
Umi Maryam meminta Tante Suprapti duduk di sebelah Vefe. Menjelaskan panjang lebar tentang alasan menghindar dari ayahnya. Tidak tega untuk menolak orang yang sangat disayang Vefe, tetapi hati tidak bisa terpaut.
Masih berpegang dengan janji setia pada almarhum Abi Syam. Tidak ingin menghianati cinta yang sampai sekarang masih terpatri. Tidak ingin menikah lagi sampai ajal menjemput nanti.
"Cinta tidak bisa dipaksa, Tante. Tolong jangan salahkan siapapun. Ve juga sudah bercerita kok tiga minggu yang lalu kepada Kakek."
"Mengapa Nak Ve tidak cerita sama Tante?"
"Ini permasalahannya tentang hati, Tante. Ve selalu menjaga hati Kakek dan Umi, Ve selalu di tengah dan tidak memihak salah satunya. Jadi adilnya hanya Ve dan Papi saja yang tahu."
"Dari mana Jeng Prapti tahu tentang masalah ini?" tanya Umi Maryam.
"Saat perjalanan pulang dari Wonogiri ke Jakarta, Kakek sengaja tidak mau diajak menghadiri pernikahan Eno."
"Maksudnya Kakek sengaja tidak hadir karena tidak ingin bertemu dengan Umi?" tanya Vefe.
Tante Suprapti bercerita saat sedang berdua dengan ayahnya di gerbong kereta api. Bercerita jika ingin dekat dengan Umi Mryam. Ingin ada yang menemani dalam masa tua.
Kakek Raharjanto sangat menyadari jika Umi Maryam sengaja menghindar. Sehingga saat diajak langsung ke acara Eno, dia menolak. Tidak ingin membuat Umi Maryam tidak nyaman.
Sudah ikhlas jika keinginan hati hanya tinggal sebatas angan saja. Tidak ingin memaksakan kehenak. Karena setelah lebih dari dua puluh tahun baru bisa tertarik lawan jenis hanya dengan pimpinan panti asuhan.
"Ya sudahlah, semua sudah terjadi, Maafkan Ayah ya Umi jika selama ini merepotkan Umi terus," kata Tante Suprapti.
Umi Maryam langsung memeluk Tante Suprapti dengan erat, "Umi juga minta maaf ... bukan maksud untuk menyakiti Almarhum, semoga almarhum mendapatkan tempat yang seharusnya disisi Allah dan diampuni segala dosanya."
"Aamiin ... terima kasih Umi."
Seperti rencana awal pagi ini pukul sepuluh pagi. Almarhum dimakamkan di makam pahlawan. dilepas dengan upacara kemiliteran. Suara tembakan mengiringi kepergian jenazah ke luar rumah duka.
__ADS_1
Diiringi tangisan putri dan cucunya, jenazah Almarhum Kakek Raharjanto diberangkatkan ke peristirahatan terakhirnya. Seorang ayah yang berjuang sendirian membesarkan kedua putrinya. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu dam memperjuangkan keluarga.
Vefe yang baru saja mengenal kakeknya. Sudah bisa merasakan kasih sayang dan perhatiannya. Sangat memperdulikan kebahagiaan keluarga baik dari segi materi ataupun masa depan.
"Selamat jalan, Kakek. Semoga kakek lebih bahagia di sisi Allah." Doa Vefe mengikuti mobil jenazah dari belakang.
Sampai di makam pahlawan kembali di sambut dengan upacara militer. Berpadu dengan cara islami upacara pelepasan berjalan dengan lancar. Terasa khidmat dan sangat khusuk upacara pelepasan yang berlangsung.
Sampai suara tembakan kembali menggema untuk yang terakhir kalinya. Jenazah dimasukkan di liang lahat dan kumandang Azan dan Iqomah dilantunkan oleh Khan. Air mata tiada henti terus mengalir melepas kepergian Almarhum Kakek Raharjanto.
Malam hari Vefe memilih menginap di rumah Almarhum Kakek Raharjanto. IKut mengirim doa bersama di rumah. Dihadiri keluarga, tetangga dan sahabat kakek yaitu anggota dewan.
Hampir tiga hari berlalu, Vefe masih di rumah Kakek Rahajanto. Saat siang Khan ke kantor dan sorenya menyusul Vefe. Hari keempat Vefe izin pamit kepada kedua tantenya. Karena masih ada tanggung jawab membantu Mok Ria mengurus baby ilham.
