
Hampir satu minggu Khan mempersiapkan hari ulang tahun yang tinggal beberapa hari lagi. Tekat dan dukungan dari orang terdekat Vefe menambah keyakinan Khan untuk melangkah.
Momen ulang tahun akan dijadikan momen yang bersejarah dalam hidup. Masih beberapa hari lagi debaran hati tetap tidak pernah berhenti berdegup kencang. Berkali-kali dibayangkan semakin membuat dia semakin gugup.
Rencana hari jum'at sore Vefe dan seluruh penghuni panti asuhan Bunda datang. Ditambah Erina dan Daniel akan ikut berangkat ke Ancol. Villa sudah siap tinggal menunggu penghuninya tiba.
Mulai Jum'at Khan sengaja tidak ke kantor. Dia memilih bersantai di villa. Mengistirahatkan badan dan pikiran. Sudah hampir dua minggu tidak enak makan dan tidur.
Menunggu waktu seolah berjajan sangat lambat. Sehari saja seperti bukan 24 jam melainkan 48 jam. Matahari selalu saja menyinari bumi tanpa mau beranjak pergi.
Ponsel Khan dari jum'at pagi masih aktif dan masih sering menghubungi Asisten Satria yang sedang sibuk bekerja. Masih mengirim pesan telegram kepada Vefe tentang persiapan di Ancol.
Bus yang disewa Asisten Satria untuk menjemput anak panti tiba di Ancol pukul enam sore. Di sambut langsung oleh Khan. Dia hanya berpenampilan santai memakai celana pendek dan kaos ditro.
Netra Khan hanya terfokus mencari gadis yang dari tadi pagi diajaknya berbincang melalui telegram. Dia turun dengan mengenakan celana tiga perempat dan kaos senada krem. Terlihat anggun walaupun penampilannya sederhana.
Bersamaan Asisten Satria yang datang bersama keluarga kecilnya menggunakan mobil sendiri. Menemui dan berkenalan keluarga besar panti asuhan setelah mereka berkumpul di halaman villa.
Khan hanya tersenyum melihat Vefe yang sibuk membagi tenda yang akan di gunakan mereka menginap malam inj. Antusias anak-anak yang baru pertama kali menginap di villa dan di tenda sangat terlihat. Hampir satu jam Vefe sibuk mengatur mereka sampai semua mendapatkan tempat masing-masing.
Setelah senja ponsel Khan terpaksa dimatikan ucapan selamat ulang tahun tidak ada hentinya. Itu yang Khan alami setiap tahun ucapan selamat dari kolega, teman bsinis. Ada juga dari teman sahabat yang semuanya laki-laki.
Di rumah juga ada banyak karangan bunga yang dikirim dari mana saja. Termasuk dari Sania Parwati ataupun dari Retno Wulandari. Karena itulah Pak Gun, Pak Bowo dan Pak Umar tidak di ajak ke villa.
Sampai selesai makan malam bersama dengan menu nasi, ikan bakar atau ayam bakar. Di tambah sayur sop kimlo, sambal terasi dan lalapan lengkap. Khan baru bisa berbincang dengan Vefe.
"Semua sudah beres Ve?" tanya Khan setelah melihat Vefe santai duduk di pojok tenda yang paling ujung.
"Sudah beres, Mas."
__ADS_1
"Ve ikut menginap di tenda atau di kamar?"
"Di kamar bersama Mpok Ria, Mas."
"Mengapa tidak kamar sendiri, masih banyak kamar lo?"
"Tidak boleh sama Umi, Mas."
"Kenapa?"
"Ve juga tidak tahu."
Khan baru mulai ingin mengutarakan maksud yang sudah direncanakan dari dua minggu lalu. Datang Erina dan Daniel ikut bergabung. Erina bercerita di larang oleh Umi Maryam tidur di tenda.
"Mengapa tidak boleh, Rin?" tanya Daniel.
"Kata Umi takut ada kucing garong nyusul di tenda."
"Erin tidur di kamar bersama Umi Maryam."
Malam ini Khan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berdua dengan Vefe. Ada saja yang ikut bergabung berbincang saat mereka berdua. Mulai dari anak-anak yang bertanya, ataupun orang dewasa lainnya.
