Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 48. Peristiwa Langka


__ADS_3

Vefe memegangi pipinya sambil cemberut. Menutupi kegugupannya dengan mengerucutkan bibirnya. Vefe tidak bisa membedakan Khan tidak sengaja ataupun di sengaja.


"Mas ini, malu tahu di lihat sama Bang Satria."


Khan hanya tersenyum tidak menjawab Vefe. Antara gugup, senang dan bahagia menjadi satu. Suatu ketidak sengajaan yang membuat hatinya berbunga-bunga.


Sedangkan Asisten Satria tersenyum devil sambil melirik ke belakang, "Tenang saja, Nona. Tadi saya tidak melihat kok," jawab Asisten Satria asal.


Vefe semakin cemberut mendengar jawaban Asisiten Satria, "Mana ada tidak melihat tetapi bisa menjawab."


Asisten Satria tergelak dan turun dari mobil. Menyusul Gi dan Ji yang sudah turun duluan. Untungnya ke dua adiknya tidak menyaksikan adegan mencium pipi tanpa sengaja.


"Beneran, Ve. Mas tidak sengaja. Mas minta maaf."


"Ya sudah lupakan saja, ayo kita turun!"


Khan mengangguk dan turun dari mobil terlebih dahulu. Memegangi pintu menunggu Vefe turun. Sudah di tunggu oleh semua keluarga besar panti asuhan Bunda di depan rumah.


Di samping menyambut kemenangan Gi dan Ji. Sebagian besar anak-anak menunggu oleh-oleh yang dibelikan Khan. Ternyata sebelum pulang Vefe sudah menceritakan kepada Umi Maryam tentang kegiatan mereka di Surabaya bersama Khan.

__ADS_1


Mereka menerima oleh-oleh dengan tertib. Dibagikan oleh Gi dan Ji dengan adil. Tanpa berdesak-desakan atau berebutan.


Khan dan Asisten Satria hanya tersenyum melihat mereka dengan riang dan bahagia mendapatkan oleh-oleh yang sama. Mengucapkan terima kasih kepada Khan Dan Asisten Satri. Mencium punggung tangan mereka bergantian dan mengucapkan terima kasih.


Mereka mendengarkan cerita Gi dan Ji sambil duduk berjajar dengan tertip. Terkadang di sertai dengan tawa riang, tegang dan meringis. Terkadang banyak pertanyaan yang lucu dan menggelitik dari anak-anak.


Vefe langsung masuk kamar setelah datang. Membersihkan diri di kamar mandi. Tidak ikut saat Gi dan Ji membagi oleh-oleh dari Khan.


Setelah setengah jam berlalu Vefe keluar kamar dan ikut duduk di samping Khan, "Mas ... ayo kita makan dulu, sudah Ve sediakan makan malam untuk Mas Khan dan Bang Satria."


"Vefe yang masak, cepat banget?" tanya Khan heran.


"Eee ...?" Khan tidak lagi melanjutkan ucapannya. Teringat saat makan ikan asin seperti dulu, rasanya lidahnya langsung terasa asin.


"Jangan khawatir, Mas. Sekarang tidak cuma ikan asin kok. Ada juga bacem tempe dan tahu."


Khan mengangguk ragu dan tersenyum, Khan tidak menyukai makanan asin dan manis terutama dari kecap manis. Selera Khan memang seperti Bunda Fatia. Hanya menyukai makanan yang pedas saja.


Asiten Satria hanya tersenyum simpul melihat Khan yang menggangguk tetapi terlihat ragu. Dia tahu betul selera dan makanan kesukaan tuannya. Hanya saja dia memilih diam dan ingin melihat reaksi saat Khan makan makanan yang tidak di sukainya.

__ADS_1


"Ayo Mas, Bang ... Kita makan dulu!" ajak Vefe Lagi.


"Iya sana makan dulu, Nak Khan dan Nak Satria!" Umi Maryam juga mempersilahkan untuk makan.


"Terima kasih, Umi. Apakah Umi sudah makan malam?" tanya Khan.


"Umi tadi sudah makan bersama anak-anak."


"Baik ...."


Khan dan Asiten Satria berjalan beriringan dengan Vefe, Asisten Satria berbisik di telinga Khan, "Anda yakin akan makan dengan lauk itu, Tuan?"


Khan menjawab juga dengan berbisik, "Dulu aku pernah juga makan sayur asem dan ikan asin di sini."


Asisten Satria tergelak sambil menggelengkan kepalanya, "Apakah boleh saya abadikan saat Anda makan ikan asin dan bacem tahu tempe?"


"Buat apa?"


"Ini peristiwa langka, Tuan. Akan saya tunjukkan kepada Nyonya Bunda."

__ADS_1


"Huus ngawur aja!


__ADS_2