
Khan menggelengkan kepala saat ada tetangga yang mengajak ke rumah Eno. Mereka baru saja tiba perjalanan jauh belum sempat masuk rumah. Tidak mungkin tega juga istrinya diajak bertamu apalagi ke rumah wanita ganjen si Eno.
Dalam pikiran Khan, Vefe tidak mungkin berani menolak ajakan Bunda Fatia. Walaupun hatinya tidak suka pasti dia akan menyenangkan hati bundanya. Harus dirinya yang berbicara dengan Bunda Fatia dengan alasan yang tepat.
"Tunggu Bunda, kami baru datang, kasihan Ve belum beristirahat. Bunda bersama tetangga saja ya, Ve jangan diajak biar beristirahat dulu."
"Iya benar juga, istirahat sana dulu, Bunda berangkat berama mereka saja," jawab Bunda Fatia sambil mengusap perut Vefe yang sudah terlihat membuncit walaupun masih kecil.
Khan memeluk Vefe dari samping, "Ayo masuk dulu, Sayang!"
"Iya terima kasih, Mas."
"Pak Gun ajak Mpok Ria beristirahat di kamar!" perintah Khan.
"Ya terima kasih, Tuan."
Pak Gun memiliki kamar sendiri di rumah utama milik orang tua Khan. Kamar itu sudah dimiliki Pak Gun semenjak dia menjadi pengasuh pribadi Khan sejak SD. Dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Khan beristirahat di kamar dan bersantai tanpa ke luar kamar. Pak Gun yang tidak biasa berdiam diri di kamar. Mengajak Mpok Ria mengenali rumah utama dan berkeliling.
Ada teras samping yang terlihat setengah tertutup karena rimbunnya tanaman pohon sirih. Mpok Ria duduk di sana setelah selesai berkeliling, Pak Gun memilih membatu memasak di dapur bibi yang sedang menyiapkan makan malam nanti.
Mpok Ria sedang asyik berselfi menunjukkan megahnya rumah Bunda Fatia. Ada seorang wanita Dewasa yang mengendap-endap datang sambil berbicara sendiri. Mungkin bagi orang yang tidak tuna rungu seperti Mpok Ria pasti akan mendengar yang diucapkan wanita itu.
Mpok Ria tidak kehabisan akal. Walaupun tidak mendengar, Vedio pasti bisa merekam apa yang dia lakukan. Dari balik pohon sirih Mpok Ria merekam semua gerak-geriknya.
Sampai datang anak laki-laki kecil yang lewat dan mendekati wanita itu. Mpok Ria masih merekam dan terus merekam tanpa di ketahui. Rekaman berakhir setelah wanita dewasa itu memberikan uang dan meninggalkan tempat serta pergi menjauh.
Satu jam kemudian, anak laki-laki mengetuk pintu rumah Khan. Kebetulan ada Khan dan Vefe yang berbincang dengan Pak Gun serta Mpok Ria di ruang keluarga, "Ini oleh-oleh roti dan sirup khusus untuk Mas Khan," katanya.
Mpok Ria melihat anak-laki itu langsung menyenggol lengan Vefe. Dia mengatakan dengan bahasa isyarat tentang kejadian di samping rumah. Dia menunjukkan rekaman vedio yang ada di dalam ponselnya.
__ADS_1
"Coba Ve lihat, Mpok. Apa yang direncanakan oleh orang yang Mpok Ria curigai!" Mpok Ria langsung memberikan ponsel miliknya.
Vefe membelalakkan matanya saat baru membuka vedio ponsel milik Mpok Ria, "Mas, lihatlah dia Eno!"
"Mau ngapain dia?" tanya Khan.
"Ayo kita dengarkan!"
Yang pertama dilihat dan didengar adalah Eno sedang membawa roti satu bungkus dan satu botol sirup sambil bermonolog sendiri, "Kamu datang di waktu yang tepat Mas Khan, cinta ditolak dukun bertindak."
Eno menaburkan sesuatu di lantai yang ada di samping ruma Khan. Seperti tanah berwarna hitam dan ditaburkan dari dinding depan sampai pertengahan, sambil bermonolog lagi, "Setelah ini kamu akan tergila-gila padaku."
Saat ada anak laki-laki tetangga Eno memanggilnya, "Reneo Rek, Kon arep duwet ora?"
