Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 155. Hari Wajib Libur Nasional


__ADS_3

Ayah Jose hanya nyengir kuda di marahi Khan dan Bunda Fatia. Tidak menyangka jika baby Aaron dan Vefe masih terlelap saat berteriak memanggil istrinya. Ada kabar dari Manhatten yang sangat penting.


"Maaf ya, Nak Ve. Ayah tidak tahu."


"Tidak apa-apa, Ayah." Vefe langsung mengankat baby Aaron.


Vefe memeriksa dahinya untuk memeriksa suhu tubuh putranya. Khawatir akan naik lagi karena tangisannya seperti tadi malam. Khan juga ikut memeriksa putranya memegang telapak tangan dan dahinya.


"Sudah dingin, Jagoan Papi?" tanya Khan kepada putranya.


"Aaron sudah sehat, Papi." Vefe yang menjawab pertanyaan Khan.


Ayah Jose mendekati Bunda Fatia sambil menunjukkan ponsel yang dipegangnya yang masih aktif, "Bun, lihatlah ini email dari Asisten Ardi. Kita harus ke Manhatten sekarang!"


Bunda Fatia membaca email tentang jadwal Ayah Jose yang padat. Sudah hampir dua bulan tinggal di Jakarta dan bekerja melalui online. Saatnya sekarang harus kembali ke pekerjaan yang menjadi tanggung jawab.


"Kita harus pulang ke Manhatten?"


"Iya ... Bun. Banyak sekali pekerjaan yang tertunda. Ayah harus menghadiri jadwal penting ini."


"Sebenarnya Bunda masih berat untuk berpisah dengan baby Aaron."


"Nanti bisa kembali setelah pekerjaaan Ayah selesai, Bun. Tanggung jawab harus juga diutamakan." Khan ikut menyakinkan Bunda Fatia.

__ADS_1


"Iya Bun, ayo kita ke Manhatten dulu, ini demi semua karyawan," ajak Ayah Jose.


"Baiklah kita pulang dulu, nanti jika sudah selesai kita kembali ke sini."


Pagi itu juga Ayah Jose dan Bunda Fatia terbanng ke Manhatten. Di rumah semakin sepi setelah Mpok Ria juga harus bolak-balk ke rumah sakit. Terkadang di temani Pak Gun untuk mempersiapkan program bayi tabung.


Hari ini adalah hari yang di tunggu oleh Khan. Hari terakhir nifas Vefe. Akhirnya dia berhasil melewati empat puluh hari dengan susah payah dan penuh perjuangan.


Karena adanya baby Aaron yang menggemaskan sedikit bisa mengalihkan perhatian Khan. Dia bisa sedikit melupakan tentang keinginannya mengajak tombak tomahawk beraksi.


Pukul sembilan pagi Khan masih santai dan duduk di kursi kebesarannya di kantor pribadi yang ada di samping kamar utama. Masih memakai baju tidur dan belum mandi pagi. Memeriksa email dan dokumen penting lewat laptop miliknya.


Vefe masuk kantor Khan sambil menggendong baby Aaron. Mereka selesai berjemur di samping kolam renang berdua. Heran karena Khan belum juga berangkat ke kantor padahal waktu sudah siang.


"Ya Mami Sayang."


"Mengapa masih pakai baju tidur, hari ini tidak ke kantor?"


Khan hanya mengedipkan mata sesaat dan matanya kembali konsentrasi di laptop. Ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan ingin beraksi secepatnya. Otaknya sudah tidak bisa berpindah ke lain lagi selain beraksi.


"Papi Bule, di tanya diam saja?"


"Hari ini hari sangat yang istimewa bagi Papi, tidak mungkinlah Papi lewatkan begitu saja. Bagi Papi hari ini adalah hari wajib libur nasional ke kantor." Khan menjawab sambil kembali mengedipkan matanya.

__ADS_1


Vefe mengerutkan keningnya sambil mengulang kata-kata hari wajib libur nasional berkali-kali. Dia tidak memahami arti dari perkataan suaminya. Karena sibuk dengan putranya Vefe sampai melupakan hari yang sangat di tunggu Khan.


"Hari wajib libur nasiaonal, itu memperingati hari apa sih, Papi?"


Mata Khan melirik sela di antara dua kaki Vefe, "Hari bisa mengajak itu beraksi."


"Ya Allah ... Papi. Otaknya masih banyak pasirnya ngeres terus. Coba lihat Aaron mendengarkan Papi lo ini!"


Khan mengusap pipi baby Aaron dengan lembut, "Maaf ya, Nak. Boleh lah nanti Papi pinjem Mami kalau putra Papi tidur?"


Dengan gemas Vefe mencubit pinggang Khan. Otaknya sama sekali tidak bisa dialihkan lagi. Mungkin percuma jika berangkat ke kantor tetapi hatinya tertuju pada senjata tombak tomahawk saja, "Dasar Papi ...!"


"Aaaauw, sakit, Mami Sayang!"


"Sana mandi dulu, itu jangan dibicarakan di depan putra kita, tidak baik, Papi."


"Iya maaf, maaf ya putra Papi yang ganteng," jawab Khan sambil mengecup pipi baby Aaron.


Vefe keluar dari kantor Khan, bertemu dengan Mbok Ria. Baby Aaron berpindah gendongan pada Mpok Ria. Khan menyusul dan berbisik di telinga Vefe, "Yok temani Papi mandi sebentar?"


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir di novel teman author yang rekomen ini ya shobat, sambil menungu KKJ up lagi besok, terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2