Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 235. Sidang


__ADS_3

Malam ini Khan, Vefe dan baby Aaron menginap di rumah Kakek Raharjanto. Bunda Fatia dan rombongan termasuk Umi Maryam tidak jadi menyusul ke rumah Kakek Raharjanto. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.


Keesokan harinya Bunda Fatia berkunjung ke rumah Kakek Raharjanto sendirian. Umi Maryam memilih menemani Mpok Ria yang masih membutuhkan perhatian. Bunda Fatia berencana akan berangkat ke pengadilan dari rumah Kakek Raharjanto bersama-sama.


Bunda Fatia berbincang dengan keluarga Vefe sampai pukul sepuluh pagi. Sidang Toni Prawira akan di gelar pukul sebelas siang. Akan berangkat ke sana bersama-sama untuk mendampingi Eno dan keluarga.


Hanya Bunda Fatia dan Vefe yang bisa menghadiri persidangan itu. Kakek Raharjanto juga tidak bisa ikut karena masih tidak enak badan. Khan harus menghadiri meeting pukul sebelas di Bogor bersama Asisten Satria.


Bunda Fatia dan Vefe duduk di kursi paling belakang. Ada Pasangan fenomenal Sania Parwati dan Doni Prawira beserta putri kecilnya hadir juga di persidangan. Keluarga Prawira juga menghadiri sidang pertama Toni Prawira.


Sania Parwati dan Doni Prawira langsung menemui Bunda Fatia sambil mencium punggung tangannya bergantian, "Apa kabar, Bun?" tanya Sania Parwati.


"Bunda baik Alhamdulillah, kalian sehat?"


"Alhamdulillah sehat, Bun."


"Cantiknya putrimu, siapa namanya?"


"Rea panggilannya, Bun. Reanda Putri Prawira."


"Di mana Khan, Bun. Kok tidak ikut hadir?" tanya Doni Prawira.


"Dia ada meeting di Bogor bersama Asisten Satria, hanya titip salam saja.


"Walaikum salam."


Sania Parwati tersenyum dan membungkuk menyapa Vefe. Diikuti Doni Prawira juga tersenyum sambil melipatkan kedua tangan di dada. Mereka langsung duduk bergabung dengan keluarga setelah palu diketuk oleh pimpinan sidang.


Toni Prawira sudah duduk di kursi pesakitan saat Eno dan Rian Santoso memasuki persidangan. Mata Toni Prawira langsung terbelalak sempurna melihat Eno memasuki ruang persidangan. Eno digandeng dengan mesra oleh Rian Santoso.


Vefe melihat senyum Eno yang tulus kali ini. Walau awalnya mata jelalaatan mencari seseorang di sekitar Vefe duduk. Setidaknya Eno terlihat mesra berjalan berdua dengan Rian Santoso.


Kali ini Eno duduk di samping Vefe dan Rian Santoso duduk di kursi paling ujung. Mata Eno selalu menatap tajam Toni Prawira yang selalu memandang Eno. Seolah mereka sedang perang dingin hanya dengan isyarat mata.

__ADS_1


Vefe berkali-kali bergantian melihat Eno dan Toni Prawira. Tatapan mata mereka terlihat ada aura kebencian yang membara. Ada juga rasa cemburu yang sangat besar terlihat di mata Toni Prawira.


Persidangan di mulai dengan dibuka secara resmi oleh ketua hakim. Pemeriksaan identitas terdakwa dan pihak penggugat. Dan pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum.


Jaksa penuntut umum membacakan dakwaan penggelapan uang dana sosial dan kesehatan karyawan perusahaan. Pencemaran nama baik Retno Wulandari. Dan penggelapan uang arisan dan Koperasi ibu-ibu sosialita.


Dituntut dua puluh tahun penjara. Penyitaan aset milik Toni Prawira termasuk perusahaan yang hampir gulung tikar. Serta ganti rugi dan pengembalian uang yang sudah di korupsi.


Sidang berjalan tersendat saat Toni Prawira selalu menyela jaksa penuntut umum membacakan tuntutan. Berkali-kali hakim mengetuk palu untuk memperingatkan Toni Prawira. Hakim memberikan waktu untuk pengacara terdakwa untuk membela diri.


Sidang berakhir setelah pihak pengacara terdakwa membela diri. Alasan pengacara terdakwa adalah uang yang di korupsi sebagian sudah di bekukan oleh bank. Terdakwa hanya menggunakan uang korupsi kurang dari tiga puluh persen.


