Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 98. Modis


__ADS_3

Khan spontan memajukan badannya untuk menghalangi Bahar untuk meraih tangan Vefe. Dengan otomatis tangan Hahar menabrak badan Khan. Membuat bahar kaget dan memundurkan badannya.


Dengan tatapan mata yang tajam Khan, Bahar memundurkan badannya dan menunduk, "Maaf Kakak Tuan, saya permisi pamit."


Belum sempat Bahar berbalik badan. Pemuda itu sudah diitarik tangannya oleh Pak Misbah. Mereka langsung menyusul Ibu Maya yang sudah berjalan keluar villa.


Vefe menahan tawa sambil menutup mulutnya. Khan yang melihat istrinya tersenyum langsung merangkul dan menciumi pipinya berkali-kali. Tidak memperdulikan masih ada Pak Gun dan Mbok Ria beserta pegawai villa.


"Mas ... Malu di lihat semua orang!" teriak Vefe terus tergelak.


"Biarin saja, Mas kesal mengapa Ve tertawa?" jawab Khan terus mencium pipi Vefe tanpa henti.


"Wajah Mas Khan lucu kalau sedang cemburu."


Ada suara ombak terdengar sayup-sayup, temaram lampu seolah melambai mengajak untuk bersantai. Vefe keluar ingin bersantai di sana sambil ingin menikmati indahnya malam.


"Mau kemana?" tanya Khan dengan jutek.


"Eleeh-eleh Mas ini su'uzon saja, Ve mau bersantai di pinggir pantai, tidak mungkin akan bertemu dengan putra dari Pak Misbah."


"Tunggu dulu!" teriak Khan.


"Ada apa lagi, Mas?"


"Pakai jaket, sarung tangan dan kaos kaki dulu, Sayang."


"Mas saja yang mengambilnya, Ve malas."


"Tunggu sebentar Mas mengambilnya, jangan keluar tanpa memakai jaket!"


Vefe duduk kembali di kursi meja makan. Tidak ingin membantah perkataan Khan. Masih ada keluarga Pak MIsbah di luar sana, lebih baik menunggu sampai mereka perpamitan.


Kali ini tidak cuma Vefe dan Khan yang duduk bersantai di depan villa. Pak Gun dan Mpok Ria juga ikut menikmati indahnya malam. Saling berpelukan dan bercanda sambil melihat kilauan ombak yang bergemuruh.


"Mas ... Mengapa putra teman Bunda itu mengira Ve adalah putri Bunda Fatia?" tanya Vefe iseng.


"Mas juga tidak tahu, jangan bahas dia lagi Mas tidak suka!"


"Eee masih sewot aja sih, orangnya sudah pergi juga."


"Tetap saja Mas kesal, matanya ingin Mas colok pakai gangang sapu biar tidak bisa melihat Ve sepeti itu lagi."


"Ha ha ha Mas Bule kalau marah ngeri banget." Vefe semakin tergelak melihat Khan masih sewot padahal orangnya sudah pergi dari tadi.

__ADS_1


"Besok Ve ingin mencari oleh-oleh di Pasar tradisional ya, Mas!'


"Tentu ... Ve mau beli apa, nanti Mas anter ke pasar Jimbaran."


"Ada apa saja di sana, Mas?"


"Banyak banget, besok lihat saja sendiri."


"Ve pingin membelikan kaos khas bali untuk adik-adik di panti asuhan."


Tiga hari berlibur di Bali, mereka kembali ke Jakarta setelah mencari oleh-oleh khas Bali. Pekerjaan sudah menunggu di Jakarta yang harus di kerjakan. Banyak keryawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan yang di pimpin oleh Khan.


Saat istirahat siang, Vefe datang ke kantor Khan. Dia membawa bekal makan siang untuk suaminya. Vefe ingin makan siang berdua di kantor.


Tanpa mengabari terlebih dahulu, Vefe datang dengan menggunakan jasa mobil online menuju kantor. Membawa box bekal lauk kesukaan Khan dan jus buah kesukaan Vefe.


Sampai di depan kantor, Vefe akan turun dari mobil. Yang awalnya security tidak memperdulikan ada mobil yang berhenti. Setelah mengetahui ada nyonya pemilik perusahaan, security berlari dan membukakan pintu mobil.


"Selamat datang, Nona!"


"Terima kasih."


