
Khan memandang Daniel dengan lekat. Tidak memahami situasi dan tidak mengenalnya. Baru pertama bertemu pemuda itu sudah bisa membaca isi hatinya.
"Apa maksudmu, Bro?" tanya Khan juga ikut sok akrab.
"Gue tahu dan bisa membaca isi hati Mas Khan. Kita ini sama laki-laki."
"Maksud Daniel adik angkat apa?" bisik Khan juga.
"Gue sudah menganggap Ve adik sendiri, kami sudah berlatih bersama sejak SMP."
"Daniel masih sekolah?"
"Gue kuliah semester lima, sambil bekerja menjadi ojak online."
"Kuliah jurusan apa?"
"Tehnik mesin."
Khan tersenyum mendengar perbincangan dengan Daniel sambil berbisik. Bisa menjadikan dia referensi untuk mengetahui lebih lagi tentang pribadi Vefe. Jika antar laki-laki akan lebih mudah untuk berbicara dari hati ke hati.
Khan ingin bertanya sesuatu kepada Danial, tetapi diurungkan. Ada Vefe datang dari dalam kamar dan duduk di samping Gi. Daniel langsung bergabung dengan Erina yang sedang menikmati pizza bersama Umi Maryam dan Mpok Ria.
"Mas tidak ikut makan pizza?" tanya Vefe.
"Mas kekenyangan karena makan sayur sop dan tahu goreng."
Vefe tergelak sambil mencuri pandang saat dia tersenyum. Jarang sekali melihat laki-laki dewasa yang ada di sampingnya tersenyum simpul. Sangat menyejukkan hati saat bisa melihatnya tersenyum.
Khan merogoh kantong jaketnya. Ada sovener khas dari Amerika yang di minta dari adiknya Elya. Gantungan kunci patung Libarty yang terbuat emas murni 24 karat.
Khan tidak becerita dengan detail pada adiknya tentang Vefe. Khan hanya mengisyaratkan tentang gadis yang dikenalnya. Seorang gadis yang membuat dia tidak trauma.
Elya sangat bahagia saat Khan bercerita sekilas. Meminta untuk merahasiakan kepada ayah dan bunda. Agar Khan bisa mendekatinya perlahan.
Elya langsung mengizinkan Khan membawa gantungan kunci kesayangannya. Untuk diberikan kepada gadis spesial kakaknya. Padahal dia belum sempat bertemu, tetapi sudah yakin untuk menyerahkan barang miliknya yang berharga.
__ADS_1
"Ini oleh-oleh spesial dari Elya adiknya Mas, terimalah!"
"Mas, apakah ini emas asli?" tanya Vefe.
"Iya itu edisi terbatas khusus dari adiknya Mas Khan."
"Berarti Mas bukan ke luar kota, tetapi ke Manhatten?"
Khan tersenyum dan mengangguk. Awalnya tidak ingin menceritakan perjalanan pulang ke kampung halaman ayahnya. Karena membawa oleh-oleh Khas asli patung libarty. Pasti dengan mudah Vefe menebaknya.
"Khan harus bertemu dengan ke dua orang tua yang di sana karena urusan bisnis."
"Ooo ..mengapa Adik Mas bisa memberikan ini untuk Ve?"
"Nanti tanya sendiri kalau sudah bertemu dengan dia, katanya dia suatu saat nanti akan bercerita tentang gantungan emas itu langsung sama Vefe."
"Baiklah salam buat adiknya Mas Khan, akan Ve tunggu!"
Pukul sepuluh malam Khan pulang sambil mengantar Erina dan Daniel, motor Daniel di tinggal di panti. Sekalian ingin mengetahui tempat Vefe bekerja setiap hari yaitu rumah Erina. Ingin sekali mengetahui kehidupan Vefe saat masih sekolah.
Vefe gadis yang banyak di bully oleh teman sekolahnya. Gadis yatim piatu yang di buang oleh orang tua. Gadis yang sering diejek oleh teman sebaya dengan ssebutan anak buangan.
Karena hinaan itulah Vefe bergabung di perguruan silat. Tubuh dan jiwanya tertempa sedikit demi sedikit. Menjadi gadis yanmg kuat dan mumpuni baik fisik maupun mental.
