Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 121. Duka Erina


__ADS_3

Saat pemuda itu akan meninggalkan mereka, Vefe langsung berbisik di telinga Khan, "Jangan nanggung kalau membantu, tambahin buat beli obat, Mas!"


Khan langsung berteriak memanggil pemuda itu, "Tunggu Bro!" teriaknya.


Khan kembali mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan lima lembar uang bergambar Soekarno Hatta, "Ini untuk tambah beli obat Nenek!"


"Terima kasih, Bang. Padahal tidak kenal kami sama sekali, tetapi Anda baik sekali. Adik bayi akan selalu dilindungi Allah Azza Wa Jalla."


"Aamiin."


"Saya harus cepat membeli obat untuk Nenek, permisi!" Pemuda itu langsung berlari meninggalkan taman.


Ibu paruh baya berdri dan memakai jaket oren yang dipakainya saat bekerja, "Permisi, Nak. Ibu juga harus mulai bekerja, sekali lagi terima kasih telah membantu kami."


"Sama-sama, Bu."


Sebelum meninggalkan tempat ibu paruh baya mengusap lembut perut Vefe, "Sehat selalu, Cu. Kamu akan menjadi anak cerdas dan berbakti kepada orang tua."


"Aamiin, terima kasih, Bu."Vefe tersenyum sambil mengangguk.


Khan dan Vefe sampai rumah hampir menjelang tiga perempat malam. Pagi harinya Khan berangkat ke kantor Vefe belum bangun. Dia masih bobok cantik dan masih terlelap dengan wajah berseri.


Vefe bangun pukul sepuluh pagi. Sudah tidak ada Khan di sampingnya. Ada susu hamil yang ada di meja di tempatkan di termos penghangat.


Vefe langsung meminum susu hamil yang ada di botol langsunng habis. Keluar kamar dan langsung duduk di meja makan. Ada Mpok Ria dan Pak Gun ynag sedang memasak sambil bercanda. Vefe hanya tersenyum melihat keduanya terlihat sangat bahagia.


Saat melihat Vefe duduk di kursi meja makan, Mpok Ria langsung mendekati Vefe. Dia bertanya menggunakan bahasa isyarat menawarkan sarapan pagi. Menyanyakan minuman apa yang diinginkan.


"Ve mau buah saja, Mpok. Ada buah apa di kulkas?"


Pak Gun yang menjawab dari arah dapur, "Ada mangga, jeruk dan melon, Nona mau yang mana?"


"Mangga saja, Pak Gun. Terima kasih."


Sambil menikmati buah mangga yang sudah di potong dadu. Vefe menghubungi Erina untuk memberikan oleh-oleh dari Singapura.

__ADS_1


Vefe menghubungi Erina berkali-kali hanya sayangnya tidak diangkat oleh yang memiliki ponsel. Hampir sepuluh kali Vefe menghubungi sahabatnya. Hati mulai gelisah takut terjadi sesuatu yang buruk.


Untuk yang ke sebelas kalinya ponsel baru diangkat oleh Erina, "Ve ... Tolong Erin, Nenerk ...!"


Ucapan Erina terputus terdengar ada suara laki-laki yang berkata, "Maaf, nenek Anda sudah menghadap yang maha kuasa."


Erina tergugu sambil memanggil neneknya. Berkali-kali Vefe berteriak tetapi Erina tidak menjawab. Kemungkinan ponsel tidak diletakkan di telinga, tetapi belum sempat dimatikan.


Vefe mematikan sambungan ponselnya dan menghubungi Erina. Setelah dua kali menghubungi, baru Erina mengangkat dengan jawaban yang terbata-bata sambil terisak, "Nenek sudah meninggal, Ve. Sekarang ini masih di puskesmas dekat rumah."


"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun, Ve ke sana sekarang," jawab Vefe sambil terisak.


Sambil terus menangis, Vefe menghubungi Khan. Di kantor Khan sedang meeting dengan Asisten Satria dan kepala bagian produksi. Suara terdengar isakan Vefe membuat Khan panik.


"Eee mengapa menangis, Sayang?"


Vefe terus menangis tidak bisa bercerita. Dia teringat Nenek Enih yang sudah dianggapnya seperti nenek sendiri. Kasih sayang nenek berbadan kurus itu tak terbatas kepada Vefe.


