Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 240. Program


__ADS_3

Dengan segala rayuan dan bujukan Khan, akhirnya Vefe setuju melepas alat kontrasepsi untuk program menambah momongan. Khan ingin sekali memiliki momongan lagi yaitu bayi perempuan. Ingin ada suara gadis kecil yang ceria menghiasi rumah.


"Jadi sepakat ya, jangan di cegah lagi. Papi ingin anak cewek yang cantik dan baiknya seperti Mami."


"Kalau nanti Yang lahir laki-laki bagaimana, Pi?"


"Ya buat lagi sampai ada lahir cewek."


"Waduuuh lama-lama brindil kayak anak kelinci dong."


"Tidak apa-apa, Papi malah suka. Nanti Papi buat tim basket atau voly juga bisa."


Hampir satu minggu Khan dan Vefe berada di Manhatten. Setelah saudara Ayah Josse sehat kembali. Khan dan Vefe bersama baby Aaron pulang ke Jakarta. Bunda Fatia tetap tinggal di Manhatten untuk membantu bisnis Ayah Josse.


Sampai di Jakarta bersamaan mendapatkan kabar jika Toni Prawira di vonis hukuman delapan belas tahun penjara. Harus mengembalikan dana milik perusahaan yang sudah dipakai. Mengabulkan tuntutan Eno mencemarkan nama baik.


Hanya tidak mengabulkan tuntutan Eno yang meminta ganti rugi yang selangit. Hanya bisa pasrah setelah pengadilan menambah hukuman dua tahun penjara untuk pencemaran nama baik.


Sedangkan pasangan Toni Prawira atau asisten Eno yang ikut lari dengan Toni Prawira yaitu Mayasari. Diganjar tiga tahun penjara karena terbukti membantu Toni Prawira melarikan diri. Membatu mengambil dan memindahkan dana arisan ibu-ibu sosialita.


Vefe pagi ini mengunjungi rumah Erina bersama baby Aaron dengan menggunakan mobil sendiri. Umur kehamilan Erina sudah memasuki bulan terakhir. Tinggal menunggu hari untuk melahirkan.


"Bagaimana dengan bayinya, Erin?"


"Ini dia selalu aktif dan menendang dari dalam."


"Semoga sehat selalu ya dik," doa Vefe sambil mengusap perut Erina.


"Aamiin."


"Ve jadi lepas alat kontrasepsi sekarang?"


"Iya ... dari dua bulan yang lalu sudah tidak suntik lagi sekarang."


Erina tersenyum sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit. Membayangkan hamil pertama rasanya sudah pegah. Membayangkan jika hamil kedua akan semakin berat menjalani.


"Apakah Ve sudah siap?"


"Ya siap tidak siap, Rin."

__ADS_1


Vefe teringat kemarin Khan selalu meminta ingin menambah momongan. Hanya sayangnya sejak dari Manhatten kemarin tidak ada tanda-tanda akan ada muncul benih tertanam di rahim. Walau sebenarnya dalam hati belum siap betul.


Sedang asyik berbincang sambil bercanda dengan baby Aaron. Tiba-tiba Erina meringis sakit perut, "Ve ... aduh perut Erin sakit banget!"


"Eeee apakah sudah waktunya dekbay mau keluar?"


"Entahlah ... tetapi sakit banget ini."


"Ayo kita ke rumah sakit saja!"


Vefe menggendong baby Aaron dan didudukkan disamping kemudi. Membantu Erina naik mobil dengan segera, "Ve apakah tidak membawa tas untuk keperluan dekbay?"


"Oya ... di mana di simpan tas itu?"


"Ada di simpan di belakang pintu kamar."


Vefe berlari mengambil tas keperluan bayi. Hanya sayangnya saat Vefe berlari, baby Aaron menangis takut di tinggal oleh maminya, "Mami cuma mau mengambil tas, Nak. Sabar ya!" teriak Vefe.


Baby Aaron terus menangis, Erina semakin meringis dan ikut bingung, "Iya Nak ... Mami datang!" teriak Vefe mendekati mobil dan membuka pintu.


"Kita jalan sekarang, Aaron pintar ya, jangan nangis, Nak!"


"Erin ... apakah bisa menghubungi Bang Daniel sekarang?" tanya Vefe.