Vefe langsung berjalan melenggang masuk. Resepsionis melihat Vefe masuk, mereka langsung menagngguk dan menyapa Vefe dengan sopan, "Selamat siang, Nona."


Tanpa ada yang berani menggosip dan memandang sebelah mata pada Vefe. Semua karyawan yang bertemu dan berpapasan dengan Vefe, mereka menunduk hormat dan menyapa dengan sopan.


Belum sampai di kantor Vefe bermonolog sendiri, "Mereka menyapa karena penampilan Ve yang modis atau karena takut sama Asisten Satria ya?'


Vefe langsung mendorong pintu kantor Khan bersamaan Khan menghubungi Vefe menggunakan ponselnya, "Assalamualaikum." kata Vefe


"Walaikum salam ... Lo kok suaranya asli?" tanya Khan melihat ponselnya tanpa melihat Vefe masuk melalui pintu kantornya.


"Memang asli ini Ve ada di sini." Vefe terseyum berdiri di depan meja kerja.


"Sayang ... Mas kangen banget ingin dengar suara Ve, Alhamdulillah langsung di kabulkan. Kemarilah!" Khan merentangkan tangannya.


Vefe meletakkan box bekal di meja kerja Khan dan masuk dalam pelukan Khan. Khan langsung memeluk dan menciumi keningnya dengan mesra. Lebih mengeratkan pelukannya seolah sudah satu minggu tidak bertemu.


"Mas sudah makan?"


"Belum ... Mas baru selesai memeriksa dokumen yang banyak itu."


"Ayo makan dulu, Ve juga lapar."

__ADS_1


Vefe menyiapkan makan siang di meja ruang tamu yang ada di samping meja kerja Khan. Ada nasi, sayur lodeh dan ikan bawal goreng. Dan tidak lupa sambal terasi sebagai pelengkap serta jus buah.


Makan berdua dengan lahap, untungnya Vefe tetap bisa makan seperti biasa dan tidak mengalami mabuk walaupun hamil. Yang sering Vefe alami hanya pusing dan malas saja. Vefe sering tidur sepanjang waktu saat malasnya datang.


Baru selesai makan Khan sudah mulai usil karena debaran hati yang tidak bisa hilang, "Sayang, Mas kok pingin berburu sekarang, boleh ya?"


"Eee mana boleh, ini kantor Mas. Bukan kamar?"


"Mas punya kamar lo, mau lihat?"


"Tidak aaah Ve tidak bawa ganti baju."


"Ayo Mas tujukin kamar kita!"


Khan menarik tangan Vefe dan digandengnya menuju kamar yang ada di balik lemari buku. Kamar yang seperti kamar hotel lengkap dengan fasilitas yang ada. Termasuk baju Vefe dan bahkan ada banyak baju lingerie tergantung di lemari.


Vefe mengerutkan keningnya saat memeriksa lemari yang berisi baju ukurannya terutama baju lingerie, "Ini kapan ngisi baju saringan tahu begini, Mas?"


Khan tergelak ikut melihat berbagai macam model baju tidur yang transparan, "Elya yang berbelanja sisa baju yang di kirim ke Manhatten kemarin."


Khan mulai ingin berburu dengan memeluk Vefe dari belakang. Ada suara ponsel berdering yang ada di kantong. Terpaksa harus diangkat dulu karena dari Asisten Satria.


"Ada apa?" tanya Khan setelah menggeser tombol hijau.


" ...?"


"Tunggu aku keluar!"


Berburu diurungkan karena ada Asisten Satria menunggu di depan meja kerja Khan. Sebelum keluar dari kantor, dengan sengaja kapak tomahawk yang sudah terbangun sempurna di tempelkan di badan belakang Vefe.


"Aaaa Maas!" teriak Vefe.


"Dia sudah siap berburu, tetapi ada Asinten Satria di luar, ayo ke sana dulu!"


Khan keluar kamar sambil menggandeng Vefe. Asisten Satria tersenyum melihat mereka keluar dari kamar. Otaknya sudah traveling sendiri sampai puncak nirwana.


"Apakah saya mengganggu Anda, Tuan?" tanya Asisten Satria.


"Sangat ... Ada apa?" jawab Khan dengan kesal.


"Di luar ada tamu yang ingin bertemu Anda?"


"Siapa?"

__ADS_1


"Ini ada hubungannya dengan Pak Misbah, Tuan."


__ADS_2