
Melihat Kak Mursida yang datang dengan emosi, Asisten Satria ikut emosi juga. Belum sempat masuk rumah dan belum bertemu dengan keluarga, ditambah rasa lelah setelah perjalanan jauh. Membuat Asisten Satria tidak bisa mengendalikan emosi.
"Ada apa Kak Mur mencari Tuan Khan?" tanya Asisten dengan suara keras.
Melihat Asisten Satria menjawab dengan marah, Kak Mursida terdiam sesaat. Pintu terbuka dari dalam, keluar Nina istri tercinta sambil tersenyum, "Mas ...." panggil Nina sambil memberikan kode dengan menggelengkan kepala.
Asisten Satria mengambil napas panjang. Emosinya bisa dikendalikan mendengar suara panggilan mesra dari sang istri tercinta. Bergegas masuk rumah tanpa memperdulikan Kak Mursida yang masih terpaku.
"Kak Mur, ayo masuk!"
"Kak Mur tidak ...?" wanita beranak satu itu tidak melanjutkan ucapannya saat melirik Asisten Satria yang berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
"Nanti Nina yang akan bertanya pada Mas Satria, ayo silakan masuk!"
Nina mengajak Kak Mursida dan duduk di ruang tamu. Menyapa baby Ara yang ada digendongan Kak Mursida, "Tunggu sebentar ya, Kak!"
"Terima kasih ya, Mbak."
Nina berlari menuju kamar menyusul Asisten Satria yang sudah berada di dalam kamar. Tidak ingin suami lebih marah dan emosi. Masuk sambil tersenyum agar semua bisa tenang dan aman.
Hampir setengah jam Nina dan Asisten Satria berada di kamar. Membiarkan Kak Mursida menunggu dengan putri kecilnya baby Ara. Lebih baik menurunkan emosi daripada marah didepan tamu.
Nina keluar kamar sendirian langsung menuju dapur untuk membuatkan es teh, "Maaf ya, Kak. Nina agak lama, silakan di minum dulu!"
"Iya tidak-apa-apa, terima kasih."
Kak Mursida langsung meminum es teh itu setengahnya. Nina duduk di samping Kak Mursida mengambil baby Ara dari pangkuan ibunya, "Cantiknya putri, Mama. Tadi sudah makan belum, Nak?"
"Sudah mamam ASI saja, Mama." Kak Mursida yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
"Kak Mur ke sini ingin bertemu dengan Tuan Khan?" tanya Nina dengan suara serius.
Kak Mursida hanya menjawab mengangguk. tangan dan matanya tertuju pada putrinya yang seolah mengajak bercanda. Mulut baby Ara bergerak menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Tadi Mas Satria bercerita pada Nina tentang Kak Mur, tentang Tuan Khan dan Nyonya Vefe juga."
__ADS_1
"Bercerita apa, Mbak?"
"Tentang Kak Mur yang terlihat mendekati Tuan Khan kembali, apakah itu benar?" tanya Nina terus terang.
Kak Mursida hanya terdiam sambil mengambil napas dalam-dalam. Matanya terlihat kosong dan wajah datar. Sangat terlihat bingung seolah antara hati dan pikirannya tidak bisa sejalan.
"Apakah Kak Mur tidak menyadari itu salah, ingat Tuan Khan sudah memiliki istri dan anak."
"Apakah sikap Kak Mur terlihat sekali?"
"Sangat terlihat sekali, Kak."
Nina terdiam saat Kak Mursida juga terdiam, Nina teringat saat suaminya bercerita dengan emosi. Meminta untuk berbicara dengan Kak Mursida sendiri sebagai sesama wanita. Meminta menasihati ibu satu anak itu agar tidak mengganggu rumah tangga Khan dan Vefe.
"Kak, maaf bukan Nina sok menasehati, tadi Mas Satria bercerita jika Tuan Khan merasa terganggu akhirnya memblokir nomor ponsel Kak Mur."
"Pantas Kak Mur menghubungi Mas Khan tidak pernah tersambung, nomor ponsel suami Mbak Nina juga tidak bisa dihubungi?"
"Memang kata Mas Satria tadi dua-duanya memblokir nomor Kak Mur karena kata mereka Kak Mur menghubungi tanpa mengenal waktu."
"Kak Mur salah ya, Mbak?"
