Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 84. Akad Nikah


__ADS_3

Persiapan demi persiapan di lakukan oleh Asisten Satria diluar jam kerja hampir selesai. Konsep yang di usulkan Khan tentang putri salju dan kurcaci dilakukan dengan baik oleh Asisten Satria.


Jika di dongeng putri salju ada tujuh kurcaci. Di konsep akad nikah dan pernikahan Khan dan Vefe kurcacinya ada lebih dari empat puluh kurcaci. Semua anak panti asuhan dipersiapkan menjadi kurcaci.


Konsep sederhana menurut keluarga Bunda Fatia. Sangat mewah menurut Vefe dan Umi Maryam. Bahkan terlalu mewah untuk ukuran penghuni panti asuhan.


Dua hari sebelum hari H, panti asuhan di sulap menjadi istana puri salju. Setiap kamar milik anak-anak di hias menjadi kamar kurcaci yang sangat mewah. Ini bukan hanya pengantin yang bahagia, seluruh penghuni panti asuhan ikut merasa bangga.


Dua hari juga Khan dilarang bertemu Vefe. Khan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Gelisah, resah dan merana. Ponsel Khan di sita oleh Bunda Fatia, ponsel Vefe di sita oleh Umi Maryam.


Dua ibu yang kompak untuk membuat pasangan pengantin gelisah dan bingung. Terutama Khan setiap saat selalu mondar-mandir hanya untuk sekedar mengurangi kegelisahannya. Rasa rindu sudah tidak bisa dibendung lagi.


Malam ini adalah malam terakhir bagi Khan tidak bisa bertemu dengan kekasih hati. Hampir semalaman tidak bisa tidur karena menahan rindu. Otaknya semakin terkontaminasi cerita Doni Prawira.


Selalu memikirkan bagaimana cara berciuman di bibir. Memikirkan apa yang dilakukan saat MP. Dan masih banyak yang dipikirkan oleh Khan.


Setelah subuh, Khan baru bisa memejamkan mata. Pagi pukul tujuh sudah harus bangun untuk mempersiapkan akad nikah jam sembilan pagi. Hanya sayangnya semua tidak sesuai prediksi karena Khan bangun pukul delapan pagi.


Jika tidak di bangunkan oleh Pak Gun mungkin Khan akan tidak bisa datang tepat waktu. Sedangkan Bunda Fatia masih berdandan dengan perias langganannya.


"Aaaah ... Bodohnya kamu Khan!" monolog Khan sambil memukul kepalanya sendiri dan berlari menuju kamar mandi.


Khan mandi hanya kurang dari lima menit, dia keluar kamar mandi. Bergegas memakai baju yang sudah di persiapkan. Dengan sengaja memakai parfum agak banyak karena mandi hanya mandi bebek saja.


Saat Bunda Fatia masuk kamar Khan, bau menyengat di seluruh kamar. Bunda Fatia langsung menutup hidung, "Khan apa-apaan ini, mengapa bau parfum sampai seperti ini?"


"Maafkan Khan, Bun. Gara-gara tadi malam tidak bisa tidur, Khan bangun kesiangan jadi mandi bebek."


"Mengapa tidak bisa tidur, bukankah tadi malam Bunda sudah bilang cepat istirahat biar hari ini badan fit?"


"Khan tidak bisa tidur gara-gara Bunda melarang Khan bertemu Vefe."

__ADS_1


"Eeee mengapa menyalahkan Bunda?"


"Iya dong, Bun. Khan sangat merindukan Ve."


"Alasan saja ayo kita berangkat!"


"Tunggu dulu, Bun. di mana mas kawin yang Bunda beli kemarin?"


Untung tadi malam sudah dipersiapkan oleh Bunda Fatia. Diserahkan kepada Pak Gun agar tidak tertinggal, "Sudah di bawa oleh Pak Gun ayo berangkat!"


Bunda Fatia, Ayah Jose, Pak Gun dan Khan menggunakan satu mobil. Asisten Satria dan keluarga di tambah Pak Bowo dan Pak Umar berangkat dengan satu mobil lagi.


Untuk akad nikah Vefe menggunakan kebaya modern berwarna putih. Rancangan disainer terkenal dan model yang sederhana sesuai dengan kepribadian Vefe. Wajahnya terlihat bersinar dan anggun dengan riasan yang sesuai dengan karakter Vefe.


