Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 157. Maaf Mami Sayang


__ADS_3

Khan tergelak dan langsung menutup senjata tombak tomahawk dengan kedua tangannya. Berdiri di belakang Vefe agar putranya tidak melihat. Dengan sengaja di gesekkan saat Vefe menunduk untuk menggendong baby Aaron.


"Maaf ya, Mami Sayang," bisik Khan di telinga Vefe.


"Hhmm ...."


Vefe tidak menghiraukan Khan yang merasa bersalah. Dia lebih fokus pada baby Aaron yang mulai haus, "Apakah putra Mami haus lagi?"


Baby Aaron masih terus menangis, tetapi matanya menegok ke arah belakang Vefe. Khan hanya terlihat kepalanya saja sedangkan badannya bersembunuyi dibalik badan Vefe. Dia tidak ingin dilihat putranya saat masih polos tanpa sehelai benangpun.


"Ayo kita minum ASI dulu, tidak usah lihat Papi, Papi lagi belajar menjadi tarsan," celoteh Vefe sambil tersenyum devil.


"Tega banget sih, Mami Sayang." Khan berbalik badan menuju kamar mandi tanpa menyapa putranya.


Vefe memberikan ASI hampir setengah jam bersamaan Khan keluar kamar mandi. Khan hanya melilitkan handuk pada pinggang mendekati Vefe dan baby Aaron, "Sudah kenyang, Nak? tanya Khan kepada putranya.


Baby Aaron hanya melirik papinya, seolah sedang mendukung maminya yang sedang kesal, "Mami dan Aaron sedang demo marah sama Papi ya?"


Vefe akhirnya tergelak melihat Khan salah tingkah. Merasa tidak enak dan merasa bersalah. Wajahnya terlihat bingung dan panik.


"Kami tidak marah, Papi." Vefe melambaikan tangan Aaron dan tangannya sendiri.

__ADS_1


Khan duduk di samping Vefe masih melilitkan handuk di pinggangnya. Memperlihatkan wajah sedihnya karena membuat kecewa. Saat mengajak senjata tomahawk beraksi tadi seolah dia hanya mementingkan kepuasan sendiri saja.


"Maaf sekali lagi ya, Mami. Nanti saat di hotel akan Papi bayar lunas dengan ...?"


Khan tidak melanjutkan ucapannya langsung dipotong oleh Vefe, "Sudah sana ganti baju, Papi. Jangan membicarakn itu di depan putra kita, takut Mami tidak tahan dan menyerang Papi!"


"Eeee ...!"


Khan tergelak dan berdiri menuju ruang ganti. Baru kali ini mendengar ucapan Vefe yang ikut berpikiran ngeres. Hatinya merasa lega setelah mendengar perintah istrinya.


Seluruh keluarga yang ikut menginap sudah berkumpul di hotel termasuk Erina dan Daniel. Saat ini mereka sedang berkumpul di restoran untuk menikmati coffee break. Menikmati waktu santai sambil berbincang.


Khan konsentrasi membaca biodata Mr. Kim Oen pengusaha dari Korea yang tinggal di Amerila. Istrinya orang Indonesia asli tetapi sudah hanpir dua puluh tahun lebih tidak pernah pulang ke Idonesia.


Khan jadi teringat satu bulan yang lalu saat Mr, Kim menghubungi. Yang awalnya jadwal sudah tersusun rapi dan tinggal pelaksanaan. Tiba-tiba diundur satu bulan lagi hanya karena istri dan putranya ingin ikut ke Indonesia.


Vefe yang duduk di sebelah Khan dan baby Aaron yang terlelap di kereta stroller kaget setelah Asisten Satria berteriak memanggil, "Tuan ...!"


"Ada apa, bikin kakget saja?" tanya Khan dengan kesal karena tiba-tiba baby Aaron menangis kencang.


"Maaf ... Mr. Kim Oen dan keluarga sudah sampai di depan lobi hotel, ayo kita menyambut mereka!"

__ADS_1


Vefe langsung menggendong baby Aaron agar kembali terlelap. Khan ikut mengusap punggung baby Aaron agar lebih nyaman. Sampai bayi berwajah bule terdiam dan terlelap kembali.


"Ayo kita ke sana!" ajak Khan kepada Asisten Satria.


"Istri Mr. Kim yang bernama Nyonya Astrid ingin istri Anda juga ikut menyambut mereka, Tuan."


Khan dan Vefe saling pandang karena merasa heran. Baru pertama kali ini ada rekan bisnis yang menanyakan Vefe, "Ini kita mau meeting atau berkenalan dengan keluarga?" tanya Khan.


"Kata Mr. Kim istrinya ingin mempunyai teman di Jakarta, tetapi anehnya dia menanyakan istri Anda dan tidak menanyakan Nina istri saya," cerita Asisten Satria.


"Bagaimana mau ikut menyambut mereka, Mami Sayang?" tanya Khan.


"Boleh aja sih, tetapi baby Aaron Mami titipkan Mpok Ria dulu."


Mereka bertiga bergegas menuju lobi untuk menyambut tamu. Dari kejauhan sudah terlihat Sepasang suami istri yang berjalan bersama seorang pemuda tanggung. Setelah berjarak dua meter tiba-tiba Nyonya Astrid lemas dan pingsan dalam dekapan putranya.


"Eee ... Mengapa Nyonya itu?" tanya Vefe.


BERSAMBUNG


Ayo mampir di novel teman author shobat, ini rekomen banget lo sambil menunggu KKJ up lagi.

__ADS_1



__ADS_2