Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 102. Satu Mur di Perebutkan oleh Dua Baut


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Kak Mur datang ke kantor Khan. Saat ini di kantor sedang berkumpul Khan, Asisten Satria, Wahono dan Aan. Mereka sengaja di undang untuk datang ke kantor.


Dengan alasan untuk memberikan sumbangan dana untuk membeli peralatan latihan tinju yang sudah rusak. Bercanda dan berbincang santai sambil menunggu bintang hari ini datang. Di temani kopi dan makanan ringan yang di beli dari kantin.


Berkali-kali Khan melihat pintu berharap yang di tunggu mendorong dan mengucapkan salam. Asisten Satria juga terlihat gelisah menunggu Kak Mur datang. Baru kali ini perawan tua itu di tunggu kedatangannya.


Tepat pukul sepuluh pagi pintu terbuka dan ada suara salam, "Assalamualaikum!" teriaknya.


"Walaikum salam," jawab mereka serempak.


"Waaah kelihatannya lagi seru nich, boleh bergabung?" Kak Mur langsung mendekati mereka.


Saat Kak Mur ingin duduk di samping Khan, tidak ada tempat lagi. Dengan terpaksa dia duduk di antara Aan dan Wahono. Khan dan Sasiten Satria tersenyum devil karena target sudah masuk perangkap.


Aan dan Wahono memandangi penampilan Kak Mur yang terlihat ramai. Blezer garis horizontal ditambah rok bunga-bunga yang besar. Bando polkadot dan sepatu high heels berwana kuning menyala.


"Bro ... perkenalkan dia namanya Kak Mur, " kata Asisten Andri memperkenalkan Kak Mur yang duduk diantara mereka.


"Hai Cantik, aku Aan," rayu Aan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Iiih jadi Malu, saya Kak Mur," jawab Kak Mur salah tingkah.


Wahono mengerutkan keningnya seperti sedang mengawasi anak buahnya yang sedang berlatih. Tatapan matanya tajam sampai ke ulu hati.


Saat Kak Mur mengulurkan tangan kepada Wahono, perawan tua itu terlihat semakin salah tingkah. Selera dan cara berpakaiannya sama di antara ke ketiganya. Wahono saat ini memakai kemeja polkadot dan celana levis.


"Namaku Wahono."


"Salam kenal, Bang. Namaku Mursida."


Mereka bertiga terjadi perbincangan seru sampai hampir setengah jam. Khan dan Asisten Satria seperti di anggap nyamuk. Ke tiganya klop dan cocok saat berbincang dan bercanda.


Khan menyenggol lengan Asisten Satria dan berbisik, "Kamu siapkan cek untuk Wahono sekarang!"


"Siap ... Tuan."


Asisten Satria keluar kantor menuju kantornya sendiri, Khan kembali duduk di kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Membiarkan mereka berdua mendekati Kak Mur, seolah satu mur di perebutkan oleh dua baut.


Sampai Asisten Satria kembali masuk kantor Khan. Mereka bertiga masih bercanda dan saling adu rayuan gombal. Terkadang Kak Mur tertawa terbahak-bahak karena ulah usil Aan dan Wahono.

__ADS_1


"Ini ceknya langsung dikasihkan mereka sekarang atau nanti, Tuan?" tanya Asisten Satria saat mereka sedang asyik bercanda.


"Tunggu saja dulu, kamu duduk di situ. Kita kerja saja!"


"Ok baiklah."


Hampir setengah jam berlalu Khan dan Asisten Satria bekerja satu meja. Terkadang hanya melirik mereka sambil bekerja. Perbincangan mereka berakhir setelah ada kepala HRD menghadap Khan.


"Aduuuh sampai lupa akan melakukan bisnis dengan Asisten Satria gara-gara asyik ngobrol dengan Abang berdua, sebentar ya, Bang**!" teriak kak Mur berdiri dan mendekati Asisten Satria.


"Aku juga sampai lupa berusuran dengan mereka," jawab Wahono.


HRD berurusan langsung dengan Khan. Wahono dan Aan menunggu Kak Mur sedang berbincang bisnis dengan Asisten Satria. Mereka sudah rutin bertemu jadi hanya dalam seluluh menit selesai.


