Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 111. Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Mata Khan dan Pak Gun terbelalak sempurna karena mendengar perkataan Cak Mus. Yang lewat bukan Eno, tetapi orang lain tetangga sebelah rumah. Seolah matanya somplak wanita berumur 35 tahun di bilang cantik luar biasa.


"Cak ... Iku sopo?" tanya Khan.


"Si canti Eno lah."


"Walah ... Coba istigfar dulu!" peirntah Pak Gun.


"Astagfirullahalazdim." ucap Cak Mus.


Setelah beristigfar Cak Mus memejamkan mata dan langsung tertawa terbahak-bahak. Melihat wanita yang di lihat berubah menjadi aslinya, dia langsung berteriak, "Yu Yem tak kiro Eno!"


Khan tersenyum saat melihat keajaiban alam. Semua hal negatif akan kembali pada Yang Maha Kuasa. Hanya sesaat Cak Mus tersesat dia bisa kembali ke jalan yang benar.


Khan dan Pak Gun terus mengawasi tingkah dari Cak Mus yang mulai oleng saat bermain karambol. Waktu menunjukkan panggilan menghadap ke kiblat. Mereka kembali melihat dari keajaiban alam, setelah wudhu Cak Mus kembali ke alamnya.


Pulang dari masjid, Khan kembali mengajak Cak Mus untuk ke rumah lagi. Dengan alasan untuk makan malam bersama. Dengan alasan itu Cak Mus semangat empat lima jika berurusan dengan perut.


Sampai di rumah, Khan di sambut geplak-an kepala dari Bunda Fatia. Vefe dan Mpok Ria sudah bercerita kepada Bunda Fatia saat mereka menunaikan ibadah. Terlalu gegabah dalam mengambil keputusan dan menganggap enteng suatu masalah.


Bunda Fatia langsung berterus-terang kepada Cak Mus. Menghubungi kakak laki-lakinya yang memegang pondok dari Akung Kyai. Mendapatkan amalan dan cara mengatasi hal yang mistis bagi sebagian orang.


Khan dan Pak Gun meminta maaf kepada Cak Mus. Membantu Cak Mus melakukan apa yang harus diperintahkan oleh Uncle Kyai. Konsekuansi yang harus dilakukan Khan dan Pak Gun karena bertindak tanpa meminta pertimbangan Bunda Fatia.


Setelah satu jam melakukan yang yang diperintahkan Uncle Kyai. Cak Mus benar-benar kembali seperti semula. Saat pulang tadi dia terkadang masih terbayang wajah Eno dan sekilas saat melihat seorang wanita seperti Eno,


"Yo'opo rasane saiki, Cak Mus?" tanya Bunda Fatia.


"Wes Alhamdulillah ora opo-opo."


Semua sudah beres dalam dua jam. Melanjutkan makan malam bersama. Selanjutkan kembali berbincang di ruang tamu. Bergabung juga Vefe dan Mpok Ria saat berbincang.


Dengan spontan Vefe meminta dompet Khan, "Sini Ve minta dompet Mas!" Tangan Vefe menengadah.

__ADS_1


"Buat apa sih, Sayang?"


"Sudah jangan tanya dulu, sini dompetnya!"


"Iya ini, Sayang!" Khan memberikkan dompet yang kebetulan isinya full.


Dulu sebelum menikah, Khan jarang mengisi dompet dengan uang cash. Setelah menikah dengan Vefe uang di dompet selalu diisi. Karena vefe sering memilih makanan tradisional Indonesia.


Vefe membuka isinya warna merah gambar Suekarno Hatta sangat banyak. Tanpa ragu uang yang ada di dompet berpindah tempat, "Cak Mus buka tangnnya!" perintah Vefe.


Cak Mus membuka ke dua tangnnya sambil tergelak, "Waaaah iki tenanan po'o, Ndok?"


"Injih ...." Vefe menjawab dengan suara yang kaku.


Mereka masih berbincang tentang masalah dukun yang bertindak. Cak Mus yang paling antusias membahas tentang soal perdukunan. Apalagi sudah mendapat segepok uang dari Vefe.


"Begini saja, karena sebenarnya ini karena Eno. Biarkan orang lain tahu kalau aku yang minum sirup dan roti."


"Opo'o sing arep Kon kerjakno, Cak Mus?" tanya Bunda Fatia.


