
Khan dan Vefe hanya menggunakan kamar Pengantin selama dua jam saja. Hanya untuk sekali berburu dan beristirahat sejenak. Tamu undangan masih datang silih berganti saat mereka keluar dari kamar Pengantin.
"Mas sih, pengantin saja belum melakukan MP, kita sudah memakai kamar mereka," gerutu Vefe.
"Anggap saja kita sedang nostalgia saat malam pertama dulu, Sayang."
"Kasihan pengantinnya, Mas. tempat tidurnya terlihat kusut gara-gara Mas terlalu bersemangat."
"Ternyata kamar juga memengaruhi aksi tombak tomahawk, dia sangat bersemangat dan rasanya berbeda, coba ada kamar mandi mungkin Mas akan minta tambah lagi."
"Eeee dasar mesum, ayo pulang!"
Biasanya setelah berburu Khan dan Vefe akan berendam di buth-up dengan air hangat dan sabun aroma terapi. Dengan terpaksa harus langsung mengenakan pakainnya kembali dan keluar kamar pengantin. Saat ke luar kamar masih ada tamu undangan yang datang karena waktu masih menunjukkan pukul tiga sore.
Umur kandungan Vefe memasuki bulan terakhir masa kehamilannya. Dia sering mengalami bengkak kaki jika terlalu capek saat berjalan atau duduk terlalu lama. Sudah diimbangi dengan olahraga ibu hamil tetapi tetap saja kakinya mengalami bengkak kaki gajah.
Khan berpamitan pulang kepada ke dua pesangan pengantin. Berpamitan juga dengan ke dua orang tua Daniel dengan alasan akan beristirahat karena kaki mulai membengkak.
Khan dan Vefe juga berpamitan kepada Umi Maryam sebelum pulang, "Umi, kami pulang dulu ya," pamit Khan sambil meraih dan mencium punggung tangannya.
"Mengapa pulang sih, Nak. Acaranya belum selesai?"
"Maaf Umi, kaki Ve mulai bengkak, jadi dia harus beristirahat."
Umi Maryam langsung melihat kaki Vefe yangterlihat mulai membesar, "Iya betul, ya sudah sana pulang saja!" perintah Umi Maryam.
"Kami pulang dulu ya, Umi. Assalamualaikum." Vefe juga meraih dan mencium punggung tangan Umi Maryam.
"Walaikum salam, jangan lupa sampai di rumah kakinya di rendam dengan air hangat dan sedikit garam seperti kemarin ya, Nak!"
"Baik Umi."
Khan yang tersenyum devil mendengar perintah Umi Maryam untuk merendam kaki dengan air haangat. Lebih asyik dengan terapinya daripada terapi yang diusulkan Umi Maryam. Khan langsung berbisik di telinga Vefe, "Lebih mujarap terapi rileks Mas daripada terapi Umi."
Tangan Vefe langsung mencapit lengan Khan dengan keras. Membuat kaget Khan dan berteriak, "Aaauw ... sakit, Sayang!"
__ADS_1
"Biarin, Mas sih maunya mesum terus."
Umi Maryam juga ikut tersentak kaget mendegar suara dan teriakan Khan, "Ada apa, Nak?"
"Ada capit kepiting yang mencapit lengan Khan, Umi."
Umi Maryam tergelak dan menggelengkan kepala melihat Khan yang terus mengusap lengannya. Ada rasa bahagia melihat kebahagiaan putri dan menantunya.
Vefe langsung melenggang keluar rumah Erina meninggalkan Khan yang masih mengusap lengan, "Sayang, tunggu!"
"Ayo cepat, Mas. Ve pingin cepat mandi, tidak enak rasanya lengket."
"Apanya yang lengket, Sayang?"
"Tahu aaah!"
Sampai di rumah Vefe langsung mandi dan berendam di buth-up dengan sabun aroma terapi. Ingin mengistirahatkan badannya dengan setangah jam ada di air hangat. Rasa arileks dan nyaman saat badannya berada di sabun yang aromanya sangat menenangkan hati.