"Iya aku mau."
"Ini berikan pada Mas Khan ya, ingat ini khusus untuk Mas Khan. Berikan satu jam lagi dari sekarang, kamu bilang oleh-oleh dari mama kamu."
"Nich ...!" Eno memberikan uang satu lembar merah gambar pahlawan Soekarno Hatta.
"Waaah rezeki nomplok. Siap laksanakan." Anak laki-laki itu semangat.
Eno meninggalkan rumah Khan sambil bermonolog sendri, "Setelah kamu meminum sirup ini, kamu akan selalu teringat dan mengejarku Mas Khan."
Selesai menonton vedio dari Mpok Ria. Mereka langsung tertawa sambil mengacungkan dua jempol untuk Mpok Ria. Bahkan Pak Gun tanpa sungkan menciumi pipi Mpok Ria berkali-kali.
Mpok Ria tersenyum malu-malu sambil bertanya apa yang terjadi dengan menggunakan bahasa isyarat. Vefe langsung menceritakan dengan cepat isi vedio itu. Hanya Vefe yang sangat faham bahasa isyarat sedangkan Khan dan Pak Gun masih terbatas.
Mpok Ria tertawa walaupun telat karena baru memahami isi rekaman setelah diceritakan Vefe. Idenya merekam ternyata sangat bermanfaat. Padahal awalnya hanya iseng karena mencurigakan.
Khan langsung teringat dengan Cak Mus, si kakek tua yang hobinya merayu janda. Tukang parkir supermarket dekat rumah. Cak Mus hidup sendiri di rumah yang ada di belakang rumah Bunda Fatia.
__ADS_1
Biasanya jika ada Ayah Jose, dia sering berkunjung ke rumah dan sering bermain karambol. Pemain karambol yang ulung dan jarang terkalahkan kecuali dengan Ayah Jose. Dengan Khan dan Pak Gunpun tetap dimenangkan oleh Cak Mus.
"Cak Mus ...!" teriak Khan dan Pak Gun Bersamaan.
Sambil bergelak mereka membuat rencana untuk membertikan roti dan sirup untuknya. Pasti dengan senang hati dia akan suka. Tipe wanita seperti Eno adalah salah satu favorit Cak Mus.
Kebetulan mereka bertemu dengan Cak Mus setelah magrib berjama'ah. Dengan senang hati datang karena di tantang main karambol. Apalagi ditambah mendapatkan makan malam.
"Sopo arek ayu seng dirayu karo Cak Mus saiki?" tanya Khan.
"Iku arek'e Bu Darsono," jawab Cak Mus singkat.
"Waaah cocok, ayo minum dulu!" perintah Pak Gun memberikan sirup dari Eno.
"Matur suwun, Cak Gun." Cak Mus meminup satu botol sirup dalam sekali tenggak sudah habis tanpa sisa.
Mereka bertiga mulai main karambol di teras rumah. Sambil bercanda dan adu ketangkasan. Khan yang sudah lama tidak bermain selalu saja memperhatikan tak-tik Cak Mus untuk bisa mengalahkannya.
Sekali dua kali Khan dan Pak Gun selalu kalah. Kemampuan Cak Mus memang tidak bisa diremehkan. Mungkin karena dia sering bermain permainan sederhana tetapi butuh strategi untuk menguasainya.
Sambil memperhatikan reaksi dari sirup yang diberikan oleh Pak Gun. Bagi anak jaman sekarang sudah jarang percaya tentang dukun atau pelet. Seperti pelet semar mendem dan yang lainnya entah apa namanya.
Hanya Allah yang maha tahu tentang ilmu gaib itu. Nyatanya setelah satu jam berlalu tidak ada reaksi dari minuman itu. Cak Mus masih saja menang dalam permainan karambol.
"Istirahat dulu, makan roti biar lebih semangat mainnya!" Khan memberikan satu bungkus teman dari sirup tadi.
"Matur suwun, pean ora melu mangan iki?"
"Kon wae aku wes," jawab Khan singkat.
Satu bungkus langsung habis dimakan oleh Cak Mus kurang dari lima menit. Ada wanita lewat di depan rumah, "Opo iku arek'e Bu Dar. Ayu tenan yo?"
__ADS_1