
"Don't judge by the cover, saat aku buka segel dia masih ori, Khan." Aan langsung membela calon istrinya dengan berkata jujur.
Khan tersenyum kecut sambil mengangguk. Sebenarnya dalam hati tidak setuju tindakan yang diambil oleh Aan. Walau ada pepatah mengatakan semua adil dalam cinta dan perang.
"Jadi karena itu Kak Mur langsung menerima cinta kamu, Aan?" tanya Asisten Satria.
"Ada alasan lain yang diutarakan saat aku menyatakan cinta padanya."
"Apa itu?" tanya Wahono dan Asisten Satria bersamaan.
"Katanya dalam hidupnya dia selalu berjuang dan mengejar cinta yang tak bersambut, rasanya sangat sakit. Saat ini dia memilih dicintai daripada mencintai."
"Lho ... Berarti dia tidak mencintai kamu dong?" tanya Khan.
"Awalnya memang tidak, tetapi seiring dengan waktu dia sudah menerima aku dan mencitai aku dengan caranya sendiri, karena dari dulu dia memang berniat akan menyerahkan segel miliknya hanya khusus untuk suaminya saja."
Kali ini Khan setuju dengan cita-cita dan pendirian yang di pegang teguh oleh Kak Mur. Dibalik penampilan yang yentrik ternyata ada prinsip yang kuat. Benar kata Aan jika jangan menilai seseorang hanya melihat sampulnya saja.
Khan jadi teringat istrinya Vefe, gadis lugu yang belum pernah berpacaran. Selalu rendah diri karena latar belakang kehidupannya. Berbeda latar belakang antara Vefe dan Kam Mur, tetapi sama-sama memiliki prinsip yang kuat.
Khan juga termenung dengan jodoh sahahatnya Wahono. Dia menikah dengan seorang wanita yang statiusnya masih sendiri dalam status di pemerintahan. Hanya sayangnya dia pernah menikah sirri dan sudah memiliki satu putri.
Jodoh memeang rahasia Ilahi, jika memang tidak berjodoh dikejar seperti apapun tetap saja tidak akan bersatu. Seperti usaha Eno yang melakukan segala cara untuk mendapatkan impiannya. Jika berjodoh seperti dua bujang lapuk jodoh tidak akan tertukar.
Masih asyik berbincang tentang acara pernikahan nanti. Waktu juga belum menunjukkan istirahat siang. Khan mendapatkan pesan WA dari Vefe, "Mas, nanti kalau pulang tolong Ve belikan ketoprak ya. Ve pingin makan yang pedas."
Khan membaca pesan Vefe sambil mengerutkan keningnya. Makanan khas dari Jakarta itu rata-rata di jual pada sore sampai malam hari. Jarang ditemukan pedagang ketoprak jualan pagi atau siang hari.
"Apakah kalian tahu di mana ada penjual ketoprak sekarang ini?" tanya Khan.
"Eee mengapa pembahasan ke makanan?" tanya Aan.
"Istriku baru saja WA ngidam pingin makan ketoprak," jawab Khan.
"Jarang jam segini ada pedagang ketoprak, Khan." Wahono menjawab sambil mengingat penjual ketoprak yang pernah dilihatnya saat makan siang.
"Tetapi tetap ada, 'kan?"
"Ada sih pasti, tetapi di mana ya?" Aan juga ikut bertanya.
__ADS_1
"Ada di depan kantor ini tidak perlu jauh-jauh, Tuan. Abang ketopraknya datang bebelum istirahat tiba," jawab Asisten Satria.
"Ok aku mau ke sana, kalian lanjutkan tentang acara dengan Satria!"
Wahono belum sempat menodong Khan tentang hadiah pernikahan nanti, "Bro ... Jangan pergi dulu, sebelum memberikan hadiah untuk pernikahan kami!" teriaknya.
"Nanti saja, ngidam sang putri harus diprioritaskan. Nanti aku bahas dengan istri terlebih dahulu tentang hadiah pernikahan untuk kalian." Khan menjawab juga dengan berteriak sambil berlalu keluar kantor.
Pedagang ketoprak baru saja datang dengan mendorong rombong dan mangkal saat Khan tiba. Kedatangan CEO perusahaan membuat pedagang itu terkejut, "Waaah Tuan, terima kasih sudah mau berjunjung ke gerobak saya," kata pedagang itu sambil mengangguk.
"Apakah sudah siap, Bang?"
"Sebentar lagi, Tuan?"