Khan berniat untuk memanjakan istrinya. Sayangnya di rumah tidak ada Pak Gun dan Mpok Ria yang ada di dapur, mereka masih di rumah Erina. Yang ada hanya dua security dan tukang kebun yang ada di luar rumah.
Khan merebus air menjadi hangat dan menuangkan air itu di baskom. Berniat ingin memberikan garam sesuai takaran yang di perintahkan oleh Umi Maryam. Garam satu botol tanpa sengaja masuk semua dalam baskom karena tutup botol terjatuh saat Khan membalikkan botolnya.
"Waduh ... habis deh garamnya," monolog Khan sendiri.
Vefe keluar kamar menggunakan handuk baju dan handuk kecil untuk menutupi rambutnya yang basah. Bersamaan Khan datang membawa air hangat di baskom. Dia langsung meletakkan baskom di dekat kaki Vefe.
"Ayo ... Sayang direndam dulu kakinya!"
"Terima kasih, Mas. Ini Mas sendiri yang memersiapkannya?"
"Iya dong, Mas ini suami siaga lho."
Vefe duduk di kursi rias dan langsung mengankat kakinya untuk dimasukkan ke dalam baskom. Vefe meletakkan kembali kakinya di luar baskom saat melihat air hangat di baskom itu terlihat keruh.
"Mas ... Mengapa airnya keruh begini?"
__ADS_1
Khan nyengir kuda sambil melihat air hangat yang ada di baskom karena kebanyakan garam, "Maaf ... Sayang, tadi saat akan menumpahkan garam tanpa sengaja satu botol masuk semua ke baskom."
Vefe tergelak mendengar jawaban Khan, "Mas mau membuat kaki Ve menjadi ikan asin, mengapa garam setengah kilo di masukkan di sini?"
"Eeee jadi bagaimana dong?"
"Terserah Mas saja, Ve tidak jadi merendam kaki lebih baik Ve ganti baju saja."
Khan mengerutkan keningnya berpikir cara mengganti air garam menjadi air hangat seperti yang dibuat oleh Umi Maryam, "Tunggu dulu, Sayang. Mas punya ide. Mas buatkan satu lagi yang seperti Umi Maryam buat."
Khan keluar kamar dan berlari ke dapur untuk mengambil satu baskom lagi. Vefe berganti baju hamil, setelah selesai duduk di sofa panjang. Dia sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah saat Khan datang membawa satu baskom kosong.
"Tunggu dulu, Sayang. Mas ambil air hangat dari shower kamar mandi saja."
Vefe hanya mengangguk dan tersenyum, ide suaminya patut diacungi jempol. Tidak harus merebus air terlebih dahulu bisa memanfaatkan kran air yang berisi air hangat di kamar mandi. Dia datang dan meletakkan air hangat di dekat kaki Vefe.
"Jangan di masukkan dulu kakinya ya, Mas akan menambah air dari baskom pertama tadi sedikit untuk bisa bercampur dengan air garam!"
"Iya ...."
Khan menuangkan sedikit air dari baskom pertama dan sisanya dibuang di kamar mandi, "Sudah siap sekarang, Sayang. Ayo sini masuk kakinya!"
"Terima kasih, Mas."
Khan duduk di samping Vefe sambil memeluk pinggangnya, "Sebenarnya Mas lepih setuju dengan terapi rileks saja karena lebih mengayikkan."
"Jangan mulai lagi, Mas. Ini beda dengan terapi Mas Khan."
"Kalau Ve pilih mana, terapi rileks atau terapi rendam kaki?"
Belum sempat Vefe menjawab pertanyaan Khan ada ketukan pintu dari luar. Khan langsung membuka pintu dengan cepat. Ada Pak Gun yang datang dengan membawa baskom kosong.
"Ada apa, Pak Gun?"
"Maafkan saya, Tuan. Tadi saya di perintahkan oleh Umi Maryam untuk membuat air hangat dan di tambahkan garam, tetapi saya tidak bisa langsung membuatnya karena saya kehilangan garam di dapur."
__ADS_1
"Ha ha ha ...!" Khan dan Vefe tergelak bersama.