
Vefe memutari area tas bermerk sampai dua kali. Tidak ada tas laki-laki yang berwarna pink. Wajahnya cemberut dan kesal karena hanya mendapatkan tas wanita yang berwarna pink.
Tidak tanggung-tanggung, Vefe memborong tiga tas sekaligus dengan model yang berbeda. Warna carry pink, pink muda dan yang paling disukai Vefe tas yang berwarna baby pink. Semua kembali diserahkan kepada Khan.
"Mi, tangan Papi penuh nich. Dibayar dulu atau kita lanjut?"
"Masih ada satu lagi yang belum, Pi."
"Apa lagi?"
"Sepatu."
"Ooo asal jangan beliin Papi sepatu pink aja," sayangnya Khan hanya bergumam tanda didengar oleh Vefe.
Ada seorang pelayan mall wanita cantik dan seksi yang mendekati Khan, "Permisi, apakah perlu bantuan, Kak?"
Vefe langsung melotot saat wanita itu memanggil Khan dengan sebutan Kakak. Khan memundurkan badannya tanpa menjawab pertanyaan wanita itu. Vefe tersernyum dan mengangguk, "Terima kasih, Kak. Suami saya masih kuat kok membawa belanjaan sendiri."
Vefe mendekati Khan dan berbisik di telinga, "Papi jaga mata, jangan melirik wanita itu," katanya sambil mengeratkan gigi.
"Papi memejamkan mata kok, Mi."
"Bagus, awas aja Papi melirik dia!"
Khan tersenyum dan menggelengkan kepala. Akhir-akhir ini Vefe selalu cemburu dan uring-uringan, sangat bertolak belakang saat dulu hamil baby Aaron. Sekarang ini selalu saja menunjukkan rasa cinta dan cemburu yang berlebihan.
Sampai di gerai deretan sepatu, Vefe tidak berkeliling terlebih dahulu. Melihat sepatu high heels pink yang tingginya lima centi meter. Vefe langsung mencoba tanpa ragu sambil berjongkok.
"Eee khusus untuk sepatu, jangan beli yang high heels dong, Mami!"
"Mengapa tidak boleh?"
"Ingat Mami sedang hamil, tidak baik bagi kesehatan apalagi nanti kalau hamil tua."
Vefe mengerutkan keningnya sambil melihat arah perut. Perut masih datar dan tidak terlihat kalau sedang hamil. Hamil baru berjalan dua bulan seharusnya masih aman dan tidak bermasalah.
__ADS_1
"Coba Papi lihat, perut Mami belum terlihat!"
"Iya memang, tetapi Mami Sayang ...!"
Vefe langsung cemberut sehingga Khan tidak melanjutkan ucapannya. Rasanya tidak tega melihat istri yang sangat kecewa, "Baiklah boleh beli, tetapi kalau sudah hamil besar tidak boleh dipakai ya!"
Wajah Vefe kembali cerah secerah mentari pagi. Kembali mencoba sepatu high heels berwarna pink yang berjajar rapi. Tidak hanya satu yang diambil tetapi tiga pasang sekaligus.
"Sudah ayo kita bayar ke kasir, Pi!"
"Ayo ...."
Vefe jarang sekali mau jika diajak belanja dulu. Sekarang ini sekali belanja menghabiskan lebih dari digit nol berjajar delapan. Khan yang membayar dan Vefe masih melihat area sekitar kasir, padahal saat berangkat tadi rencana Vefe akan membayar sendiri.
"Mi, masih ada yang dicari, ini sudah selasai bayarnya?"
"Tidak ayo pulang, Mami sudah kangen sama Aaron!"
Sampai di pintu keluar mall, Vefe menghentikan langkahnya, "Mengapa couple hanya Mami dan Papi, kok Aaron tidak Mami belikan baju pink tadi ya?"
"Ooo gitu ya, Pi. Kalau begitu kita pulang saja deh."
"Nanti kita mampir beli es krim saja untuk Aaron."
Sampai di villa, Vefe langsung membuka belanjaan di ruang keluarga. Ada baby Aaron sedang bermain dengan Pak Gun, Mpok Ria dan baby Ilham. Tidak lupa Vefe memberikan baju pink untuk Mpok Ria.
