
Asisten Satria saat ini sedang duduk di dasbort mobil milik Khan yang ada di depan panti asuhan. Dia memilih tidak memberitahukan kepada Bunda Fatia tentang Vefe. Memilih mencari aman agar tuannya itu tidak marah lagi karena berpesan untuk merahasiakan tentang Vefe.
Sedangkan yang didalam ruang makan, Khan saat ini sedang minum air putih menghilangkan rasa asin di mulutnya. Baru tahu rasanaya ikan asin sekarang ini. Khan sama sekali tidak menyukai makanan yang asin seperti Bunda Fatia.
"Mas ... Bukan begitu cara makan ikan asin, caranya seperti ini!"
Vefe memotong kecil-kecil ikan asin menggunakan sendok. Di taburkan ikan asin itu diatas nasi dan sayur asem. Ditambah sambal terasi yang ada di depan Khan,
Dia langsung menyendok satu nasi yang sudah tercapur sayur dan ikan asin. Disuapkan satu sendok ke dalam mulut Khan, "Begini cara makannya coba sekarang Mas rasain, pasti enak!"
Khan Langsung membuka mulutnya dan mengunyah satu sendok nasi dan sedikit ikan asin. Rasanya tetap saja asin. Karena makan dari tangan Vefe dia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana enak?" tanya Vefe.
Khan mengangguk dan tersenyum. Dia memilih menjawab dalam hati. Rasanya enak karena di suapi tetapi ikan asin tetap saja rasanya asin.
"Mau coba sekali lagi?" tanya Vefe sekali lagi menyuapkan nasi plus sayur asem dan ikan asin.
Khan kembali membuka mulut dan tersenyum. Vefe baru menyadari telah menyuapi Khan dua kali. Dia meletakkan sendok di depan Khan dan tersipu malu.
__ADS_1
"Mengapa Ve jadi nyuapi Mas Khan?"
Khan tergelak setelah mengunyah dan menelan suapan kedua dari tangan Vefe. "Rasanya enak banget karena langsung dari tangan Vefe, apalagi satu piring." Khan langsung menggoda Vefe karena melihat wajahnya yang memerah seperti tomat.
"Mas sudah besar, seperti si Ai saja minta disuapin." Vefe ikut menaggapi dengan bercanda untuk menguragi kegugupannya.
Kembali Khan tergelak sambil memandangi wajah Vefe yang tersenyum. Melanajutkan makannya sambil berpikir bagaimana cara mengurangi rasa asin saat mengunyah ikan asin? Dia melihat sambal terasi yang masih banyak di depannya.
"Apakah Mas boleh tambah sambal terasinya?"
"Silahkan Mas, ikan asin juga boleh tambah, itu di dapur masih banyak."
"Mas suka makan pedas, tambah sambalnya saja. Terima kasih."
"Terima kasih, Mas sudah kenyang sekarang."
"Sama-sama."
Vefe langsung mengambil piring kotor yang ada di depan Khan. Dibawa ke wastafel cucian piring. Mencucinya bersama piring kotor miliknya dan gelas air minum.
__ADS_1
Khan berdiri mengikuti Vefe berjalan kearah wastafel, "Mas duduk saja Vefe mau cuci piring sebentar!"
"Mas mau cucu tangan."
"Ooo silahkan Mas!"
Khan berdiri disamping Vefe. Sengaja tubuhnya berdiri berejajar. Dan lengannya hampir bersentuhan karena wastafel yang sempit. Dia mencuci tangan, Vefe yang membuka dan menutup kran.
Khan berpamitan pulang setelah berbincang di teras sebentar. Berpamitan setelah melirik mobil miliknya ada sosok laki-laki yang dikenalnya duduk di dashbord mobil miliknya.
Khan bergegas meninggalkan panti asuhan setelah Vefe masuk dan menutup pintu. Mendekati Asisten Satria yang sedang duduk dan konsentrasi melihat ponsel tanpa melihat sekelilingnya.
"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Khan dengan jutek.
"Menunggu Anda, Tuan." Asisten Satria langsung turun dan berdiri menghadap Khan.
"Mengapa menyusul ke sini, apakah kamu sudah melaksanakan tugas yang aku berikan?"
"Menghubungi Nyanya Bunda sudah, tetapi tentang orang tua Nona Eno belum."
__ADS_1
"Pergi sana jangan menemuai aku sebelum tugasmu selesai!"
"Maaf .. Tuan. Anda harus pulang sekarang, di rumah Anda sudah di tunggu oleh Nyonya Bunda!"