Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 198. Deposito


__ADS_3

"Tunggu dulu, Kak Farah. Jangan emosi dan su'uzon dulu, apakah sudah menghubungi dia?"


"Sudah puluhan kali menghubungi dia, bahkan Jeng Wulan juga tidak bisa dihubungi."


"Hanya dengan tidak bisa menghubungi laki, Kak Farah menyimpulkan Keduanya ada hubungan gelap."


Vefe dan Khan kembali saling pandang, walaupun tidak ikut berinteraksi mereka bisa menyimpulkan kemungkinan mereka bersama memang ada. Namun apakah mungkin baru kenal dua kali mereka langsung nekat berdua menghabiskan waktu?


"Apakah Eno itu mudah tergoda dengan orang tajir, Papi?" bisik Vefe di telinga Khan.


"Papi juga tidak tahu, yang tahu sifat dia Asisten Satria, ayo kita pulang nanti Mami tanya Asisten Satria saja."


Sebelum Khan pulang berpesan kepada Tante Suprapti Raharjanto untuk menarik sebagian investasi di koperasi kumpulan Eno. Menyarankan untuk berinvestasi pada tempat yang resmi saja. Akan lebih aman dan resikonya lebih kecil.


Khan dan Vefe berpamitan kepada sang kakek di rumah utama, "Kek ... kami pulang dulu," pamit Vefe sambil meraih dan mencium punggung tangannya.


"Tunggu sebentar, ayo masuk kantor Kakek. Ada yang ingin Kakek bicarakan dengan kalian!"


"Ada apa, Kek?"

__ADS_1


Mereka mengikuti langkah Kakek Raharjanto masuk kantor pribadi yang ada di samping kamar tidur. Ruangan yang dindingnya sebagian besar terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas Jepara. Vefe dan Khan langsung duduk di kursi kayu jati panjang di pojok kantor.


"Ini semua milik Ayah Igun semasa hidup, masih Kakek simpan dengan rapi. Sekarang Kakek serahkan kepada Ve." Kakek Raharjanto menyerahkan kotak kayu berbentuk persegi panjang.


"Apa ini, Kek?" tanya Vefe.


"Buka saja sendiri!"


Dalam kotak kayu itu ada beberapa kertas dalam amplop. Foto dan ada juga sepasang cincin yang ada di kotak perhiasan kecil. Ada juga ijazah Ayah Igun dan dokumen penting semasa hidup.


Yang pertama Vefe lihat adalah sepasang cincin yang ada di kotak perhiasan kecil. Di cincin itu ada tulisan Astrid dan Igun yang terukir di sisi dalamnya. Kemungkinan cincin itu adalah keseriusan Ayah Igun ingin segera menikahi Mommy Astrid.


"Apakah boleh cincin ini Ve berikan kepada Mommy, Kakek?" tanya Vefe sambil mengembalikan cincin itu pada tempatnya.


"Terima kasih."


Vefe membuka satu amplop yang terlihat beda di antara amplop yang lain. Dalam amplopnya itu ada dua lembar dengan tulisan deposito. Jika di lihat isi nominal tidak seberapa.


Jaman dahulu uang nominal itu sangat banyak. Namun jika dinilai dengan nominal sekarang. Akan menjadi berpuluh kali lipat dan dengan jumlah yang fantastis.

__ADS_1


"Ini sebaiknya untuk Kakek saja," Vefe menyerahkan amplop itu kepada Kakek Raharjanto.


"Tidak dong, Nak. Itu Ve yang berhak ... dulu rencana akan dipakai untuk pernikahan, belum sempat dicairkan sayangnya ayahmu berpulang duluan," cerita Kakek Raharjanto.


"Apakah Mommy tahu tentang deposito ini?"


"Kakek juga tidak tahu."


Khan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Kakek Raharjanto. Jika mendengar cerita masa lalu kehidupan keluarga Ayah Igun. Kemungkinan itu tabungan berdua dengan Mommy Astrid.


Waktu dulu keluarga dan orang tua Mommy Astrid termasuk orang berada. Sedangkan keluarga Ayah Igun sederhana. Bisa disimpulkan kemungkinan tabungan itu untuk persiapan pernikahan keduanya.


"Sebaiknya Mami hubungi Mommy Astrid, ini bukan masalah nilai nominal yang ada, tetapi kemungkinan perjuangan untuk mengumpulkan uang ini yang menjadi kenangan tersendiri untuk beliau," saran Khan.


Kakek Raharjanto tersenyum dan mengangguk. Karena menyadari uang itu sangat besar pada waktu dulu. Dan tidak mengetahui itu uang berasal dari mana karena putranya tidak cerita.


Sehingga sampai sekarang Kakek Raharjanto tidak pernah memakai uang keuntungan dari deposito itu. Setiap jatuh tempo hanya memeriksa di bank saja tanpa diambil. Semakin tahun jumlah yang ada semakin bertambah besar.


"Kakek setuju dengan usul Nak Khan, silahkan saja hubungi dia!"

__ADS_1


Vefe termenung mendengar persetujuan dari Kakek Raharjanto. Sampai saat ini Kakek Raharjanto belum pernah bertemu dengan Mommy Astrid. Vefe ingin sekali keduanya bertemu dan saling memaafkan.


"Apakah Kakek mau menemui Mommy, kita cerita berdua?"


__ADS_2