
Nina menggelengkan kepala berkali-kali sambil memandang Kak Mursida lekat-lekat. Ibu satu anak itu terlihat tidak merasa bersalah telah jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri. Masih ada rasa cinta yang terpancar dari sorot matanya.
Hati memang tidak bisa menolak jika jatuh cinta. Karena setiap insan berhak mencintai dan dicintai. Namun, juga harus menjunjung tinggi adab dan etika cinta.
Cinta akan semakin menambah semangat dalam kehidupan. Mencintai dan dicintai dari insan yang saling jatuh cinta. Bukan berasal dari cinta yang sudah berlabuh di hati yang sudah terpaut.
Hanya sayangnya, Kak Mursidah tidak memahami apa artinya jatuh cinta. Teringat saat dulu Kak Mursida menikah dengan Almarhum Aan. Awalnya mencintai orang lain dan tidak ada rasa cinta yang tumbuh untuk calon suami.
"Sekarang terserah Kak Mur, Nina hanya bisa memberikan saran sebagai sahabat, lebih baik Kak Mur pikir ulang sebelum bertindak lebih jauh."
"Iya Mbak Nina, terima kasih."
Tanpa di sangka dan tanpa diketahui oleh Kak Mursida dan Nina. Ada Asisten Satria yang sedang merekam bahkan siaran langsung dan terhubung dengan Khan dan Vefe. Bukan cuma Vefe yang emosi. Khan juga hampir membanting ponsel miliknya sendiri karena kesal.
Setelah dimatikan ponselnya, Vefe langsung berganti baju dan berdandan cantik sambil terus mulut komat-kamit. Masih kesal dengan semua yang diucapkan Kak Mursida. Tidak memperdulikan Khan yang memandang dengan tersenyum.
"Mami mau ngapain berdandan cantik begitu, Papi sudah tahu kok kalau Mami itu cantiknya paripurna?"
"Mami mau shopping, baju Mami sudah kuno semua. Mami tidak mau seperti penampilan pasangan baut itu!"
Khan langsung menyambar dompet yang tergekletak di atas meja, "Mami mau kartu yang mana, yang hitam atau kartu kredit?"
Vefe mengerucutkan bibirnya sambil terus berdandan, "Mami punya kertu sendiri, cepat sana Papi juga ganti baju!"
"Mau berdua saja atau mengajak Pak Gun dan putra kita?"
Vefe melirik baby Aaron yang sudah tertidur mulas. Setelah capek bermain dan makan, biasanya baby Aaron akan tidur sampai dua atau tiga jam lamanya. Lebih baik di tinggal daripada nanti rewel karena mengantuk.
"Aaron lagi tidur, biar aja dia di rumah. Nanti malah dia menangis."
"Ok kita pacaran, nanti kita pamer di media sosial, biar pasangan baut itu lebih marah dan kebakaran jenggot!"
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menuju mall yang sangat terkenal di Sulawesi. Vefe berjalan santai di mall yang terkenal di kota sambil menggandeng tangan Khan dengan mesra. Menuju deretan baju bermerk yang harganya selangit.
__ADS_1
Yang dulu lebih suka warna kalem dan soft, baju sederhana tetapi elegan. Saat ini yang didatangi Vefe baju yang berwarna pink dengan model gerlly dan cantik. Memilih baju dengan model yang berbeda lebih dari sepuluh stel.
Setiap memilih langsung diberikan kepada Khan, "Ini cantik banget pegang ya, Pi!"
"Iya." Khan hanya mengikuti Vefe dari belakang menerima semua baju yang dipilih oleh Vefe.
Sudah mendapat baju yang diinginkan. Vefe kembali menuju aksesoris wanita yang sebagian besar berwarna pink. Senyumnya langsung mengembang melihat banyak sekali pernak-pernik kebutuhan wanita yang terlihat cantik.
"Papi cepat sini, ini yang bagus yang mana?" Vefe menunjuk bando warna pink dengan berbagai model dan ukuran.
"Semua cantik, Mami. Kalau Mami mau boleh ambil semua pada setiap modelnya," jawab Khan asal.