Tepat tujuh hari berpulangnya Almarhum Kakek Raharjanto. Bertepatan ulang tahun baby Aaron yang pertama. Vefe tidak jadi merayakan ulang tahun putranya seperti rencana awal.
Hanya dirayakan dengan makan bakso di panti asuhan bersama anak panti asuhan pada siang hari. Memanggil rombong bakso datang ke panti asuhan. Dan membagi bingkisan untuk anak-anak panti.
Baby Aaron yang baru berumur satu tahun, juga belum faham tentang acara ulang tahun. Yang ditonton hanya film kartun dan film tentang balapan mobil atau mobil. Bahkan saat diberikan ucapan selamat pun batita itu tidak begitu menanggapi.
Bersamaan pula persidangan Toni Prawira dengan pengajuan saksi. Saksi dari pihak penggugat ataupun dari pihak tergugat. Semua saksi bersumpah untuk mengatakan yang sebenarnya dan berjanji diatas kitab suci.
Hanya Bunda Fatia dan Asisten Satria yang menghadiri persidangan itu. Vefe dan Khan sedang berada di panti asuhan. Bersama Mommy Astrid, Daddy Kim Oen dan tidak lupa sang uncle opa tampan Lee Kim Oen.
Lee selalu saja mengikuti langkah Vefe sambil berbincang. Laki-laki bermata sipit dan berkulit putih itu sangat tertarik dengan bela diri asli Indonesia. Ingin mempelajari langsung kepada ahlinya.
Khan menoyor kepala Lee Kim Oen saat adik tiri Vefe itu terus menerus bertanya, "Kamu ngapain mengikuti istriku terus?" tanya Khan.
"Istri Mas Khan ini kakak Lee, jangan jeolus," jawab Lee Kim Oen sambil menggandeng tangan Vefe.
__ADS_1
Dengan cepat Khan melepas tangan Lee Kim Oen, "Tidak usah meggandeng juga dong!"
"Dasar bucin ... cuma pegang tangan aja!"
"Eeeeh baru berapa bulan di Jakarta sudah bisa bahasa gaul?" tanya Vefe heran.
Lee Kim Oen tergelak mendengar pertanyaan Vefe. Sudah lebih satu bulan mempelajari bahasa gaul dan percakapan dikalangan anak muda terutama di kampus. Dulu mempelajari bahasa Indonesia selain dari Mommy Astrid, didapatkan dari sekolah bersama anak keturunan warga negara Indonesia.
"Gue sudah banyak bahasa gaul, Kak."
"Kalau di rumah tidak perlu memakai elo gue, lebih baik menggunakan adap ajaran orang tua kita agar lebih sopan!" saran Vefe.
"Baik Kakak Ve yang cantik," jawab Lee Kim Oen.
Kembali Khan menoyor dahi Lee Kim Oen sambil berdiri diantara Vefe dan Lee Kim Oen, "Memang istri Mas Khan yang paling cantik sedunia, maka itu dilarang pegang."
"Ya Allah ya Rob, Mas Khan. Bucin kok sampai level sepuluh sih, kalau gitu Mas Khan saja yang mengajari Lee bela diri."
"Lee mau belajar bela diri asli Indonesia?"
"Benar sekali, angkat Lee jadi muridmu Cik Gu!"
Khan berjalan memutari Lee Kim Oen yang sedang berdiri di samping Vefe. Memandang adik tirinya dengan seksama. Mulai dari kaki sampai kepala hanya biasa tanpa ada keistimewaan seperti laki-laki yang sering berlatih bela diri.
"Badan letoy begini, memang Lee sanggup berlatih dengan keras?" ledek Khan.
"Jangan salah, tangan Lee ini Tenaga Popay," jawab Lee Kim Oen dengan menggerakkan tangannya seperti bina raga.
Khan mengangguk sambil tersenyum devil. Diletakkan tangan kanan di dagu dan tangan kiri di perut, "Ok coba tunjukkan kekuatan tangan Popay itu dengan push-up dua puluh lima kali!"
__ADS_1
"What ... banyak kali, apakah tidak ada konpensasi?"
"Konpensasi gundulmu, lakukan cepat!"