Tanpa kikir panjang, Khan berdiri masih menempelkan ponsel di telinga, "Sayang Mas pulang sekarang." ponsel langsung di matikan.


"Satria ... Kamu lanjutkan meetingnya!" teriak Khan sambil berlari meninggalkan ruang meeting.


Sampai lampu merah, Khan mendapatkan pesan WA dari Pak Gun, "Nenek dari Erina meninggal dunia, Tuan. Nona Ve menangis terus."


Khan langsung mengubungi Pak Gun untuk mengabarkan keluarga yang mengenal Erina. Terutama Umi Maryam dan Daniel kekasih Erina. Khan juga menghubungi Asisten Satria untuk meminta membantu Erina mengurus jenazah neneknya.


Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh keluarga berkumpul di rumah duka. Erina terus terisak dan bersedih. Vefe selalu mengusap pundak Erina untuk memberikan kekuatan dan agar tabah menjalani cobaan hidup.


Setelah dimandikan. Disholatkan dan dimalamkan di TPU yang tidak jauh dari rumah. Erina kembali ke rumah ditemani Vefe, Khan, Daniel dan Umi Maryam.


"Erin jangan tinggal di rumah sendiri, Ve tidak mungkin tega!"


"Erin tidak apa-apa, Ve."


"Jangan khawatir nanti aku yang menemani dia," kata Daniel.

__ADS_1


Umi Maryam menggelengkan kepala tidak setuju dengan usulan Daniel, "Umi tidak setuju kalau Daniel yang menemani."


"Ve juga tidak setuju, nanti Bang Daniel makan Erin lagi."


Erin tersenyum sambil mengusap air matanya, "Erin berani kok tinggal di rumah sendiri."


"Sebaiknya mulai sekarang Erin tinggal bersama Umi Maryam di panti, pakai kamar Ve saja sekalian menggantikan tugas Ve yang lama kosong." Khan memberikan saran.


"Naaah Ve setuju dengan Mas Khan. Bang Daniel boleh menemani Erin setelah janur kuning melengkung di depan rumah."


"Bagaimana dengan rumah Erin, Ve?"


Nanti bisa dipikirkan lagi, bisa di sewakan misalnya, jadi Erin ada pemasukan. Boleh tinggal di sini kalau kalian sudah menikah," jawab Umi Maryam.


"Untuk sementara kalau malam tidur di panti asuhan dan kalau siang bisa ke sini." lanjut Khan menambahkan saran dai Umi Maryam.


Erina hanya mengangguk tetapi masih bingung. Sejak kecil tinggal di rumah ini bersama nenek. Usaha dan bisnisnya juga di sini tidak pernah meninggalkan rumah dalam waktu yang lama.


Ingin tinggal sendiri pasti akan banyak bahaya. Di samping karena seorang perempuan juga masih belum menikah. Pasti akan ada mata jahat yang mengincar setiap saat.


"Sebenarnya Erin tidak ingin pindah dan meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan Verin Olshop?"


Vefe mengerutkan keningnya mengingat usaha Verin Olshop yang di rintisnya sejak SMA. Sekarang ini di jalankan sendiri oleh Erna dan terkadang dibantu oleh Daniel. Tidak mungkin bisa di pindahkan ke panti asuhan.


"Oya iya bagaimana Verin Olshopnya, Mas?" tanya Vefe bingung.


Khan melihat Vefe yang selalu mengusap pundak Erin sebagai dukungan. Melihat kedekatan ke duanya sudah seperti saudara. Khan mempunyai solusi untuk membantu sahabat dari istri tercinta.


"Mas punya solusi untuk Erina, tetapi ini akan bisa dilakukan setelah minimal empat puluh hari ke depan dan tidak bisa dilakukan sekarang."


Apa itu?" tanya mereka bersamaan.


"Erin boleh tetap di sini dengan syarat harus menikah dengan Daniel."


"Eee Bro ... gue masih kuliah belum bekerja, gue masih belum berani karena takut tidak bisa memberikan nafkah lahir, kalau nafkah batin sih sehari sepuluh kali juga gue jabanin," jawab Daniel dengan cengengesan dan dia terkena geplakan banyak orang.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Mas yang akan memberikan modal usaha Verin Olshop menjadi lebih besar."


"Oya ...?"


__ADS_2