"Aku mau beli untuk istriku yang sedang ngidam, apakah bisa dibuatkan sekarang?"
"Tentu saja, Tuan. Tunggu lima menit saya goreng tahu terlebih dahulu!"
"Ok aku tunggu!"
Hanya dalam sepuluh menit. Ketoprak siap dibawa pulang. Membayar dengan uang dua lembar warna merah gambar pahlawan Suekarno Hatta hanya untuk delapan bungkus ketoprak, "Tidak perlu dikembalikan sisanya."
"Terima kasih, Tuan. Semoga dimudahkan sampai lahir bayinya, semoga dilihat gandakan rezeki yang." Doa Abang ketoprak.
Khan membeli tidak hanya unutuk Vefe. Semua anggota keluarga siang ini makan siang dengan menu ketoprak. Termasuk dua security dan satu tukang kebun.
Sampai di rumah, Khan menemani Vefe makan ketoprak sambil duduk di samping kolam renang. Duduk di dua kursi malas yang ada di ujung kolam renang. Seolah mereka makan siang di pinggir pantai sambil bersantai memandangi birunya air kolam renang.
Khan bercerita tentang pernikahan dua bujang lapuk yang dimajukan. Bercerita juga jika dua bujang lapuk bertemu dengan Eno. Menjanjikan hadiah pernikahan tetapi belum memikirkan hadiah apa yang akan diberikan.
"Enaknya hadiah apa, Sayang? Tanya Khan saat mereka sudah selesai menyantap ketoprak.
"Kado yang terkesan dong, Mas. Biar mereka teringat sampai tua nanti."
"Uang, tiket bulan madu, atau belikan barang dapur bagus juga bisa, Mas."
"Kalau Ve ingin baby moon di Asia pilih pingin ke negara mana?"
"Ve pasti pingin ke Singapura."
__ADS_1
"Apa alasannya?"
Vefe mngerutkan keningnya , teringat saat dulu di SD pernah menang lomba menggambar. Vefe menggambar patung badan ikan berkepala Singa. Saat itu ingin langsung melihat patung yang bernama Merlion.
"Ve dulu saat SD pernah menggambar patung Merlion dan menjadi juara umum."
"Ok keinginan terkabul kita baby moon, sekalian memberikan kejutan kepada dua bujang lapuk berbulan madu ke Singapura."
"Kita berangkat ramai-ramai ke Singapura gitu, Mas?"
"Iya tidak hanya dua pasangan pengantin. Kita juga akan mengajak Pak Gun, Mpok Ria dan keluarga Satria, toh pesawat cukup untuk mengajak mereka."
"Apakah boleh sekalian ajak Pak Bowo, Pak Umar dan Pak Min?"
"Tentu saja, Umi Maryam diajak sekalian juga boleh, Sayang."
Vefe mengerutkan keningnya berpikir jika mengajak Umi Maryam. Kasihan anak-anak dan Bibi Kudri. Terasa kurang adil terhadap mereka.
"Untuk Umi Maryam dan Bibi Kudri nanti Ve tanyakan dulu ya, Mas. Selain kasihan anak-anak kalau ditinggal Umi, rasanya tidak adil kalau mereka tidak diajak."
"Baiklah ... Terserah Ve saja. Atau nanti kita buat acara sendiri untuk keluarga besar panti asuhan, cocoknya untuk mereka bermain di Trans Studio Bandsung."
"Ya itu Ve setuju."
"Kapan ke panti asuhan?"
"Besok saja sekalian Mas Khan ke kantor, Ve ikut sekalian."
Sedang asyik santai ada suara panggilan Bunda Fatia dari pintu dapur, "Khan ...!" teriaknya.
"Ya ... Ada apa, Bun?"
"Apakah kamu sedang mencari sopir pribadi?"
Khan kaget dengan pertanyaan Bunda Fatia. Selama ini belum pernah memerlukan seorang supir pribadi. Biasanya Asisten Satria yang sering menyetir mobilnya atau menyetir sendiri.
Khan langsung berlari mendekati Bunda Fatia. Rasanya kurang sopan jika berbicara sambil berteriak dari jarak jauh, "Apa maksudnya, Bun?"
"Ada yang melamar menjadi sopir pribadi, dia masih ada di pos security."
__ADS_1
Khan belum menjawab Bunda Fatia, Pak Umar berlari mendekati mereka, "Tuan yang melamar menjadi sopir pribadi namanya Bahar."
" ...?"