Bersamaan HRD pamit keluar kantor. Asisten Satria memberikan cek kepada Wahono dan Aan. Kak Mur langsung berpamitan pulang. Diikuti oleh pemilik sasana inju juga ikut berpamitan pulang.


"Bro kita pulang dulu," kata Wahono sambil mengulurkan tangan.


"Terima kasih dananya, semoga di ganti oleh Yang Maha Kuasa berlipat ganda," doa Aan juga bersalaman bergantian dengan Asisten Satria dan Khan.


"Aamiin," jawag Khan.


"Mur ... Kita pulang bareng!" teriak Aan.


"Dibagi rata, Mur cuma satu jangan rebutan!" goda asisten Satria.


Mereka berdua tergelak. seperti barang saja harus di bagi rata. Ke duanya hanya menggelengkan kepala saja dan meninggalkan kantor menyusul Kak Mur.


"Yes ... Berhasil!" semangat Asisten Satria sambil mengepalkan tangan.


"Jangan senang dulu, belum ketahuan siapa yang di pilih oleh Kak Mur?" tanya Khan .


"Saya tidak perduli, Tuan. Yang penting wanita itu tidak sering datang ke sini, bisnis bisa kok sebetulnya tidak harus datang ke sini seminggu dua kali," jawab Asisten Satria.


"Menurutmu siapa yang lebih tertarik, Wahono atau Aan?" tanya Khan.


"Menurut saya, Kak murnya tertarik sama Wahono, tetapi Aan suka sama Kak Mur."


"Waduh ... Cinta segitiga dong!"

__ADS_1


"Biarkan saja mereka yang menentukan."


Sejak saat itu, Kak Mur jarang berkunjung di kantor Khan. Hanya satu minggu sekali dia datang. Wanita dewasa itu sering berkunjung ke sasana tinju daripada ke kantor.


Vefe yang semakin lega karena kak Mur jarang ke kantor. Bukan karena cemburu, lebih karena Khan sering uring-uringan jika Kak Mur datang. Perawan tua itu sering memaksakan kehendak saat memberikan sesuatu.


Besok jadwal Vefe memeriksakan kandungan. Bunda Fatia berangkat dari Manhatten malam hari. Tujuannya agar besok bisa menemani menantunya ke dokter kandungan.


Terkadang Vefe tidak habis fikir dengan kasih sayang yang di tunjukkan oleh ibu mertuanya. Jarak antara Manhatten Jakarta tidak dekat, harus ditempuh selama 8 jam. Hanya demi bisa menemani ke dokter beliau menyempatkan diri untuk datang.


Tidak hanya cinta Khan yang besar untuknya, ke dua mertuanya juga sangat menyayangi layaknya putrinya sendiri. Kebahagiaan yang sangat besar dirasakan Vefe saat ini. Selain perhatian Umi Maryam, Mpok Ria ada keluarga panti asuhan yang sangat berati untuk vefe.


Khan duduk di samping Vefe yang sedang termenung saat baru pulang kerja, "Hayo sedang mikir apa, samapi Mas datang Ve tidak tahu?"


"Mas Khan bikin kabet saja!"


"Mengapa melamun?"


"Ve memikirkan Bunda Fatia, nanti malam beliau akan berangkat ke sini hanya demi menemani kita besok ke dokter."


"Mengapa harus dipikirkan?"


"Rasannya Ve sangat beruntung punya Bunda yang sangat menyayangi Ve."


"Mas juga mencintai Ve, mengapa tidak di syukuri?"


"Itu beda dong, Mas."


"Apa bedanya coba?"


Vefe mencium bibir Khan hanya sekilas, "Ini bedanya, cinta Ve tanpa batas. Cinta Bunda sepanjang masa."


Khan tersenyum membalas ciuman Vefe penuh cinta, "Cinta Mas sedalam jiwa dan raga."


"Hhmm ...!"


Vefe mendorong badan Khan dengan keras. Ada Pak Gun dan Mpok Ria di dapur sedang masak, "Mas ... malu ah, ciuman di sini di lihat mereka," bisik Vefe.


Khan tergelak sambil mengusap bibir Vefe, "Mas mau mandi dulu."

__ADS_1


"Oya Mas ... apakah boleh Ve malam ini menginap di panti asuhan, Ve kangen sama adik-adik?"


"Mas tidur di mana dong?"


__ADS_2