Nina menceritakan jika Khan menganggap Kak Mur sebagai seorang kakak saja. Khan memandang karena Kak Mur adalah istri dari sahabat dalam satu perguruan silat. Menganggap baby Ara seperti keponakan sendiri.
Nina tidak bercerita tentang suaminya yang emosi karena Kak Mur yang seolah memaksakan kehendak sendiri. Ingin menjaga perasaan antar sahabat dan cara menempatkan diri, baik sebagai sahabat ataupun sebagai keluarga.
"Kak Mur tahu, saat ini Nyonya Ve sedang hamil lagi, Tuan Khan tidak mengizinkan istrinya pulang ke Jakarta sekarang?"
Mata Kak Mursida langsung terbelalak lebar seolah tidak percaya. Dari kemarin ingin menganggap baby Ara menjadi putri Khan. Karena Khan ingin memiliki anak perempuan.
"Apakah tidak pulang Karena ada Kak Mur?"
"Kalau itu Nina kurang tahu sih, Kak."
"Jadi mereka tidak akan pulang dalam waktu dekat ini?" tanya Kak Mursida.
__ADS_1
"Iya benar sekali, Kak. Kantor yang ada di Jakarta Mas Satria yang akan menangani."
"Sampai kapan mereka tunggal di Sulawesi?"
Nina juga tidak tahu, Kak. Kata Mas Satria sampai Tuan Khan sendiri yang mengizinkan Nyonya Ve aman naik pesawat."
"Apakah Vefe lemah dan mabuk berat?"
"Tidak juga sih, Kak. Nyonya Ve baik-baik saja. Kak Mur tahu sendiri bagaimana Tuan Khan itu sangat mencintai istrinya?"
Kak Mursida hanya mengangguk ragu, pikiran saat ini sedang berperang dengan hatinya. Hatinya ingin dekat dengan laki-laki itu. Hanya sayangnya yang disuka sudah memiliki keluarga.
Sesaat berpikir pada diri sendiri, tidak salah jika mencintai seseorang. Cinta adalah hak setiap orang yang memiliki rasa. Dari dulu sebelum menikah juga selalu itu prinsip yang dipegang.
"Kak ...?" panggil Nina karena melihat Kak Mursuda yang melamun.
"Ee iya ada apa?"
"Apa yang akan Kak Mur lakukan saat ini?"
"Apakah mencintai seseorang itu dilarang, Mbak Nina?"
Nina tersenyum kecut setelah mendengar pengakuan Kak Mur. Ternyata dugaan selama ini benar adanya. Ada tujuan dibalik kedatangan Kak Mursida di rumah atasan sang suami.
"Tidak ada yang melarang orang jatuh cinta, Kak. hanya sebaiknya bisa melihat siapa yang di cinta karena cinta juga tidak bisa dipaksakan. Dan satu lagi kurang tepat jika mencintai seseorang yang sudah memiliki istri."
Kembali Kak Mursida terdiam mendengar jawaban Nina. Namun hatinya seolah tidak bisa menerima apa yang dikatakan itu. Hati sudah terlanjur terpaut dan susah untuk berpaling.
"Apakah Vefe mengetahui tentang kecurigaan kalian?"
"Justru yang pertama mengetahui adalah Nyonya Ve, Kak. Tuan Khan emosi saat Mas Satria membenarkan dugaan Nyonya Vefe, maka itulah Tuan Khan memblokir nomor ponsel Kak Mur."
Kak Mursida mengerutkan keningnya sambil memandang baby Ara yang mulai terlelap dalam dekapan Nina. Teringat saat Khan menggendong baby Ara. Seolah membayangkan sumai Vefe itu sangat bahagia ketika baby Ara terlelap dalam gendongan.
Entah hanya pikiran atau obsesi, Hati Kak Mursida selalu nyaman saat berkunjung dan bertemu dengan Khan. Senyum dan tawa ayah baby Aaron itu selalu terlihat saat menggendong baby Ara. Sangat bangga jika putrinya langsung digendong walau baru datang dari kantor tanpa ragu.
__ADS_1
"Tetapi mengapa Mas Khan bersikap seolah senang saat Kak Mur datang, apalagi saat Mas Khan menggendong baby Ara. Matanya berbinar dan sangat bahagia."
"Ha, Kak Mur berpikir seperti itu?"