"Iiiih Papi ini tidak asyik. Mami maunya satu saja."
Vefe mengambil satu bando dengan ukuran sedang dan ada bulan sabit di tengah bando. Berjalan mendekati ikat pinggang dan mengambil satu dengan warna pink juga, "Pegang ya, Pi. Jangan di pakai!"
Khan hanya nyengir kuda mendengar ucapan Vefe. Dari dulu sama sekali tidak menyukai warna pink. Bahkan makanan yang berwana pink juga tidak suka karena sebagian besar pasti rasanya manis.
Keluar dari area aksesoris, Vefe berjalan menuju deretan pakaian laki-laki. Berputar-putar mencari sesuatu yang unik dan menarik. Khan tetap mengikuti Vefe tanpa banyak bertanya.
"Ya untuk Papi lah, nanti kita pakai baju couple."
"Apakah Papi harus pakai baju warna pink?"
"Iya dong, Papi. Namanya juga couple, pasti akan terlihat lebih tampan kalau pakai baju pink."
"Ha ...?"
Khan tidak berani protes saat Vefe beberapa kali menempelkan kemeja pink itu di badan. Melihat saja rasanya sangat aneh, apalagi harus memakainya. Namun, tidak sepatah katapun keluar penolakan dari bibir Khan.
Menganggap semua keinginan Vefe adalah keinginan bayi yang ada dalam kandungan. Tetap diam saja saat Vefe sudah memilih tiga kemeja berwarna pink. Yang dua lengan panjang dan yang satu lagi berlengan pendek.
"Ini pegang, Pi. Nanti Mami pilihkan dasi yang sesuai dengan kemeja ini!"
__ADS_1
Khan membelalakkan matanya karena kaget. Kemeja pink saja rasanya sangat aneh apalagi ditambah dengan dasi yang juga berwarna pink. Membayangkan memakai saja sudah aneh apalagi harus memakai dasi warna pink juga.
Vefe berlari ke deretan dasi yang berjejer rapi. Sampai berjingkrak melihat deretan dasi yang bercorak pink. Walau sebagian besar warna pink ada perpaduan corak yang lain.
Saat Vefe mengambil dasi berwarna pink polos, Khan sampai merinding melihatnya. Apalagi Vefe mengambil dasi pink dengan corak bunga yang terlihat lucu. Khan hanya bisa mengambil napas dalam-dalam.
"Papi pilih yang mana, yang polos atau yang ada bunga-bunganya ini?"
"Mami suka yang mana?"
"Dua-duanya lucu sih, Mami suka semua."
"Terserah Mami saja."
"Mami ambil dua-duanya deh, ini pegang lagi."
Vefe berjalan menuju arah deretan jas. Melihat dan berputar sampai beberapa kali. Namun, tidak ada yang berwarna pink. Khan tersenyum sambil mengangguk senang semoga tidak ada jas yang berwarna pink.
"Papi, mengapa jasnya tidak ada jas yang berwarna pink?" tanya Vefe dengan suara manja.
"Tidak usah beli dong, Mami Sayang. Ke sana saja itu tasnya bagus-bagus, Mami mau beli tas baru tidak?" Khan mengalihkan perhatian agar tidak membelikan jas yang berwarna pink.
"Iya sudah, nanti kita couple juga ya tasnya?"
"Waduh, tidak mungkin ada lah, Mami. Tas laki-laki berwarna pink!"
"Usaha dulu dong, Papi!"
"Iya sana sudah cari!"
Vefe berjalan menuju arah bagian tas yang bermerk. Dari harga murah sampai harga termahal semua tersedia. Vefe masih terus memutari tas-tas yang dipajang rapi.
Hampir dua jam Vefe sopping mencari semua yang berwarna pink. Kaki Khan mulai pegal terus mengikuti Vefe berkeliling, "Tidak ada yang Mami suka tas sebanyak ini?" tanya Khan.
__ADS_1
"Mami mau mencari tas untuk Papi dulu!"
"Waduh, Papi juga harus beli tas yang berwarna pink?"