
Terkadang jika seseorang berada di puncak karier tidak sadar jika roda kehidupan akan selalu berputar. Tidak mengenal lawan atau kawan sebagian besar mereka akan lebih memilih waspada. Banyak yang memanfaatkan kedudukan demi kehidupan yang lebih layak.
Demikian juga dengan keluarga ketua anggota dewan. Mereka selalu waspada dan melihat tujuan orang jika ingin dekat dengan keluarga. Hanya sayangnya mereka tidak melihat siapa yang dihadapi sekarang.
Tanpa menyelidiki latar belakang Mommy Astrid. Keluarga ketua anggota dewan langsung mencurigai karena pengalaman masa lalu. Mereka pernah di posisi sulit saat Mommy Astrid berhubungan dengan Gunawan Raharjanto.
"Sekali lagi maafkan kami, banyak orang yang memiliki tujuan tertentu saat mendekati keluarga kami."
Khan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Salah alamat jika keluarga ketua anggota dewan itu mencurigai Mommy Astrid atau Vefe. Rasanya Khan sedikit tersinggung mendengar perkataan tante dari istrinya.
"Istri saya hanya ingin mengenal keluarga kandungnya, tidak lebih dari itu. Harta, nama dan kedudukan itu sudah kami miliki. Anda tidak perlu khawatir."
Darwati Raharjanto hanya bisa menunduk dan terdiam. Mendengar ucapan Khan rasanya malu dan tidak enak hati. Jika dibandingkan dengan keluarga orang yang ada di hadapannya tidak ada sepersepuluhnya harta, kedudukan dan nama besarnya.
"Sekarang Anda sudah tahu jika istri saya adalah keponakan Anda, atau ayah Anda masih ingin membuktikan dengan tes DNA misalnya?"
"Tidak perlu, hanya melihat wajahnya saja saya sudah yakin."
"Jadi ...?"
"Apakah boleh sekarang saya bertemu dengan putri dari Almarhum Mas Igun?"
__ADS_1
"Tentu saja, ingin ke rumah saya atau ...?"
Khan belum sempat melanjutkan ucapannya, wanita seumuran Mommy Astrid itu langsung memotong ucapannya, "Saya minta alamat saja, saya akan ke sana sendiri."
"Anda membawa mobil sendiri?"
"Iya saya membawa mobil sendiri, oya sebaiknya jangan terlalu formal, boleh Nak Khan panggil Tante Wati saja!"
Khan kembali tersenyum mendengar Darwati Raharjanto sekarang menjadi sok akrab setelah mengetahui cerita yang sebenarnya. Sangat bertolak belakang dengan sikapnya kemarin. Namun harus bisa menurunkan ego demi istri tercinta.
"Baiklah ... ini kartu nama saya, Tante yakin ke rumah sendiri?"
"Iya sangat yakin. Alamat ini sering Tante lewati," katanya sambil membaca kartu nama Khan.
Teringat saat Vefe termenung dan mencoba menyembunyikan kegundahan hati. Tetap saja sangat tahu apa yang di rasakan oleh belahan jiwa. Hanya saja pura-pura tidak tahu agar istrinya merasa tidak enak hati.
"Aaah menghubungi Bunda saja!" monolog Khan sendiri sambil membuka ponselnya.
Kebetulan Bunda Fatia sedang berada di kamar berdua bersama Ayah Jose. Setelah mendapatkan kabar jika akan ada tamu datang sebentar. Mereka merencanakan menemui putri dari ketua anggota dewan sebelum bertemu dengan Vefe.
"Sebaiknya diselidiki dulu, Bun!"
__ADS_1
"Iya pasti itu, Yah. Sebenarnya Bunda masih sakit hati gara-gara kemarin."
"Eee maksud Ayah bukan karena kemarin, tetapi mengapa hanya dalam waktu sehari mereka langsung berubah pikiran?"
Sambil tergelak Bunda Fatia menjawab, "Jelas berubah pikiran, berita hadiah putra kita tranding di media sosial!"
"Oooo ... Ayah jadi teringat Yosi, dulu waktu kecil seperti Ve, pintar mudah bergaul tetapi sering tidak percaya diri karena kami beda ayah."
"Sudah jangan mengingat masa lalu, ayo kita ke depan. Jangan sampai tamunya bertemu dengan Vefe atau Mommy Astrid terlebih dahulu!"
"Ok ayo cepat!"
Saat Bunda Fatia dan Ayah Jose berjalan ke luar pintu utama. Mereka melihat Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen sedang duduk di teras samping rumah. Dari sana sangat terlihat jelas jika ada tamu.
"Gawat nich, Yah. pasti mereka tahu kalau nanti tamunya datang ke sini!"
"Ayah yang akan mengalihkan perhatian mereka untuk sementara. Bunda sana pergi ke security pura-pura meminta bantuan pada mereka!"
"Ide bagus ... cepat Ayah sana buruan!"
Belum sempat Ayah Jose berjalan menuju teras samping. Ada mobil yang berhenti di depan pintu gerbang. Mobil itu membunyikan klakson untuk meminta di bukakan pintu gerbang.
__ADS_1
"Ayah ... bagaimana ini dia sudah datang?"