Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 204. SP3


__ADS_3

Vefe keluar dari kamar mandi melihat Khan cemberut dan wajahnya di tekuk. Bisa menebak jika dia sudah melihat pembalut yang sengaja diletakkan di atas meja rias. Tanpa harus mengatakan pasti dia akan tahu jika saat ini tidak boleh modus apalagi mengajak beraksi.


Tidak harus memberikan hukuman atau harus membayar atas kecurangan yang dilakukan. Alam raya juga mendukung jika keduanya tidak harus saling menghukum. Hanya karena ada tamu bulanan yang datang semua rencana gagal total.


Vefe tersenyum dan duduk di samping Khan sambil mengusap pipinya, "Jangan cemberut dong, Papi. Nanti hilang lo gantengnya!"


"Papi lagi kesel," jawabnya sambil mengerucutkan bibir.


"Kesel sama siapa sih, Pi?"


"Sama tamu bulanan Mami."


Vefe tergelak sambil kembali mengusap pipi Khan, "Mami tidak mengundang tamu itu, dia datang sendiri."


"Tamu datang tidak konfirmasi dulu sih, coba Mami bilangin kalau datang beri kode atau kabar dulu jadi Papi bisa siap-siap."


Vefe kembali tergelak mendengar perkataan Khan. Menstuasi yang datang setiap bulan selalu saja membuat Khan kesal. Setiap bulan selalu saja membuat drama jika datang.


"Tamu Mami itu sudah rutin setiap bulannya, Papi. Tidak perlu konfir seharusnya Papi tahu dong."


"Coba tamu Mami itu karyawan Papi, pasti sudah Papi berikan SP3."


"Pelanggaran dong, Papi berani memberikan SP3. Nanti dia datang tidak cuma satu minggu tetapi satu bulan."

__ADS_1


"Waduh ... jangan dong, Mami!"


"Bercanda, Papi. Oya berapa lama perjalanan dari sini ke rumah Mommy?"


"Kalau ditempuh jalan darat antara Manhattan ke San Fransisco sekitar satu setengah hari, Mami."


"Lama juga ya, Kita akan menggunakan jalan darat, Pi?"


"Rencana awal sih begitu, Mi. Kayaknya kita pakai pesawat saja karena Papi tidak tega sama Aaron."


Vefe mengangguk setuju, di samping kasihan ini perjalanan pertama untuk putranya. Tidak akan tega mengajak kakeknya melakukan perjalanan darat, "Apakah Ayah Jose tidak ada kegiatan bisnis lagi?"


"Papi belum tahu juga, nanti Papi tanyakan dulu."


Keesokan harinya seluruh keluarga melanjutkan perjalanan menuju San Fransisco. Termasuk Bunda Fatia, Ayah Jose dan Freya ikut serta. Perjalan menggunakan pesawat hanya di tempuh satu jam perjalanan.


Sampai di Bandara Internasional San Fransisco, mereka menggunakan jalan darat hanya sekitar dua jam saja. Tepat pukul sepuluh pagi seluruh keluarga tiba di rumah Mommy Astrid. Rumah berada di komplek perumahan elit di tengah kota.


Yang pertama kali turun dari mobil taksi adalah Vefe. Bersamaan Daddy Kim Oen keluar rumah akan berangkat ke kantor. DIikuti oleh Mommy Astrid mengantar suaminya sampai depan pintu.


Vefe langsung berlari berteriak merentangkan tangannya, "Mom ... Dad ... Ve datang!"


"Nak Ve ...!" teriak Daddy Kim Oen.

__ADS_1


Kedua orang tua Vefe tersentak kaget hampir tidak percaya. Mommy Astrid langsung memeluk Vefe dengan erat, "Nak ... Mom seperti sedang mimpi!"


"Ini Ve, Mom. Apa kabarnya?" tanya Vefe sambil meraih dan mencium punggung tangan Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen bergantian.


"Kami baik, Nak Ve ke sini sendirian?" tanya Daddy Kim Oen.


"Tidak dong, Dad. Ada seluruh keluarga ikut ke sini, itu ada tiga taksi."


Yang turun dari taksi setelah Vefe adalah Kakek Raharjanto. Berdiri terpaku melihat interaksi Vefe dengan kedua orang tuanya. Kaki seolah berat untuk melangkah teringat dulu sering menolak untuk bertemu dengan ibu dari cucunya.


"Ayah ... apakah benar itu Ayah?" tanya Mommy Astrid kaget.


"Iya Mom, Ve ke sini bersama Kakek dan seluruh keluarga."


Satu persatu keluarga turun dari taksi. Mereka berdiri di samping dan belakang Kakek Raharjanto. Wajah mereka berseri-seri dan tersenyum tanpa ada rasa dendam ataupun marah.


"Ayo dong Mom, temui Kakek!" ajak Vefe.


Mommy Astrid mengambil napas panjang mendengar ajakan Vefe. Lebih dari dua puluh tahun memendam perasaan bersalah terhadap mantan calon mertua. Rasanya hampir tidak percaya sekarang orangnya ada di depan mata.


"Ayo dong, Mom!" ajak Vefe lagi.


"Come on, Darling!" ajak Daddy Kim Oen.

__ADS_1


"Mom masih takut."


__ADS_2