Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 99. Kak Mur


__ADS_3

Khan membulatkan matanya mendengar nama Pak Misbah disebut oleh Asisten Sartia. Walaupun dia tidak ikut saat ke Bali. Dia mendengar cerita dari Pak Gun kemarin.


"Maksud kamu ada putranya Pak Misbah ke sini?" tanya Khan dengan suara kesal.


Vefe tersenyum sambil menutup mulutnya, bukan karena di sukai seseorang. Lebih terlihat lucu melihat Khan yang terlihat cemburu. Wajahnya terlihat gagah tetapi mukanya cemberut dan menahan emosi.


Wajah Khan yang oriental putih bersih menjadi memerah karena menahan marah. Sorot matanya yang tajam seolah akan menembus dan membakar apa saja yang ada di depannya. Saat melihat kearah Vefe raut wajahnya berusaha dirubah menjadi ramah itu yang terlihat menjadi lucu.


"Bukan putranya Pak Misbah, Tuan. Dia seorang wanita dewasa yang berpenampilan sedikit norak. Wanita itu mengatakan bahwa dia adalah adik tiri dari Pak MIasbah."


"Mau ada urusan apa dia ke sini?" tanya Khan lagi.


"Dia mempunyai bisnis di Bali, ingin bekerjasama dengan Anda?"


"Kamu saja yang yang menemui dia, aku malas!" perintah Khan lagi.


"Maaf, Tuan. Dia memaksa untuk bertemu dengan Anda."


Vefe mengerutkannya keningnya, sekarang ini Khan tidak khawatir lagi karena rasa cemburu. Sekarang ini lebih khawatir karena karena dia seorang wanita. Takutnya traumanya akan muncul jika wanita itu sok akrab.


"Ayo Mas, Ve temani saja."


"Ve yakin?"


"Yakinlah ... ayo!"


Saat Vefe akan keluar kantor Khan, Asisten Satria langsung memanggil Vefe, "Tunggu Nona!"


"Ada apa, Bang?"


"Sebaiknya Anda dan Tuan menemui wanita itu di kantor saya saja, jadi saya bisa mengawasi jika nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."


"Baiklah, di mana dia sekarang?"


"Dia masih ada di ruang tunggu samping lobi."

__ADS_1


"Silahkan panggil dia, kami tunggu di kantor sekarang!"


Siap ...."


Sementara Asisten Satria memanggil tamu adik tiri Pak Misbah. Khan dan Vefe masuk ke kantor Asisten Satria. Mereka duduk di sofa dan Khan masih sempat merayu istrinya.


Khan mencium dan mengusap bibir Vefe berkali-kali. Memeluk dan mengusap pingggang dengan lembut. Sampai tamu dan Asisten Satria datang, Khan tetap masih merayu istrinya.


"Selamat siang ...." Wanita dewasa itu datang langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Vefe yang memajukan tangannya untuk bersalaman. Sebelum wanita dewasa itu berpindah ke Khan. Khan sudah menyatukan ke dua tangannya di dada. Sehingga dengan terpaksa wanita dewasa itu ikut menyatukan tangannya di dada.


Wajah wanita dewasa itu terlihat kecewa. Muka yang awalnya cerah kini seperti mendung yang tiba-tiba datang. Hanya saja dia masih mencoba tersenyum dan bersikap ramah.


"Perkenalkan nama saya Mursida panggil saya Kak Mur."


"Kak Mur perkenalkan saya Asisten Satria, beliau Tuan Khan dan istrinya Nona Vefe," Asisten Satria yang memperkenalkan diri.


"Salam kenal semua."


Vefe tersenyum dalam hati karena melihat Kak Mur yang berpenamilan unik. Dia sangat percaya diri dengan memakai baju yang terlihat norak. Kemeja bercorak polkadot berpadu dengan rok bunga-bunga yang warnanya sangat mencolok.


Di tambah pula dengan memakai bando besar dengan corak garis-garis. Riasan wajah yang terlihat menor. Dan di tambah sepatu wedges dengan warna merah menyala.


Saat Kak Mur mengajukan penawaran kerja sama. Asisten Satria yang sering menanggapi. Khan hanya memperhatikan sambil mengusap pipi atau punggung Vefe.