Vefe bisa membuktikan dengan berbagai prestasi yang diraih setelah duduk di tahun terakhir SMP. Lulus dengan prestasi yang tinggi dan disegani teman ataupun lawan.
Bisa diterima di SMA Favorit juga karena persati bela diri, Vefe semakin menunjukkan kemampuanya dalam bidang bela diri dan akademik di awal SMA. Semakin hari Vefe semakin di perhitungkan di perguruan.
Daniel bercerita Vefe adalah gadis yang lembut hatinya. Pendiriannya sangat kuat, pantang menyerah. Hanya satu yang membuat Vefe rendah diri yaitu tentang lawan jenis.
Terakhir Daniel bercerita Vefe pernah sekali dia jatuh cinta dengan idola sekolah. Dia di hina karena anak panti dan tidak memiliki masa depan. Sejak saat itu, Vefe tidak pernah lagi menyukai teman sekolahnya sampai sekarang.
"Apakah kamu pernah menyukai vefe juga?" tanya Khan terus terang.
Daniel tergelak dan mengangguk, berterus terang pernah menyukai gadis mandiri itu, "Pernah sih, Mas."
__ADS_1
"Apakah di terima oleh ve?'
"Sama sekali tidak, Mas. Di samping gue ini bukan tipenya. Ve hanya menganggap gue sebagai kakanya saja."
"Mengapa sekarang jadian sama teman Ve?'
"Kalau itu ceritanya beda, Mas. Awalnya Erin yang suka sama gue, tetapi gue tidak suka. Setelah tiga bulan belakangan ini gue menjadi kurir dagangannya, gue mulai suka sama dia, orangnya asyik dan ceria."
"Ok terima kasih ceritanya. Sebagai tanda terima kasih, nanti aku rekomendasikan kamu bisa magang di PT KURMNIA. Syukur-syukur bisa bekerja di sana setelah lulus."
"Wah terima kasih, Mas. Mau banget. Mas kenal CEO perusahaan besar itu?"
"Daniel tahu siapa nama CEO perusahaan PT KURNIA?'
"Tahu dong, Mas. Namanya Alhakhan ...?" Daniel langsung menutup mulutnya saat menyadari orang yang ada di sampingnya.
"Ya Allah saat ini gue diantar pulang seorang CEO besar, Ve tahu siapa Mas?"
Khan hanya mengangguk sambil tersenyum. Tanpa menjawab Daniel bisa mengenali wajahnya. Terkadang Di media sosial dan televisi muncul wajahnya sebagai pengusaha muda yang sukses.
"Semoga Ve bahagia dan tolong lindungi dia dalam artian kehidupan pribadinya, ya Mas!"
"Insya Allah, Aamiin."
Sedangkan di kamar Vefe sedang termenung sambil melihat gantungan kunci berbentuk patung Liberty. Yang vefe rasakan saat ini bukan peraaan atau hatinya. Yang dia pikirkan adalah mrngapa adiknya Mas Khan memberikan barang berharga.
Vefe hanya memutar gantungan kecil itu sambil teringat edisi terbatas. Dia masih belum mengerti tentang oleh-oleh yang diberikan adiknya Khan. Akhirnya hanya meletakkan oleh-oleh berharga itu bersama dengan selimut kecil yang dia pakai saat di buang orang tuanya.
Netra Vefe selalu merembes saat memandangi selimut yang selalu dia simpan di box kecil berkunci. Hanya itu kenang-kenangan dari orang tuanya. Menganggapnya barang berharga yang selalu di simpan.
Air mata Vefe semakin menetes setelah gantungan kunci emas edisi terbatas itu di sandingkan dengan selimut. Seoalah Vefe melihat dua sisi mata uang saat memandangi benda yang ada di kotak box.
Selimut itu saksi bisu jika orang tuanya tidak ingin mengenal dirinya sama sekali padahal darah daging sendiri. Sedangkan gantungan kunci yang sangat berharga diberikan dari orang yang belum dikenalnya sama sekali.
"Ayah ... Ibu ... Ve sangat merindukan kalian, di mana kalian sekarang ini?" monolog Vefe terus meneteskan air mata.
__ADS_1
"Mbak Elya, apa maksud Anda memberikan benda berharga ini pada Ve, sedang orang yang sangat Ve inginkan tidak tau di mana?"