Pak Gun hanya menggelengkan kepala tanpa berkomentar saat Vefe sedang bercerita dengan Mpok Ria tentang baju pink untuk Khan. Tersenyum simpul saat melirik Khan yang melihat Vefe dengan wajah datar. Hanya membayangkan tuannya itu memakai baju pink pasti akan terlihat aneh dan lucu.
"Jangan berpikir macam-macam, Pak Gun," bisik Khan di telinganya.
Pak Gun menggelengkan kepala sambil kembali tersenyum. Baru memikirkan saja sudah dibaca oleh Khan. apalagi berkomentar pasti sudah di damprat habis-habisan.
Vefe mendekati Khan sembil membawa satu kemeja pink yang berlengan pendek, "Papi ayo pakai, Mami mau berfoto dengan Papi sekarang!"
"Waduh, Papi masih bau belum mandi, Mami!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tidak perlu di kancing biar terlihat maco, ayo cepat, Pi!"
Dengan pasrah Khan memakai kemeja pink dibantu oleh Vefe. Sambil dilihat Pak Gun dan Mpok Ria yang terlihat tersenyum. Baru kali ini melihat Khan tanpa daya diperintahkan oleh istrinya melakukan hal yang tidak disukai.
Vefe juga menggunakan baju model blezer tanpa lengan. Berfoto berdua baik selfi atau meminta bantuan oleh Pak Gun. Dengan kamera yang sangat canggih hasil foto terlihat bagus dan cerah.
"Waaah bagus banget, Papi terlihat maco. Mami suka banget terima kasih ya, Pi."
Khan menjawab mengangguk sambil tersenyum dan mengusap pipi Vefe, "Mami juga terlihat sangat cantik."
Hampir dua hari ini Vefe selalu memakai baju pink. Saat Khan ke kantor memakai setelan jas seperti biasa. Namun, saat di rumah harus memakai baju atau kaos pink yang sesuai gaun yang dikenakan Vefe.
Saat sore hari saat Khan sedang santai bermain dengan baby Aaron di ruang tamu berdua. Datang rombongan Asisten Satria, Dokter Dino dan Dokter Ega.
Dokter Dino langsung tertawa terbahak-bahak melihat Khan yang memakai kemeja pink dengan lengan yang digulung sampai siku, "Sejak kapan seorang Khan yang dulu garang sekarang ini menjadi pinky boy?"
Asisten Satria hanya tersenyum saja, tidak berani menertawakan Khan yang sekarang ini berpenampilan berbeda, "Apa yang terjadi dengan Anda, Tuan?"
"Ini semua keinginan ibu hamil, jangan menertawakan semua!" jawab Khan membela diri.
Dokter Ega diantar oleh Khan menuju kamar. Langsung akan memeriksa ibu hamil yang sekarang ini sedang beristirahat di kamar. Sedangkan Dokter Dino berbincang dengan Pak Gun dan Asisten Satria.
Dokter Ega memeriksa dengan teliti kehamilan Vefe. Tidak lupa juga memeriksa tensi darah, detak jantung dan denyut nadi. Tidak bisa memeriksa menggunakan USG karena tidak mungkin bisa membawa alat itu, hanya bisa menyarankan untuk pemeriksaan bulan depan untuk melakukan USG.
Malam ini Dokter Dino dan Dokter Ega akan menginap satu malam. Keduanya tidak bisa membawa serta keluarga karena kesibukan masing-masing. Kemungkinan hanya Asisten Satria yang belum tahu akan kembali ke Jakarta.
Setelah selesai makan malam, Asisten Satria melaporkan tentang pekerjaan dan situasi yang ada di Jakarta. Belum selesai melaporkan semua pekerjaan selama dua hari ini. Ada kiriman foto dari Pak Bowo melalui pesan WA. Satu foto yang isinya Kak Mursida sedang berhadapan dengan Pak Umar.
"Ada apa lagi ini Kak Mur?" kata Khan setelah membuka pesan WA dari Pak Bowo.
"Ada apa, Tuan?"
"Coba kamu lihat ini!" Asisten Satria melihat foto hanya sekilas saja.
Ada tulisan pesan WA lagi dari Pak Bowo, "Tuan, Bu Mursida meminta menginap di rumah Anda selama Anda di Sulawesi!"
__ADS_1