
Pukul delapan pagi seluruh wanita yang ada di rumah Khan sedang berdandan dan berias. Dibantu oleh MUA langganan Bunda Fatia. Memakai seragam yang dibeli oleh Mommy Astrid gaun sederhana berwarna putih.
Tema hari ini adalah menggunakan baju putih baik laki-laki atau perempuan. Warna putih melambangkan bersihnya hati tanpa ada rasa sakit hati. Seluruh keluarga saling memaafkan dan saling ikhlas tidak ada dendam masa lalu.
Undangan acara akan di mulai pukul sebelas siang. Acaranya tidak seperti ulang tahun pada umumnya. Tidak ada dekorasi ulang tahun di restoran. Tidak ada kue ulang tahun berada di tengah ruangan.
Hanya ada kursi dan meja yang bersambung panjang. Tidak ada pengunjung lain selain keluarga besar, teman dan undangan anak yatim piatu. Seluruh restoran milik anggota dewan itu sudah di booking oleh Dady Kim Oen.
Acaranya terlihat sederhana jika dilihat sekilas. Yang terlhat mewah adalah bingkisan untuk yatim piatu. Ada paket komplit mulai dari seragam sekolah, peralatan sekolah sampai peralatan ibadah.
Belum lagi amplop yang diberikam oleh Vefe dengan jumlah yang fantastis. Dan ada juga kejutan dari Daddy Kim Oen. Laki-laki gaek itu meemberikan hadiah untuk para seluruh anggota vocer belanja di mall ternama.
Setiap anak dibebaskan untuk membeli apa saja sesuai kebutuhan. Boleh juga dibelikan makanan atau snack kesukaan. Vocer akan berlaku sampai isi nominal di dalamnya habis tanpa batas waktu.
Setelah pembagian bingkisan dan amplop. Menu makan siang dihidangkan oleh pramusaji. Keceriaan anak-anak membuat Vefe bahagia dan terus saja tersenyum.
Apalagi ucapan selamat, doa dan kasih sayang mereka sangat membuat hati Vefe bahagia. Padahal dari tadi hatinya selalu gelisah. Mengharap satu sosok laki-laki tua yang tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Ucapan selamat dari keluarga sedikiit membuat Vefe terhibur. Tidak terlihat gelisah karena menunggu yang tidak pasti. Satu persatu keluarga memberikan kado kepada Vefe.
__ADS_1
"Ini hadiah dari Bunda dan Ayah Jose, Nak." Bunda Fatia memberikan kotak kecil kepada Vefe.
"Terima kasih, Bunda." Vefe yang mengucapkan terima kasih, tetapi Khan yang menerima kado itu dengan cepat.
"Bun, kok kecil banget?" tanya Khan sambil membolak-balikkan bungkus kado yang hanya segenggam tangan.
"Jangan di lihat bungkusnya tetapi lihat isinya," jawab Bunda Fatia.
"Buka saja kalau penasaran!" perintah Ayah Jose.
Khan hanya memberikan kode kepada Vefe meminta izin untuk dibuka. Vefe juga hanya menjawab dengan mengangguk. Khan langsung membuka dengan merobek bungkus kertas kado dengan cepat.
Satu persatu memberikan kado kepada Vefe. Umi Maryam, Erina, Aan, Wahono juga memberikan kado dengan istimewa. Yang terakhir memberikan kado adalah Mommy Astrid.
"Ini untuk Nak Ve, maafkan Mommy, maaf telah melewatkan waktu yang telah lalu, Maafkan tidak bisa mendampingi dari kecil sampai sekarang. Mommy sangat menyayangimu." Mommy Astird langsung memeluk Vefe dengan linangan air mata.
"Lupakan masa lalu, Mommy. Ve sudah memaafkan Mommy, terima kasih kadonya."
"Sama-sama, Nak."
__ADS_1
"Kak Ve, dibuka dong. Lee pingin lihat apa isi kado dari Mommy!"
"Kalau lihat jangan iri ya, Lee!" Khan mengambil kado berukuran kotak sepatu dari tangan Vefe.
"Tidak dong, Bang. Justru kalau hadiahnya biasa saja Lee yang akan marah."
"Papi buka ya, Mi?"
"Silahkan saja, PI." Khan membuka kado dengan merobek kertas kadonya perlahan.
Satu kotak full isinya perhiasan dan permata. Semua komplit dengan berbagai model dan corak. Komplit dari kalung, gelang, cincin giwang dan bros.
Ada kotak sedang di pinggir kotak perhiasasn itu. Vefe tertarik dengan kotak itu daripada perhiasannya, "Yang ini apa isinya, Mom?"
"Buka saja, Nak!"
Ada kitab Al Qur'an kecil dengan warna sampulnya terlihat sudah memudar. Di sampulnya ada foto laki-laki yang wajahnya mirip dengan Vefe. Vefe memandangi dengan lekat sambil membaca nama yang tertera di sana, "Gunawan Raharjanto."
"Mommy, beliau ini ...?"
__ADS_1