
Asisten Satria meminta bantuan Wahono dan Aan untuk menyeret Doni Prawira. Laki-laki casanova itu sedang merayu seorang wanita yang ada di restoran saat sedang makan siang. Dengan bertanya-tanya Dia di seret tanpa tahu apa salahnya.
"Bro, ada apa ini?" tanya Doni Prawira kepada Asisten Satria yang mengikuti Wahono dan Aan yang berjalan mengapit Doni Prawira.
"Maafkan saya, Tuan. Hanya teman Anda yang akan menjelaskan nanti."
"Khan ... maksudntya?"
"Sebaiknya Anda ikut saja dan jangan membantah."
"Apa salahku Satria?"
"Nanti Anda akan mengetahuinya, jangan sampai Cak Wah dan Bang Aan membawa Anda secara paksa."
"Brengsek ... Awas kamu Khan Ya!"
Asisten Satria hanya tersenyum devil mendengar umpatan Doni Prawira. Laki-laki itu tidak pernah bisa menang jika bertarung dengan Khan. Hanya mulutnya saja yang besar tetapi kemampuannya kecil.
Dengan terpaksa Dono Prawira pasrah digelandang dua laki-laki kekar yang mengapitnya kanan dan kiri. Tidak mungkin bisa mengalahkan petinju yang memaksanya terus berjalan. Dia hanya bisa menebak pasti ada yang tidak beres sampai Khan memaksa menjemput.
Sampai di rumah sakit, Doni Prawira langsung dibawa di taman belakang ruang bersalin. Asisten Satria hanya mengirim pesan WA kepada Khan. Jika target sudah sampai taman rumah sakit.
Khan hanya berpamitan kepada Vefe dan Bunda Fatia yang ada di kamar rawat inap VVIP. Izin akan bertemu dengan Dokter Dino yang ada di kantornya. Tidak bercerita jika akan bertemu dengan Doni Prawira.
__ADS_1
Khan dan Dokter Dino bergegas berjalan menuju taman. Sengaja Dokter Dino memerintahkan tiga security untuk menjaga taman. Dilarang ada yang mendekati taman untuk sementara.
Tidak menungu lagi setelah Khan melihat Doni Prawira berdiri masih diapait oleh Wahono dan Aan. Tangannya sudah gatal ingin menghajarnya sepuas hati. Sudah hampir setengah hari menahan emosi karena ulah dan perbuatannya.
"Ini untuk teman yang tidak bertanggung jawab ... Buuug!" Khan berkali-kali meninju perut Doni Prawaira.
"Aaaargh ... Bro apa salahku?" tanya Doni Prawira masih tidak tahu apa-apa.
"Huug ... Plak, ini untuk bayi perempuan yang lahir tanpa ayah."
Doni Prawira tidak bisa membalas sama sekali. Kedua tangannya dipegang oleh Wahono dan Aan. Dia hanya tersentak kaget karena Khan menyebutkan bayi yang lahir tanpa ayah.
"Tunggu dulu, Khan. Bayi perempuan siapa?"
Khan sama sekali tidak menjawab setiap pertanyaan Doni Prawira. Dia terus memukuli si casanova itu sampai hatinya puas. Wajah dan badan" Doni Prawira sampai babak belur dan lebam, namun Khan belum juga menghentikan aksinya.
Bibir Doni Prawira mengeluarkan darah sekar setelah berkali-kali terkena bogem mentah dari tangan Khan. Bahkan tangan Khan mulai kebas karena terus bertubi-tubi memukul dan menendang orang yang membuatnya tercemar nama baiknya.
"Brengsek lo, apa salah gue?" pertanyaan dan teriakan Doni Prawira semakin meninggi badan sudah remuk redam karena dihajar olehnya.
"Kamu mau tahu mengapa aku melakukan ini, ayo ikut!" Khan menarik tangan Doni Prawira dengan kasar.
"Yaa!"
__ADS_1
Asisten Satria, Dokter Dino, Wahono dan Aan hanya kengikuti dari belakang. Tidak ada yang berani ikut campur saat Khan sedang marah. Bahkan para pengunjung rumah kasit hanya melihat saja saat mereka lewat.
Untung ruang inkubator hanya berjarak dua meter dari taman. Tanpa memperdulikan perawat yang bertugas. Khan membuka pintu dan menarik paksa Doni Prawira sampai mendekati bayi yang lahir prematur yang terbaring lemah dan terpejam.
"Lihat bayi itu, apa salah dia, seharusnya dia mendapatkan kasih sayang dari ayahnya!"
"Bayi siapa itu, Khan. Aku tidak tahu?" tanya Doni Prawira sambil mengusap darah yang mengalir di bibirnya.
"Kamu ingin tahu?"
"Ya katakan sekarang?"
"Ayo ikut ke ruang rawat inap sekarang!"
Kembali Khan menarik Doni Prawira menuju ruang rawat inap VVIP. Sambil berjalan Khan tetap saja berbicara dengan emosi, "Gara-gara perbuatan kamu aku harus menanggung malu, kamu tahu bayi itu didaftarkan dengan nama Alhakhan Jose Pornomo sebagai ayahnya, brengsek kamu!"
Khan langsung mendorong pintu dan membuka dengan kasar, Doni Prawira sampai mendekati Sania Parwati yang masih terbaring, "Itu ibu dari bayi tadi!"
"Nia ...?"
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir ya shobat Anna, di novel teman yang rekomen ini, ceritanya seru lo, dinovel toon juga.
__ADS_1