Khan sama sekali tidak berkonsentrasi tentang tawaran demi tawaran yang diajukan Kak Mur. Khan lebih memilih merayu dan mengusap punggung Vefe. Otaknya masih teringat saat tadi akan berburu di kamar.


Setelah Asisten Satria menyepakati kerja sama. Khan hanya beberapa kali bertanya dan memberikan pendapat. Dia lebiih memilih mendengarkan saat Kak Mur menerangkan dan menawarkan keuntungan yang menggiurkan.


Asaiten Satria mulai memahami jika tuannya mulai gelisah. Dia langsung menyodorkan untuk tanda tangan kesepakatan, "Silahkan tanda tangan di sini,Tuan!"


Khan langsung menandatangani berkas kerja sama, "Baiklah, ini sudah selesai saya permisi dulu. Selanjutnya silahkan di teruskan bersama Asisten Satria!"


"Eee tapi saya masih ingin berbincang dengan Anda secara pribadi," pinta Kak Mur.

__ADS_1


"Maaf Kak Mur, ada sesuatu yang harus kami lakukan permisi!"


Khan langsung mengajak Vefe keluar kantor Asisten Satria. Masuk kembali ke kamar yang ada di dalam kantor. Tanpa menunda lagi untuk berburu dengan istrinya.


Dari tadi sudah menehan rasa lebih dari satu jam karena ada tamu. Baru membuka pintu, Khan langsung menyerang tanpa ada jeda. Dia tidak memperdulikan ada suara ponsel kembali berdering.


"Mas ...itu ponsel berbunyi!" teriak Vefe.


"Biarkan saja," Khan terus bergerilya menyusuri wajah dan bibir Vefe.


Vefe mendorong tubuh Khan agar mengangkat suara dering ponsel miliknya yang ada di kantong, "Mas ... Coba dilihat dulu!"


Khan merogoh kantong celana perlahan. Mulutnya tetap fokus kepada dua gundukan. Hanya matanya yang melihat nomor yang tidak diketahuai milik siapa.


"Nomor tidak di kenal, Sayang." kata Khan melepas tautan dari ujung gundukan kembar, menekan mode silent dan melempar ponsel di tempat tidur.


Kembali beraksi dengan mengulangi dari wajah bergeser ke bawah. Kembali ke gundukan kembar dan bermain di sana. Setelah puas berlanjut keduanya berbaring di tempat tidur mulai Kapak tomahawk beraksi.


Aksi kapak tomahawk selalu bermain halus dan lembut. Menikmati setiap prosesnya tanpa mengurangi indahnya sampai puncak nirwana berdua. Khan selalu menjaga si bayi mendapat perlindungan yang aman.


Setelah sampai puncak nirwana berdua. Khan langsung tumbang disamping Vefe kemudian memeluknya dengan erat, "Terima kasih, Sayang. Yang di sini amankan?" Khan mengusap lembut perutnya.


"Aman sih, Mas. asal jangan minta tambah berburu lagi."


"Tidak minta lagi kok... Istirahatlah!"


Vefe mengangguk menyelimuti tubuhnya yang masih polos. Memejamkan mata untuk beristirahat. Khan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat Khan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Melihat vefe sudah terlelap dan bermimpi indah karena melihat bibirnya tersenyum manis.


Memakai baju yang bersih yang diambil dari lemari. Mengecup kening Vefe sekilas setelah itu meninggalkan dia di kamar. Melanjutkan untuk bekerja di meja kerja.


Ponsel yang tadi berkali-kali berdering dengan nomor yang sama dengan suara getar saja. Tetap tidak di angkat dan tidak jawab oleh Khan. Khan melihat ada empat kali panggilan yang tidak terjawab.


Khan ingin memastikan siapa yang menghubungi. Dia lebih memilih menghubungi Asisten Satria. Dengan cara mengirim nomor ponsel kepadanya dan mengirim pesan WA, "Ini nomor ponsel siapa?"

__ADS_1


Pesan WA langsung di baca oleh Asisten Satria dan langsung di jawab, "Itu nomor Kak Mur, Tuan. Orangnya masih di sini, dia masih ingin berbicara secara pribadi dan tidak mau pulang sebelum bertemu dengan Anda."


__ADS_2