Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 115. Keinginan Ketupat Kandangan di Hari Pernikahan


__ADS_3

Dengan terpaksa Bunda Fatia menghubungi Bu Maya untuk bertanya tentang ikan haruan. Rasanya yang gurih membuat Vefe sangat penasaran. Vefe ikut mendengarkan keterangan Bu Maya yang menjelaskan tentang ikan haruan.


Ikan haruan adalah ikan predator di air tawar. Jika di pulau Jawa sering di sebut dengan ikan gabus. Hanya bedanya sebagian besar di Kalimantan sering hidup di daerah rawa.


Selain diolah menjadi olahan Aplang, di Kalimantan sering di keringkan atau di buat ikan asin. Air liur Vefe seolah menetes saat mendengar ikan haruan yang dijadikan ikan asin. Rasanya ingin menikmati ikan asin itu sekarang juga.


Bu Maya juga bercerita menu makan yang menjadi favoritnya yaitu hidangan ketupat Kandangan. Makanan Khas yang berasal dari salah satu daerah di Kalimantan Selatan tepatnya di daerah Kandangan.


Ketupat Kadangan adalah ketupat atau lontong yang di siram dengan kuah santan ikan haruan. Rasa wangi dari ikan haruan yang sangat khas karena di panggang terlebih dahulu sebelum di masak.


Kembali air liur Vefe serasa menetes setelah mendengar enaknya rasa ikan pangang yang dibumbui dengan kuah santan, "Membayangkan saja sepertinya gurih dan enak banget ya, Bun?" tanya Vefe.


"Tenang saja, Nak. Di Jakarta juga banyak kok ikan gabus. Ve mau yang berkuah atau yang lain?" tanya bunda Fatia.


"Yang berkuah saja Ve mau, Bun."


Sore itu Khan langsung memesan ikan gabus pucung melalui online. Ikan gabus pucung adalah masakan auntentik khas betawi yang legendaris. Cara masaknya yang berbeda dengan ketupat kandangan.


Jika ikan gabus pucung masakan yang berbahan dasar ikan gabus dengan bumbu kluwek seperti rawon. Ditambah bahan dari asem sebagai bahan bumbunya. Sehingga ada rasa seger dari asem dan gurih.


Dalam satu jam pesanan Khan datang dua porsi ikan gabus pucung. Langsung di hidangkan di meja makan oleh Pak Gun. Untuk menu makan malam ditambah menu masakan Pak Gun.


Ayo di cobain ikan gabus pucungnya, Sayang!"


Vefe mengangguk dan tersenyum mengambil satu potong ikan gabus pucung yang warna kuahnya seperti rawon. Sesendok demi sesendok Vefe makan dengan ikan yang di pesan oleh Khan. Rasanya tidak seperti tadi saat membayangkan ketupat Kandangan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Khan.


"Enak ... Terima kasih."


Vefe tetap saja masih membayangkan rasa ikan haruan yang dipanggang dan dimasak dengan santan. Dia hanya membayangkan saja karena makanan itu sangat jauh dari Jakarta.

__ADS_1


Sudah lima hari berlalu, Vefe masih saja membayangkan enaknya makan ketupat Kandangan. Dia hanya membayangkan saja tanpa meminta kepada Khan. Masih menahan dan masih berpikir ini keinginann hati atau yang dikatakan orang ngidam saat hamil.


Dari kemarin saat mengatakan menginginkan sesuatu Khan dan Bunda Fatia langsung menebak jika itu keinginan jabang bayi. Padahal terkadang hanya spontan ingin saja. Tidak seperti lima hari terakhir ini, selalu terbayang ketupat Kandangan dan ketupat klandangan lagi.


Hari ini adalah hari H pernikahan dua pasang bujang lapuk. Acara digelar di gedung yang sudah di booking satu tahun yang lalu oleh Eno. Dengan konsep perpaduan antara Jawa dan Betawi.


Akad nikah di laksanakan bergantian dan dipimpin oleh satu penghulu. Mas kawin juga dibuat kembar yaitu seperangkat alat sholat dan cincin sebesar 10 gram. Baju kebaya dan setelan jas untuk pengantin pria juga kembar yaitu warna putih.