"Oya ya ... mana ponselnya?"


Erina naik mobil tanpa membawa tas ataupun dompet. Karena panik dompet, ponsel dan tas serta identitas lupa tidak dibawanya.


"Aduuuh ketinggalan semua, Ve. Bagaimana ini?"


"Sabar dulu, di ponsel Ve ada nomor Bang Daniel. Jangan panik!"


Karena sambil menyetir, Vefe tidak berani membuka ponsel karena konsentrasi pada jalanan yang padat merayap, "Rin ... bisa ambil ponsel yang ada di tas?"


"Iya baiklah ...."


Antara Vefe dan Erina ada baby Aaron di tengah. Dengan susah payah Erina akhirnya ponsel bisa di raih. Hanya sayangnya dengan terpaksa mobil tiba-tiba mengerem mendadak. Ponsel terjatuh di bawah kursi tempat duduk Erina.


"Yaaaah Ve, jatuh ponselnya!"

__ADS_1


"Biarkan saja, Rin. Kita ke rumah sakit dulu saja."


Dengan terpaksa Vefe melajukan mobilnya dengan cepat. Tanpa memperdulikan suara ponsel yang berkali-kali berdering. Antara panik karena melihat Erina yang terus merasakan sakit dan panik karena suara ponsel.


Jarak antara rumah Erina dan rumah sakit sebenarnya tidak terlalu jauh. Karena panik dan bingung seolah jalanan tiada ujung. Perjalanan seolah sangat lama dan melelahkan.


Kurang dari satu jam mobil Vefe sampai di depan UGD. Setelah kursi roda membawa Erina masuk UDD dan ditangani oleh Dokter. Sambil menggendong baby Aaron, Vefe memeriksa panggilan masuk yang sangat banyak terutama dari suami.


Yang pertama dihubungi adalah Daniel suami Erina. Menghubungi agar cepat datang ke rumah sakit. Laki-laki kakak angkat Vefe itu tadi bagi sedang mengantar barang pesanan online di sekitar Jakarta.


Menghubungi Khan setelah selesai membantu Erina dalam proses data pasien. Pasalnya tidak sempat membawa apapun ke rumah sakit saat berangkat tadi. Untungnya sudah ada data Erina di rumah sakit yang didatangi sehingga mempermudah proses selanjutnya.


"Mengapa tidak diangkat, Mami. Jangan buat Papi khawatir?" tanya Khan saat ponsel terhubung.


"Maaf ya, Pi. Tadi panik."


"Apa yang terjadi, di mana Mami sekarang?"


"Mami di rumah sakit."


"Papi ke sana sekarang!"


"Tunggu dulu, Papi!"


Ponsel langsung dimatikan oleh Khan tanpa menunggu lebih lanjut keterangan Vefe. Vefe kembali menghubungi Khan berkali-kali ingin menjelaskan lebih lanjut agar tidak khawatir. Sayangnya gantian sekarang Khan yang tidak menjawab panggilan Vefe.


"Sudahlah ... tunggu saja pasti sebentar lagi sampai sini," monolog Vefe sendiri sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Posisi Daniel jauh dari rumah sakit. Sedangkan Khan dan Asisten Satria posisi tidak jauh dari rumah sakit. Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, Khan sudah berlari dari parkiran mobil diikuti Asisten Satria dari belakang.


"Mami tidak apa-apa, apa yang terjadi, mengapa harus ada di sini?" tanya Khan dengan memberondong beberapa pertanyaan.


"Papi ... Mami mau menjelaskan dari tadi mengapa tidak diangkat?"


"Papi sangat khawatir, sudah tidak mendengar lagi ponsel yang berdering, Papi kira Mami yang sakit."


"Tidak ... Erina yang akan melahirkan."


Akhirnya Asisten Satria sekarang yang membantu seluruh proses administrasi. Sampai menunggu Daniel datang dan mengambil alih tanggung jawab.

__ADS_1


Daniel datang juga sambil berlari menuju ruang bersalin. Baru saja ingin masuk ruang bersalin, Ada suara bayi yang menangis dan menggema di seluruh ruangan. Suara bayi itu terdengar sampai luar ruang. "La ayah baru sampai kok sudah lahir saja, Nak?" kata Daniel masuk ruang bersalin.


__ADS_2