin pulang ke rumah. Ada yang menyambutnya di depan pintu saat pulang kerja. Senyum sang istri sangat di rindukan setiap menginjakkan kaki di rumah.
Satu minggu berlalu dengan penuh kebahagiaan. Ada yang berbeda di hari ini saat Khan pulang kantor. Tidak ada Vefe yang menyambut seperti dalam satu minggu ini. Hanya ada Pak Gun yang menjadi pengganti membukaan pintu.
"Kok ... Pak Gun yang buka pintu, Ve ke mana?" tanya Khan heran.
"Dari siang Nona belum keluar kamar, Tuan."
__ADS_1
"Apakah dia sakit?"
"Tadi pagi Nona masih beraktifitas seperti biasa, tetapi setelah masuk kamar sampai sekarang belum keluar, bahkan Nona belum makan siang."
"Pak Gun tidak mengetuk pintu kamar?"
"Sudah sekali, Tuan. Nona sedang tidur pulas siang tadi."
Khan berjalan dengan langkah panjang sambil berbincang dengan Pak Gun. Ada rasa khawatir mendengar laporan dari Pak Gun. Pintu langsung di buka setelah Khan sampai kamar, "Sayang ...!" teriaknya.
Vefe sedang tidur cantik sambil memeluk guling. Posisi badan membelangi pintu kamar. Tidak mendengar panggilan Khan sama sekali.
Khan langsung memeriksa suhu badan Vefe. Tidak ada tanda-tanda panas ataupun demam, "Sayang, ayo bangun ini sudah sore, mengapa tidur dari siang dan tidak makan siang hari ini?"
Vefe menggeliat dan meregangkan ototnya. Tidur dari siang sampai sore rasanya masih mengantuk dan enggan membuka mata, "Ve ngantuk sekali, Mas." Vefe kembali memejamkan mata enggan untuk bangun.
"Ayo bangun dulu, mandi dan makan, Sayang!"
"Ve malas mandi, Mas."
"Eee kok tumben jadi pemalas, ayo makan dulu kalau begitu, jangan biasakan tidur dengan perut kosong!"
Kembali Vefe tidur tidak memperdulikan Khan yang baru datang. Hanya ada baju rapi di letakkan di pinggir tempat tidur samping wajahnya. Dipersiapkan untuk Khan berganti baju setelah mandi.
Khan membiarkan istrinya tidur kembali. Dia begegas mandi masuk kamar untuk membersihkan diri. Berendam sejenak setelah seharian bekerja. Keluar kamar mandi tepat setelah setengah jam berlalu.
Vefe masih saja tidur cantik saat Khan sudah selesai berganti baju, "Sudah setengah jam tidurnya ayo bangun," kata Khan sambil mengusap pipi Vefe.
Vefe membuka mata, melhat Khan sudah berganti baju dan rapi. Kepala terasa pusing dan berat, "Kepala Ve pusing dan berat, Mas."
"Ayo bangun makan dulu setelah itu minum obat!"
Vefe duduk bersender di dasbord tempat tidur, "Ve tidak lapar, Mas. Ve minta minum jus saja boleh?"
"Mau jus apa?"
"Sembarang ... Mangga atau alpukat juga boleh."
Khan hanya berteriak memanggil Pak Gun dari pintu kamar, "Pak Gun ...!"
__ADS_1
Pak Gun masuk kamar Khan dengan membawa air putih. Dan cokelat hangat. Biasanya itu yang di minta Khan setiap sore. Untuk teman santai juga membawa potongan buah segar di piring dan dua garbu.
"Tolong buatkan jus mangga atau alpukat, ada buah apa di kulkas, Pak Gun?"
"Mangga ini sudah Pak Gun potong-potong. Adanya alpukat dan nanas, mau pilih yang mana?"
"Jus alpukat aja, Pak Gun. " Vefe langsung menyahut.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Pak Gun membawa jus alpukat seperti yang di inginkan, "Ini jus alpukatnya, Nona!"
"Terima kasih." Vefe langsung minum satu gelas jus tanpa sisa.
"Mau mandi atau makan, atau apa, Sayang?" kembali Khan bertanya kepada Vefe yang masih enggan bergerak.
"Ve masih malas, pusing kepala."
"Mas panggil Dokter Dino saja ya?"
"Tidak perlu, Mas. Istirahat dan tidur lagi nanti juga sembuh."
Pk Gun mengerutkan keningnya, teringat sudah setengah hari ini tidur. Tidak makan dan tidak juga melakukan aktifitas seperti biasanya, "Apakah mau Pak Gun buatkan bubur, Nona?"
"Tidak usah, Pak Gun. Ve lagi malas makan."
Khan duduk kembali memeriksa suhu badan Vefe yang terlihat lemah, "Tidak panas badannya, ada apa sih Sayang?"
"Entah lah, Mas. Tiba-tiba badan Ve lemas, pusing dan malas ngapa-ngapain ya?"
"Pak Gun kembali ke dapur untuk membuat makak malam, Tuan." Pak Gun bergegas keluar kamar Khan.
"Iya terima kasih, Pak Gun."
"Apa perlu Mas urut, Sayang?"
"Tidak usah, Mas. Ve lagi males banget. Nanti kalau Mas urut kaki Ve pasti Mas langsung berburu."
Khan tergelak, "Eee sudah su'uzon aja sih, tidak mungkinlah. Mana tega Mas mengajak berburu istri yang sedang sakit."
Vefe bersandar di pundak Khan, Khan memeluk pundak Vefe dengan mesra. Pak Gun mengetuk pintu dan masuk lagi ke kamar Khan, "Tuan, tadi Pak Gun bertemu dengan Bu Nina, katanya Nona untuk melakukan tes menggunakan ini!"
__ADS_1
"Apa itu Pak Gun?"