"Terserah Kon wae aku ora melu-melu lo yo, Cak!" Bunda Fatia berkata sambil menggelengkan kepalanya.


"Beres, Bun."


Malam itu juga Cak Mus mencari temannya yang sedang bekerja di parkiran supermarket. Dia memberikan uang tanda jasa untuk membantu agar menyebarkan isu telah mendapatkan oleh-oleh dari Khan. Oleh-olehnya roti dan sirup yang sangat lezat rasanya.


Teman Cak Mus sengaja bercerita di rumah Eno saat menjemput istrinya di sana. Sampai malam hari teman dan tetangga masih berdatangan silih berganti. Mereka sengaja datang untuk menanyakan kebenaran berita tentang pernikahan Eno.


Keluarga Eno sama sekali tidak bisa menjawab semua pertanyaan tetangga dan teman. Tamu di terima dengan senang hati. Semua keluarga hanya menjawab dengan tersenyum. Ucapan selamat dari tenangga hanya di terima dan mengucapkan terima kasih.


Resepsi pernikahan akan diadakan di gedung yang ada di Jakarta. Itu keuntungan yang membuat keluarga Eno harus tidak menjawab. Kemungkinan mereka akan tidak bisa menghadiri acaranya di Jakarta.


Eno mendengar cerita dari teman Cak Mus. Dia langsung mendekati dan bertanya. Jawaban dia membuat Eno syok dan uring-uringan.

__ADS_1


Eno langsung masuk kamar dan mondar-madir di dalam kamarnya, "Bagaimana jika Cak Mus yang mengejar aku?" monolog Eno sendiri.


Eno teringat memiliki ide satu minggu yang lalu. Mendapatkan kabar hari ini Khan datang. Tanpa menunggu lagi dia langsung meluncur ke tempat orang yang ahli dalam hal magic.


Karena frustasi banyak tetangga yang datang untuk bertanya. Disalahkan oleh ke dua orang tua. Membuat Eno melakukan jalan pintas yang tidak banyak orang percaya di jaman modern ini.


Kebetulan orang yang merekomendasi tentang peristiwa yang diinginkan tidak jauh dari rumah. Hanya dengan syarat mengambil tanah milik orang yang akan tuju. Serta uang sebagai mahar perjanjian, Eno bisa mendapatkan jampi-jampi yang kata orang ampuh.


Tindakan yang dilakukan Eno hanya ibunya saja yang tahu. Ibu menyetujui karena sakit hati. Putrinya dipecat, dicampakkan sekarang ini dipermalukan satu kampung.


Ibu Eno langsung masuk kamar Eno setelah mendengar cerita teman Cak Mus bercerita untuk yang ke tiga kalinya. Hampir semua tamu yang datang diceritakan olehnya. Membuat ibu dan putrinya khawatir dan bingung.


"Bagaimana ini, Eno?"


"Tidak tahu, Bu. Eno bingung."


"Mengapa kamu tidak kasih langsung roti dan sirup itu ke Khan?"


"Tidak mungkin dong, Bu. Pasti mereka curiga."


"Caranya dong, Eno. Seharusnya kamu bilang buatan kamu sendiri."


"Sudah ... jangan menyalahkan terus, bagaimana ini cara mengatasinya?"


Belum sempat mereka mendapatkan ide untuk mengatasi masalahnya. Ada suara Cak Mus mengucapkan salam, "Bu, apakah itu suara si tukang parkir yang meminum ramuan itu?"


"Coba sebentar Ibu dengarkan dulu, kamu diam!"


Merek terdiam sambil memasang telinga lebar. Suara cempreng dan nada melengking khas aki-aki yang ceria sangat terdengar jelas. Terdengar dia sedang berbincang dengan teman sesama tukang parkir.


"Iya betul, Eno. Itu dia," bisik Ibu.


Ayah kandung Eno keluar saat mendengar suara Cak Mus. Mereka sering berbincang saat bertemu di jalan atau di tempat parkiran supermarket. Cak Mus langsung bersalaman dengan ayahnya Eno, "Selamat malam, Assalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikum salam, silahkan duduk, Cak Mus!"


"Terima kasih, di mana si Eno. Saya sangat merindukan dia, boleh saya bertemu dia, Pak?"


__ADS_2