Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 25. asisten Satria Bingung


__ADS_3

Khan belum sempat menjawab pertanyaan Wahono. Ada suara dering telepon seluler dari kantong celana Wahono. Dia membuka dan membaca nama Asisten Satria yang menghubungi.


"Khan, ini dari Satria. Apa yang akan aku jawab kalau dia bertanya tentang kamu?"


"Jangan bilang kalau aku ada di sini!"


"Baiklah ...."


Wahono menerima dan menjawab panggilan ponsel dari Asisten Satria sesuai keinginan Khan. Membiarkan Khan tenang terlebih dahulu. Sekarang hanya ingin melihat sahabatnya itu tenang dan tidak emosi lagi.


Asisten Satria melanjutkan mencari Khan. Dia berkunjung ke panti asuhan dengan alasan membawakan nasi padang saat istirahat siang, "Assalamualaikum."


"Walaikum salam," jawab Vefe bersamaan keluar dari kamarnya.


"Nona ini saya bawakan nasi padang." Asisten Satria menyerah dua dus berisi 50 bungkus nasi padang.


"Bang Satria, Anda ke sini sendirian atau berdua dengan Mas Khan?"


"Sendiri Nona, apakah Anda belum di hubungi Tuan Khan?" tanya Asisten Satria pura-pura bersikap seolah mengetahui di mana tuannya.


"Belum Bang, di mana Mas Khan sekarang?"

__ADS_1


"Tuan Khan sedang meeting, Nona. mungkin beliau tidak sempat menghubungi Anda."


"Ooo lagi meeting."


"Baiklah, nanti kalau Tuan Khan ke sini atau menghubungi Anda tolong kabari saya ya, Nona!"


Vefe mengerutkan keningnya karena tidak memahami maksud dari perkataan Asisten Satria. Yang dia tangkap Asisten Satria tidak mengetahui keberadaan tuannya. Padahal baru saja dia mengatakan jika Khan sedang meeting.


Asisten Satria menyadari ucapannya salah langsung mengulangi, "Maksud saya, tolong kabari saya jika Anda sudah menerima nasi padang yang saja antar."


"Oooo Baiklah, Bang. Coba saya kirim pesan telegram sekarang."


"Ya silahkan."


Setelah dikirim hanya tanda centrang satu. Vefe langsung memberitahukan kepada Asisten Satria, "Kemungkinan Mas Khan masih meeting, Bang. Belum aktif ponselnya."


"Baik tidak apa-apa, Nona. Saya pamit."


"Sekali lagi terima kasih, jika nanti Anda bertemu dengan Mas Khan terlebih dahulu sampaikan terima kasih dari kami."


Pukul delapan malam Bunda Fatia sampai di rumah Khan. Ayah Jose tidak bisa ikut ke Jakarta karena di USA masih banyak pekerjaan. Masuk rumah belum melihat sosok Khan datang menyambutnya.

__ADS_1


"Apakah Khan belum pulang?"


"Belum Nyonya Bunda, ponsel Tuan Khan masih belum aktif."


"Kamu sudah menghubungi dia ke mana saja, Asisten Satria?"


"Hampir semua sudah saya hubungi tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaan Tuan Khan."


Dari tadi pagi saat mendengar Bunda Fatia akan datang ke Jakarta. Asisten Satria terus menghubungi tuannya berkali-kali. Menghubungi semua teman yang ada di Jakarta.


Hampir setengah hari Asisten Satria bertanya dan menghubungi orang yang dekat dengan Khan. Hanya sayangnya tidak ada satupun orang yang mengetahui keberadaannya.


"Ya sudah biarkan saja. Nanti kalau emosinya sudah reda Kemungkinan dia akan pulang."


"Baik ... silahkan Anda beristirahat dahulu, mari saya antar."


Setelah Bunda Fatia masuk kamar, Asisten Satria kembali membuka ponsel. Berharap mendapatkan kabar baik dari tuannya sendiri atau dari Vefe. Baru memeriksa ponsel ada suara notifikasi pesan dari Vefe.


"Bang Satria, maaf baru mengabari, Vefe saat ini bersama Mas Khan di panti. terima kasih."


Asisten Satria tersenyum dan merasa lega. Kemungkinan tuannya meredakan emosi terlebih dahulu baru bertemu dengan Vefe. Yang pertama terlintas di pikiran adalah Bunda Fatia yang sering dipanggil dengan Nyonya Bunda.

__ADS_1


Asisten Satria langsung berlari mendekati kamar Bunda Fatia. Tangannya ingin mengetuk pintu tetapi hatinya ragu. Teringat dulu Khan berpesan jangan ceritakan tentang Vefe sebelum yakin.


Tangan Asisten Satria kembali diangkat untuk mengetuk pintu. Diturunkan lagi karena bingung apa yang harus dilakukan. Ingin mengetuk bahkan tangan sudah menempel di daun pintunya, "Bagaimana ini aku bingung, kabari Nyonya Bunda atau tidak ya?"


__ADS_2