Penghulu dan petugas dari KUA sudah hadir dan duduk menunggu pihak pengantin pria. Vefe sudah selesai berdandan dan duduk di kamarnya di temani Erina dan Mpok Ria. Ada rasa gelisah mendengar pengantin pria yang tak kunjung datang.


Umi Maryam mondar-mandir dengan gelisah ditemani oleh Daniel. Cemas dan gelisah karena Khan dan rombongan pengantin Pria yang masih dalam perjalanan. Berkali-kali menghubungi Bunda Fatia dan bertanya sampai di mana.


Molor setengah jam dari jadwal semula. Akhirnya akad nikah di mulai. Setelah Khan duduk di hadapan Pak Penghulu. Mata Khan selalu melirik kearah belakang dan kamar Vefe.


Di buka dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci. Dibacakan oleh Gi dan Ji senagai Qori dan Qori'ah. Pengantin wanita masih di dalam kamar sampai pembacaan ayat suci selesai.


Setelah pengantin wanita keluar dari kamar dan duduk di samping penganti pria. Khan memandang Vefe tanpa berkedip. Netranya tertuju pada wajah yang terlihat sempurna. Senyumnya seolah telah membuatnya lupa dengan segalanya.


Rindunya selama dua hari tidak bertemu langsung terobati saaat vefe duduk disampingnya. Ingin rasanya menariknya dalam pelukan jika tidak ada banyak orang.


Pak Penghulu langsung bertanya, "Baik ... Bisa kita mulai?"


"Ya silahkan, Pak."


Pak Penghulu menjabat tangan Khan dengan erat, "Abang pengantin, Anda sudah siap?"

__ADS_1


"Insyaallah siap, Pak"


"Saudara Alkakhan Jose Purnomo bin Jose Purnomo, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Vena Fatmala binti Fulan dengan mas kawin sepeangkat perhiasan emas seberat 50 gram di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Vena Fatmala binti Fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para hadirin, apakah sah?"


"Saaaaah ...!" di jawab oleh semua yang hadir dengan kkompak.


"Alhamdulillah,"


Doa dipanjatkan untuk kedua mempelai, pembacaan janji dari pengantin pria. Di lanjutkan dengan penandatanganan buku nikah. Khutbah nikah disampaikan oleh pak penghulu.


Khan langsung menghadap Vefe untuk menyerahkan mas kawin yang dibeli Bunda Fatia di Mekah. Vefe mencium punggung tangan Khan dilanjutkan Khan mencium kening Vefe.


Linangan air mata Vefe tak terbendung setelah acara meminta doa restu orang tua. Saat mencium punggung tangan Bunda Fatia dan Ayah Jose Vefe masih bisa menahan diri. Saat Umi Maryam dan Mpok Ria memeluk Vefe secara bergantian, isak tangis Vefe semakin terdengar.


Momen terpenting dalam hidup tetapi tidak adanya pemdampingan orang tua kandung. Tidak mengenal nama orang tua dan wajah mereka. Semakin membuat Vefe terisak dan sedih.


"Semoga sakinah, mawadah warohmah. Berbaktilah kepada suamimu, anggap Bunda Fatia dan Ayah Jose seperti orang tua kandung, patuhi mereka," nasehat Umi Maryam.


Vefe mengangguk dan terus terisak. Mpok Ria memeluk Vefe dan mengucapkan selamat dengan bahasa istyarat. Bergantian Erina, Daniel dan seluruh anggota panti asuhan memberikan selamat.


Khan menggandeng tangan kiri Vefe setelah semua mengucapkan selamat. Saat para tamu sedang menikmati hidangan. Khan dan Vefe masuk kamar untuk berganti baju.


Sebelum MUA datang membawa gaun penganti gaun pengantin modern Khan memeluk Vefe dengan erat melepas rindu dua hari tidak bertemu, "Mas sangat tersiksa dua hari tidak bertemu, Mas sangat merindukan Ve."


"Mas ... Sebentar lagi MUA datang nanti saja kangen-kangenannya."


"Ve juga sudah tidak sabar ya MP?"

__ADS_1


"Aais Mas ini ...mulai lagi!"


__ADS_2