Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 181. Gaun Sedernana


__ADS_3

"Itu ayah kandungmu, Nak .dulu Mommy sering memanggilnya Bang Igun." Air mata Mommy Astrid juga mengalir deras.


Vefe terisak sambil mengusap foto ayah kandung yang wajahnya mirip dengan dirinya. Mirip juga dengan Almarhumah Nenek Hartanti. Seolah seperti pinang dibelah menjadi dua.


Sekarang ini baru menyadari dulu Mommy Astrid pernah mengatakan sekilas. Saat mengunjungi kamar di hotel untuk pertama kalinya. Beliau mengatakan anak perempuan akan mirip dengan ayahnya.


Khan yang dari tadi duduk di samping Vefe dan ikut melihat foto Almarhum ayah mertua. Mulai ingin menghibur istrinya jika sedang bersedih, "Mami ... Mengapa istri Papi jadi laki-laki ya?"


Vefe mengerucutkan bibirnya sambil mengusap air matanya, "Papi tidak licu aaah!"


"Papi tidak berhasil membuat Mami tersenyum ya, atau seperti tadi malam saja?"


Vefe membayangkan peristiwa tadi malam. Harus mengimbangi permainan aksi senjata tombsk tomahawk yang beraksi. Rasanya jadi malu sendiri karena selalu saja membuatnya seperti candu.


"Jangan modus ... Ingat sekarang ini di tempat umum," bisik Vefe di telinga Khan.


Acara makan siang dengan menu utama sudah selesai. Sekarang dilanjutkan dengan makanan penutup. Pramusaji sedang membagikan es krim untuk semua terutama anak yatim piatu.


Waktu hampir pukul satu siang, tamu yang diharapkan tidak kunjung datang. Saat ini yang gelisah tidak hanya Vefe. Mommy Asrid juga terlihat gelisah dan khawatir.


Mommy Astrid juga melakukan apa yang dilakukan Vefe. Sering melihat ke arah pintu utama. Berharap ketua anggota dewan itu berjalan memasuki restoran miliknya sendiri.

__ADS_1


Selain sering melihat pintu masuk. Mommy Astrid sering memandangi Vefe yang juga terlihat gelisah. Mommy Astrid juga sering melihat gaun sederhana yang di kenakan Vefe.


Gaun yang dikenakan Vefe adalah gaun khusus dan sangat spesial baginya. Gaun itu adalah gaun duplikat milik Nenek Hartanti saat menikah dengan ketua Dewan Pak Harjanto. Semasa hidunya Almarhumah nenek dari putrinya sangat menyukai warna putih.


Lamunan Mommy Astrid berakhir saat Lee memeluknya dari samping dan berbisik kepadanya, "Mom, mohon izin!"


"Izin apa sih, Nak?"


"Mau menagih hadiah ulang tahun dari Abang ipar untuk Kak Ve."


Lee Kim Oen berbisik di telinga Mommy Astrid, tetapi matanya menuju ke arah Khan. Bersamaan Khan juga melirik Lee Kim Oen dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan.


"Terserah Lee saja, tetapi tidak boleh menyinggung perasaan suami Kakak Lee ya," jawab Mommy Astrid ikut berbisik.


"Abang Ganteng," panggil Lee Kim Oen.


"Apa?"


"Lee ingin tahu dong hadiah Abang untuk Kak Ve?"


"Mami mau hadiah sekarang atau nanti di kamar?" bisik Khan di telinga Vefe.

__ADS_1


"Terserah Papi saja."


"Ayo dong Bang, Lee mau lihat seberapa cinta Abang pada Kak Ve!" rayu Lee Kim Oen lagi.


"Baiklah, Mami izin hadiah akan Papi berikan untuk Mami, tetapi Lee yang akan membukanya, apakah boleh?"


"Tentu silahkan saja, Lee mau membuka hadiah untuk Kakak?" tanya Vefe kepada adiknya.


"Waaah suatu kehormatan buat Lee itu, Kak."


"Ok ini hadiah dari Abang untuk Kakaknya Lee." Khan memberikan amplop berwarna putih panjang dan di luar tidak ada tulisan sama sekali.


Lee Kim Oen bingung dengan hadiah yang diberikan oleh abang iparnya. Semua orang memberikan hadiah kepada Vefe dibungkus dengan bungkus kado. Hanya Khan yang berbeda sendiri.


"Lee buka ya Kak?"


Vefe belum sempat menjawab pertanyaan adiknya. Ada suara derap langkah kaki dan ribut dari luar. Tidak hanya Vefe dan Khan yang langsung menengok. Seluruh yang hadir juga ikut menengok ke arah pintu masuk.


Yang pertama masuk adalah mengawal khusus yang sering mengamankan area sebelum pejabat masuk tempat yang dikunjungi. Pengawal itu ada sekitar enam orang dengan seragam batik.


Tidak di sangka yang masuk tidak hanya ketua anggota dewan saja. Dua putri dan menantunya juga hadir. Bahkan empat cucunya ikut serta dalam acara itu.

__ADS_1


Saat mereka masuk restotan, Vefe diapit oleh Bunda Fatia dan Khan sedangkan Mommy Astrid izin ke kamar kecil. Dia terpaku melihat keluarga sedarah masuk sambil tersenyum.


"Papi mereka ...?" Vefe belum sempat melanjutkan ucapannya, ketua anggota dewan memandangi wajah Vefe dengan heran dan bingung, mulutnya memanggil nama istrinya, "Tanti ...?"


__ADS_2