Pagi hari koki villa membuat sarapan bubur ayam Bandung untuk sarapan bersama. Ditambah susu satu gelas, tinggal memilih susu putih ataupun susu coklat. Dan buah semangka serta melon sebagai pelengkap.
Sabtu pagi jadwal anak-anak bermain di pantai. Di awasi Vefe, Erina, Daniel dan Mpok Ria. Ditambah keluarga Asisten Satria yang langsung bergabung dan membaur dengan anak panti.
Khan ikut mengawasi sambil mengikuti Vefe melangkah. Terkadang juga ikut memanggil anak-anak yang main pantai sampai ke tengah laut. Hanya berbincang sesekali karena konsentrasi mengawasi anak-anak.
Sambil mengambil napas panjang dan mencoba bersabar. Tidak ada kesempatan untuk berbincang berdua. Tetap berusaha untuk mencuri kesempatan yang ada, hanya sayangnya tidak ada kesempatan sama sekali.
__ADS_1
Saat akan memulai pembicaraan terus saja ada ganguan. Terkadang dari anak-anak terkadang juga dari yang lain. Akhirnya Khan duduk hanya mengawasi mereka dan tidak berusaha lagi.
Sementara Asisten Satria dan Nina istrinya saat ini terpaksa keluar villa. Meminta izin kepada Umi Maryam ada hal yang mendesak. Menitipkan putra dan putrinya untuk ikut dalam pengawasan Vefe.
Ternyata Ayah Jose dan Bunda Fatia datang satu jam yang lalu. Tidak bisa menghubungi Khan. Ponsel Khan mati dari tadi malam tidak di aktifkan lagi sampai sekarang.
Bertanya kepada Pak Gun dan security, mereka juga tidak tahu. Saat mengetuk pintu rumah Asisten Satria juga tidak ada seorangpun yang di rumah. Akhirnya dengan tegas memanggil untuk bertemu dengan Asiten Satria.
Asisten Satria dan Nina saat ini di sidang oleh Bunda Fatia dan Ayah Jose di sebuah restoran di luar Ancol.
"Katakan dengan siapa Khan saat ini?" tanya Bunda Fatia.
Asisten Satria masih belum berani bercerita. Dia gugup dan bingung karena sudah berjanji setelah hari ulang tahun besok baru boleh bercerita. Khan sudah berpesan setelah resmi dan memiliki status yang jelas boleh bercerita jika ada yang bertanya.
"Maaf Nyonya Bunda, kata Tuan Khan setelah besok baru boleh bercerita."
"Maksudnya bagaimana Satria?" tanya Ayah Jose.
"Begini saja Tuan dan Nyonya. Saya tidak bercerita, tetapi silahkan Anda melihat foto yang ada di galeri saya. Saya harus menepati janji dengan Tuan Khan. Dan Anda bisa tahu dengan siapa Tuan Khan saat ini."
"Apakah Nina juga tidak boleh bercerita juga?" tanya BUnda Fatia lagi.
"Betul ... Nyonya Bunda, Bahkan kami belum berani bercerita." jawab Nina.
"Baiklah sini ponsel kamu!" Bunda Fatia mengambil ponsel Asistean Satria dengan kesal.
Yang pertama Ayah Jose dan Bunda Fatia lihat adalah foto tulisan panti Asuhan Bunda lengkap dengan alamatnya. Yang ke dua foto Vefe saat mendampingi Gi da Ji di Stadion Surabaya sedang ikut pertandingan silat.
Foto yang ke tiga saat Khan sendirian makan nasi, sayur asem dan ikan asin sambil tersenyum. Foto yang terakhir foto Khan sedang duduk dengan Vefe makan nasi dengan menu yang sama. Dan kebetulan foto itu diambil saat keduanya saling pandang dan tersenyum.
__ADS_1
Ayag Jose tergelak melihat Khan makan ikan asin. Bunda Fatia fokus pada seorang gadis yang sederhana tetapi terlihat anggun. Mereka terus saja memandangi foto itu sambil tersenyum mengembang.
"Kamu tidak perlu cerita, Satria. Bunda sudah bisa melihat dari foto ini!"