
Khan membuka pintu sambil menggerutu. Bibirnya kembali dimonyongkan lima centimeter karena kesal. Apalagi setelah mengetahui orang yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum cengar-cengir.
"Mau ngapain mengetuk pintu, mengganggu saja!" teriak Khan kesal.
"Slow dong Abang ganteng, Lee di perintahkan oleh Mommy dan Bunda Fatia untuk mengantar ini!" Lee Kim Oen memberikan paper bag kepada Khan.
"Mengapa tidak besok saja sih?"
"Aduuuh ... Abang ini pemarah banget sih, Lee ini anak yang berbakti. Diperintahkan oleh Mommy dan Bunda langsung di laksanakan."
"Baiklah ... terima kasih, sana pergi!"
"Eee ngusir lagi, Lee ingin menyapa Kak Ve dulu," jawab Lee Kim Oen sambil kepalanya masuk mencari Vefe.
Khan langsung menoyor dahi Lee perlahan, "Tidak perlu menyapa segala, nanti Abang sampaikan."
"Tidak bisa dong, Bang. Lee ini ingin merasakan memiliki dan disayang Kakak."
Vefe datang berdiri di samping Khan dan memeluknya. Tersenyum kepada adik satu ibu beda ayah, "Lee ... Kakak sayang kamu kok, ada apa jam segini ketuk pintu?"
"Itu diutus oleh Mommy dan Bunda, dan sekalian bilang Lee sangat bahagia mempunyai kakak cantik dan baik hati seperti Kak Ve."
Vefe tergelak mendengar ucapan Lee Kim Oen. Hanya sayangnya Khan yang cemberut dan cemburu. Membuat Vefe semakin tertawa karena wajahnya yang terlihat aneh.
__ADS_1
"Kakak juga bahagia punya adik yang pintar dan berbakti."
"Sudah sana istirahat, jam segini masih mengajak ngobrol saja!" Khan masih setengah hati dan kesal.
"Iya Abang ganteng, Lee juga sangat bangga pada Abang Khan yang sangat mencintai Kak Ve. Terima Kasih. Lee pamit dulu."
Lee baru saja membalikkan badan meninggalkan pintu kamar hotel. Khan menutup pintu dengan cepat. Sesaat kemudian Vefe sudah melayang dalam gendongan bridal Khan, paket dari Bunda Fatia dan Mommy Astrid tergelak di samping pintu.
"Aaaah Papi, turunkan Mami!" teriaknya.
"Papi mau balas dendam sama Mami, dari tadi membuat Papi cemburu terus."
"Ampun ...!"
"Mami tidak mau gempor," kata Vefe sambil tergelak.
Malam itu Khan mengajak Vefe bergoyang mensejahterakan senjata tombak tomahawk. Baru dua ronde dia sudah terlelap tidak kuat menahan kantuk. Vefe tersenyum dan menggelengkan kepala melihat suaminya terlelap bahkan belum sempat mengenakan baju tidurnya kembali.
"Terima kasih, Mas.Ve sangat mencintai Mas. Terima kasih sudah membuat Ve bisa menemukan keluarga kandung." Vefe mengusap dan membelai rambut Khan.
Vefe mengenakan baju tidur yang tadi sudah tergeletak di sembarang tempat. Memeriksa baby Aaron yang masih terlelap. Kemudian tidur di antara suami dan putranya.
Matanya susah diajak untuk terpejam. Dari kemarin galau memikirkan orang tua yang baru ditemukan. Sekarang teringat keluarga dari almarhum ayah kandung. Seorang kakek yang memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan.
__ADS_1
Tidak berani berandai-andai bagaimana saat bertemu nanti? Mengingat Mommy Astrid sampai sekarang tidak pernah di terima di keluarga mereka. Ada bayangan dan ketakutan tersendiri jika tidak di terima juga seperti ibunya.
Sampai sepertiga malam Vefe tetap belum bisa terlelap. Teringat sebelum makan malam tadi sudah sempat tidur sebentar. Vefe langsung bangun untuk mandi besar.
Menghadap sang maha Khaliq untuk bersujud dan berdoa. Demi kelancaran semua dan mendoakan keluarga tercinta. Tidak ingin gelisah dan galau seperti kemarin lagi.
Hanya bisa dipasrahkan kepala Ilahi Robbi semua cobaan dan rintangan yang dihadapi. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya diluar batas kemampuan. Semoga dilancarkan semua rencana dan niat baik.
Setelah selesai melaksanakan solat di waktu sepertiga malam. Hati Vefe terasa tenang dan damai. Bisa memejamkan mata dan terlelap tidur di antara suami dan putranya.
Seolah baru sekejap terlelap waktu menghadap ilahi kembali memanggil. Bangun kembali dan mengajak berjamaah bersama Khan seperti biasanya. Inilah kenikmatan yang tidak bisa didapat dari manapun juga, ketenangan dan khusuk menghadap Ilahi Robbi.
Hari ini rencana Khan dan keluarga besar akan pulang. Ini juga hari pertama kunjungan Mommy Astrid dan keluarga ke rumah. Untuk bisa merasakan berbagi kebahagiaan layaknya keluarga yang seutuhnya.
Khan teringat paket yang ada di paper bag tadi malam, "Mami ... sudah dibuka paket yang diantar Lee tadi malam?"
"Belum ... lupa di mana paket itu, Pi?"
BERSAMBUNG
shobat Anna, jangan lupa untuk mampir di novel author yang di sebelah ya, seru lo.
__ADS_1