Saat akad nikah Khan dan Asisten Satria datang berdua saja. Sengaja para pasangan tidak diajak. Karena sebagian besar para olahragawan yang menyaksikan ijab qobul dua pasang pengantin.


Ada yang unik dalam pernikahan dua pasang pengantin saat ini. Sebagian besar tamuya adalah petinju, perguruan silat. Bina ragawan dan olahrawawan. Jadi menu makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan standar gizi dan protein mereka.


Menu berbahan daging, ayam dan telur lebih dominan dalam prasmanan untuk tamu. Mereka menggelar resepsi pernikahan dari pukul sepuluh pagi sampai jam lima sore. Prasmanan protein lebih dari tiga kali lipat undangan masyarakat pada umumnya.


Tamu datang silih berganti sebagian besar mereka memasukkan dua amplop kanan dan kiri. Bunda Fatia, Vefe dan keluarga datang jam makan siang. Asisten Satria dan keluarga juga ikut bersama dengan Khan dan keluarga.


"Sayang, mau makan apa, Mas ambilkan?"


"Lihat saja dulu, Nak. Pilih saja dulu nanti baru diambilkan!" perintah Bunda Fatia.


Vefe masih penasaran dengan ketupat Kandangan dengan ikan haruan berkuah santan asli kalimantan padahal kemarin sudah mendapatkan ikan gabus pucung masakan asli Jakarta, "Ve mau makan ikan aja, Bun. Kalau ada," jawab Vefe.


Bunda Fatia mengerutkan keningnya karena teringat saat makan oleh-oleh dari Kalimantan yaitu amplang rasa ikan haruan dan membayangkan ketupat Kandangan seperti yang diceritakan oleh Bu Maya, "Nak Ve masih pingin ketupat Kandangan dari Kalimantan?"


Vefe tidak menjawab pertanyaan Bunda Fatia. Dia hanya menjawab dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Dalam hatinya masih penasaran tetapi tidak tega jika harus membeli makanan khas ke Kalimantan.


"Tidak ada menu ikan, Sayang. Jadi makan apa?"


"Ve makan soto saja, Mas. Tambah es krimnya dua ya!"


"Baiklah sana duduk dulu, Mas yang ambil."

__ADS_1


"Iya terima kasih, Mas."


"Bunda mau Khan ambilkan atau ambil sendiri?"


"Bunda ambil sendiri saja."


Khan dan Bunda Fatia konsentrasi mengambil menu makan . Tidak memperhatikan sekeliling. Disamping karena antri juga karena berisik suara lagu dari elekton yang menghentak.


Vefe yang duduk bertiga dengan Brio dan Brina buah hati Asisten Satria. Tanpa diduga langsung bergabung Bahar dengan tersenyum devil, "Hai ... Kak Cantik," rayu Bahar sambil mengedipkan mata.


Vefe langsung melotot dan menunjukkan wajah kesal, "Eee ngapain kamu ke sini?"


"Jangan jutek begitu dong, Kakak Cantik. Bahar hanya ingin berbincang dari hati ke hati saja."


"Dari hati ke hati pala lo peang!" jawab Vefe jutek.


"Kakak Cantik tega bangat sih sama Bahar yang ganteng pari purna ini."


Yang menjawab bukan Vefe tetapi si cantik Brina, "Iiiih najis pede banget, ganteng kalau dilihat dari puncak gungung."


"Eeee ...?"


Vefe tidak menjawab ucapan Bahar, dia mengambil ponsel dan menghubungi Khan. Tidak ingin suaminya marah dan cemburu. Belum sempat diangkat ponsel milik suaminya dia datang dengan membawa dua piring menu makan.


Bunda Fatia yang justru kesal karena tingkah tengil si Bahar. Dia langsung menggeplak kepalanya dengan menggunakan sovener centong kayu, "Kamu ngapain di sini?"


"Aduuh, Bunda ...!" teriaknya.


Brina dan Brio tertawa melihat Bahar di geplak kepalanya dengan centong nasi yang masih terbungkus plastik. Bahar hanya nyengir kuda sambil mengusap kepalanya.


"Kamu mau macam-macam dengan istriku lagi?" tanya Khan dengan jutek sambil meletakkan dua menu makan di meja.

__ADS_1


"Sabar Mas Bro ... Bahar hanya menemani Kakak cantik agar tidak di goda sama orang lain!"


__ADS_2