Sidang kedua akan dilanjutkan Senin depan. Dengan mengajukan saksi baik dari terdakwa maupun korban. Dari masing-masing pengacara sudah mempersiapkan orang yang akan dijadikan saksi.


Saat Tino Prawira di borgol tangannya akan kembali dibawa ke tahanan. Dengan dikawal oleh dua polisi, laki-laki yang menjadi tersangka itu mendekati Eno, "Gue yakin tidak akan ada yang mau menikahi elo, Eno!" teriak Toni Prawira dengan senyum yang terlihat mengejek.


Rian Santoso langsung berdiri menghalangi Toni Prawira mendekati Eno, "Apa elo kata?"


"Elo tidak usah ikut campur urusan gue."


Toni Prawira menghentikan langkahnya sambil menatap Eno yang berdiri dibelakang Rian Santoso. Melihat Rian Satoso dari kaki sampai kepala. Penampilan yang biasa saja dari Rian Santoso, bukan tipe dan selera Eno.


Sambil tertawa terbahak-bahak Toni Prawira tidak percaya jika Rian Santoso benar-benar suami Eno, "Tidak mungkin elo suami wanita matre itu, penampilan gembel."


"Tidak masalah berpenampilan gembel yang terpenting gue yang memenangkan hati istri cantik gue, dari pada Elo penghianat!"


"Elo ya!" Toni Prawira ingin mendekati Rian Santoso. Hanya sayangnya dicegah oleh dua polisi yang mengawal dan ditarik ke luar ruang sidang, "Brengsek!" teriak Toni Prawira.


Malam harinya di dalam kamar, Vefe bercerita dalam pelukan Khan, "Mbak Eno kemarin wajahnya beda lo, Pi."


"Beda bagaimana?"


"Wajahnya berseri-seri, tersenyum tulus pada Bang Rian."

__ADS_1


Khan Tersenyum sambil berpikir kemarin malam adalah malam pertama bagi Eno dan Rian Santoso, "Palingan dia semalaman diberikan suntikan oleh Rian, jadi paginya senyum-senyum karena ketagihan."


Vefe mendongak memandang wajah Khan Yang tersenyum dan mengedipkan mata, "Papi maaah, pikirannya selalu itu. Apa mungkin Mbak Eno langsung mau diajak malam pertama, dari awal wanita itu terlihat terpaksa menikah dengan Bang Rian."


"Jangan salah, pesona laki-laki selalu membuat klepek-klepek kalau sudah beraksi, termasuk Papi."


"Itu beda dong, Papi."


"Apa bedanya, sama saja, nyatanya Mami selalu ketagihan dengan aksi Papi."


"Kalau Papi kerjaannya memang modus sehingga Mami jadi ketularan."


Beda lagi dengan Sania Parwati saat bertemu dengan Vefe di ruang sidang tadi pagi. Wanita itu seolah enggan memandang dan berinteraksi langsung dengan Vefe. Ada rasa tidak suka yang terlihat di mata wanita beranak satu itu.


"Mami juga bertemu dengan Bang Doni dan istrinya, Pi."


Mami bertemu dengan si Minyak Goreng itu?"


"Iya ... putrinya cantik banget, hanya sayangnya mantan Papi itu terlihat jutek sama Mami."


"Enak aja, dia bukan mantan Papi."


"Apakah dia tidak menyapa Mami?" tanya Khan sambil mencium kening Vefe berkali-kali.


"Tidak, dia hanya tersenyum dan membungkuk saja, hanya berbincang sesaat dengan Bunda Fatia."


"Mami tidak menyapa dia atau Doni?"


"Tidak ...." Vefe teringat saat tadi siang melihat wajah Sania Parwati yang terlihat datar tanpa ekspresi. Tidak pernah mengenal wanita yang pernah menyukai suaminya, membuat Vefe enggan berbincang atau hanya sekedar menyapa.


Khan mulai ingin beraksi dengan memasukkan tangannya dibalik baju Vefe. Ada suara dering ponsel yang ada di meja rias, "Aduh ... apa sih ini ponsel mengganggu saja!" gerutu Khan sambil meraih ponselnya.


"Siapa yang telpon, Pi?"

__ADS_1


"Lo kok tumben tante Dar telpon Papi, biasanya telpon Mami. Ada apa ini?"


"Cepat angkat, Pi!"


__ADS_2