Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 148. Ancaman


__ADS_3

Sania Parwati berani berteriak memanggil Khan karena di dukung Bunda Fatia. Seluruh rombongan yang menyaksikan akad nikah mengikuti pengantin masuk ruang rawat inap Vefe. Mereka ingin mengucapkan selamat kepada putra Khan yang baru lahir.


Vefe yang kesal karena mendengar Sania Parwati yang berani berteriak memanggil suaminya. Dia saja tidak pernah memanggil dengan suara sekeras itu. Biasanya duduk disampingnya dan dielus pipinya saat membangunkan Khan.


"Eee jangan dengan suara keras seperti itu membangunkan suamiku," kata Vefe dengan khawatir.


"Maaf ... Saya tidak bermaksud kasar," jawab Sania Parwati.


Khan yang berasa terganggu dan hanya membuka mata sedikit. Tidak melihat orang yang mengikuti sepasang pengantin. Dia langsung dengan menjawab kesal, "Kalian minta di lempar ke penjara bersamaan, mengganggu saja!" gerutu Khan masih setengah tidur dan seolah nyawa belum terkumpul.


"Khan ...!" teriak Bunda Fatia yang muncul dari belakang Doni Prawira.


"Kok ada suara Bunda." Khan langsung terjaga dan membuka mata dengan lebar. Sambil cengar-cengir ternyata tidak cuma Bunda Fatia yang terlihat. Seluruh tamu dari pasangan pengantin datang.


Khan duduk dan melirik Vefe, kemudian melihat putranya yang masih tertidur pulas. Bunda Fatia langsung mendekati baby Aaron. Dan Khan mendekati Vefe serta duduk di sebelahnya.


"Kami mewakili sepasang pengantin mengucapkan terima kasih sudah bisa menyatukan mereka," kata Nyonya Prawira ibu kandung Doni Prawira.


"Sama-sama, Mama langsung mendapat menantu dan cucu sekaligus," kata Khan sambil tersenyum.


Nyonya Prawira tertawa lebar sambil mengacungkan jempol. Dilanjutkan dengan mereka satu persatu mengucapkan selamat kepada Vefe dan Khan. Berbincang tentang bayi yang baru lahir.

__ADS_1


Setelah setengah jam berbincang satu persatu tamu berpamitan. yang terakhir berpamitan adalah sepasang pengantin. Sania yang ingin menyalami Khan saat didorong kursi rodanya oleh Doni Prawira.


Bergegas tangannya di lipat di dada. Vefe yang mengulurkan tangan menggantikan Khan, "Selamat Kak. Semoga kalian bahagia."


"Terima kasih, Saya minta maaf," jawab Sania Parwati.


"Bro ... Terima kasih."


"Sama-sama. Ancaman aku tetap berlalu jika aku mendengar kamu menelantarkan putrimu, ingat itu!" ancam Khan.


"Diberikan ucapan selamat kek gitu, Eeee malah mendapatkan ancaman, tega banget sih," gerutu Doni Prawira.


Bunda Fatia dan Umi Maryam juga ikut pamit pulang. Hanya tinggal Pak Gun dan Mpok Ria, Mereka sedang membeli buah dan susu ibu menyusui. Berbelanja di mall yang ada di samping rumah sakit.


Hanya tinggal Khan, Vefe dan Asisten Satria. Berbincang bertiga bercerita tentang ijab kabul yang baru saja di lakukan oleh Doni Prawira. Kebetulan hari kerja jadi hanya dalam dua jam semua bisa terlaksana dengan baik.


"Mengapa Bang Doni tidak terlihat terpaksa ya, Mas?" tanya Vefe.


"Entahlah, dia memilih menikahi si Minyak Goreng itu daripada perusahaannya bangkrut."


"Mas mengancam Bang Doni?"

__ADS_1


Iya ...." Khan tersenyum devil.


"Kalau tidak diancam, pasti dia tidak akan setuju, Nona," jawab Asiaten Satria membela Khan.


Vefe termenung mendengar cerita Asisten Satria. Hanya demi kepuasan nafsu dan kenyamanan hidup. Rela melakukan apa saja, itu suatu yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya.


Malam harinya Wahono dan Aan datang lagi mengunjungi Vefe dengan pasangan masing-masing. Dewi terlihat perutnya sudah mulai membuncit. Hanya Kak Mur yang belum hamil padahal ingin sekali memiliki momongan.


Mereka berbincang dengan akrab. Bergabung juga Dokter Dino dan istrinya. Saat berbincang Dokter Dino menyarankan kepada Kak Mur untuk melakukan program bayi tabung.


Yang disarankan oleh Dokter Dino adalah Aan dan Kak Mur. Yang antusias Mpok Ria mendengar saran Dokter Dino. Dia langsung menyenggol lengan Pak Gun.


Mbok Ria memberikan isyarat jika dia juga ingin melakukan program bayi tabung. Kasus Mpok Ria dan Kak Mur hampir sama. Mereka menikah dengan umur lebih dari tiga puluh tahun.


Khan yang mengerti maksud dari Mpok Ria langsung menjawab, "Lakukan Mpok, aku yang akan membiayai!"


BERSAMBUNG


yok mampir di novel milik temen author, ini rekomen banget lo ada di Novel Toon juga kok jangan khawatir


__ADS_1


__ADS_2